tirto.id - Como 1907 memberi kejutan pada matchday pertama Liga Champions Eropa (UCL) 2026/2027. Berstatus sebagai salah satu tim debutan, I Lariani menang mutlak 4-1 atas RB Leipzig, salah satu tim papan atas Liga Jerman (Bundesliga).
Sementara musim lalu, sejatinya Como juga sukses menggemparkan Liga Italia (Serie A) 2025/2026 dengan merebut tiket lolos ke UCL untuk pertama kali. Como finis peringkat 4 di klasemen akhir Serie A, menggeser 2 klub elite seperti AC Milan dan Juventus.
Secara historis, masa lalu Como lebih banyak diwarnai perjuangan keras di kompetisi strata bawah. I Lariani baru mencicipi atmosfer Serie A sebanyak 15 musim, mereka bahkan sempat terlempar ke Serie D pada 2005 dan 2017.
Tapi usai kembali promosi ke Serie A pada musim 2024/2025, Como perlahan bangkit lalu kini mulai diperhitungkan sebagai tim kuda hitam. Mampukah mereka mempertahankan konsistensinya, lalu apakah musim ini giliran Como mengguncang Liga Champions Eropa?
Bukan Sembarang Tim Kejutan
Titik balik bersejarah bagi Como 1907 terjadi pada April 2019. Sent Entertainment Ltd., perusahaan media berbasis di London yang terafiliasi dengan Djarum Group milik keluarga Hartono, mengambil alih kepemilikan klub.
Como memulai perjuangan menuju Serie A dari kompetisi strata terbawah Liga Italia, Serie D. I Lariani sukses menyegel gelar juara Serie D pada musim pertama kepemilikan baru, sekaligus promosi ke Serie C untuk musim 2019/2020.
Pada musim 2020/2021, Como berhasil meraih tiket promosi ke Serie B usai menjuarai Serie C. Como sempat bertarung sengit di Serie B selama 3 musim, kemudian akhirnya promosi ke Serie A musim 2023/2024. Como kembali ke strata tertinggi Liga Italia usai absen selama 21 tahun.

Meski baru promosi ke Serie A, Como tidak butuh adaptasi lama untuk bersaing di papas atas. Di bawah komando juru taktik muda, Cesc Fabregas, Como menjelma menjadi tim kuda hitam di kasta tertinggi Liga Italia.
Pada musim pertama, Fabregas membawa Como finis peringkat ke-10 klasemen Serie A 2024/2025. Berikutnya Fabregas mengantar Como finis peringkat ke-4 klasemen akhir Serie A 2025/2026, sekaligus merebut tiket lolos ke Liga Champions.
Istimewanya, Como memenangkan persaingan tiket UCL dengan menyingkirkan 2 klub elite yakni Juventus dan AC Milan, yang dipaksa tampil di Europa League. Kini pada musim pertama Como tampil di UCL, mereka langsung membuat kejutan dengan memetik hasil maksimal.
Tim asuhan Cesc Fabregas sukses mendulang 3 poin pada matchday pertama UCL 2026/2027. Mereka menang mutlak 4-1 atas tim peringkat 3 Liga Jerman, RB Leipzig, pada Jumat (11/9/2026) di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como.
Kemenangan atas Leipzig menjadi awal manis bagi Como di UCL, terlebih mereka tampil di hadapan pendukung sendiri. Namun ujian sebenarnya baru dimulai, karena Como akan berjumpa dengan deretan lawan berat, seperti: PSG, Barcelona, juga Manchester United.
Sinergi Dalam Diri I Lariani
Keberhasilan Como bersaing di papan atas Serie A dalam 2 musim terakhir tidak lepas dari sinergi yang solid antara manajemen klub, tim pelatih, dan pemain. Selain itu, Como juga membangun hubungan yang baik dengan para penggemar tim.
Manajemen Como terbilang tidak pelit menggelontorkan dana untuk membangun tim. Dalam beberapa musim teakhir, Como aktif merekrut pemain potensial seperti Nico Paz, Martin Baturina, Jean Butez, dan Lucas Da Cunha.
Lalu ketika bursa transfer awal musim ini, Como memperkuat kedalaman skuad dengan menggaet pemain berpengalaman seperti Robert Sanchez, Trevoh Chalobah, Moise Kean, Yan Couto, hingga Samuele Ricci.
Manajemen Como juga memiliki kebijakan yang sangat baik dalam merangkul para pendukung. Puncaknya terjadi pada laga perdana UCL 2026/2027 melawan Leipzig, ketika jajaran petinggi klub memberikan kursi VIP kepada fans lansia sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas mereka.

Dari sisi lapangan, Como didukung tim kepelatihan di bawah asuhan juru taktik muda yang tengah naik daun, Cesc Fabregas. Ia mengkombinasikan para pemain kunci lama seperti Nico Paz dengan sejumlah rekrutan baru, seperti Martin Baturina dan Assane Diao.
Selain itu, Fabregas berhasil membangun gaya bermain Como yang agresif, tetapi tetap disiplin saat bertahan. Taktik ini relatif mendobrak kultur permainan Liga Italia yang identik dengan mengandalkan skema serangan balik.
Start Bagus, Tapi Butuh Konsistensi di UCL
Kemenangan atas Leipzig pada penampilan perdana di UCL, memunculkan Como sebagai salah satu kuda hitam paling potensial musim ini. Como digadang-gadang bakal menyulitkan tim-tim yang menjadi lawan di fase liga.
Meski demikian, I Lariani perlu menjaga konsistensi karena tantangan berat masih menanti di sisa fase liga. Usai jumpa Leipzig, Como dijadwalkan bertemu Feyenoord, Man United, Lens, AEK Athens, Real Betis, PSG, hingga Barcelona.
Como diprediksi melakoni ujian berat saat berhadapan dengan Man United, Barcelona, serta sang juara bertahan, Paris Saint-Germain. Ketiga tim tersebut sudah sangat kenyang pengalaman dalam persaingan di Liga Champions.

Selain itu, Feyenoord dan Real Betis bakal menjadi lawan yang cukup tangguh bagi Como. Kedua tim tersebut berstatus sebagai kuda hitam yang punya bekal pengalaman bertanding di kompetisi Eropa dalam beberapa musim terakhir.
Peluang I Lariani untuk kembali memetik poin penuh terbuka lebar saat bertemu Lens dan AEK Athens. Kedua rival itu datang dari pot undian yang sama dengan Como, yaitu pot 4 yang berisikan tim non-unggulan.
Menghadapi laga berikutnya, pelatih Cesc Fabregas menilai timnya masih memiliki ruang untuk berkembang. Fabregas pun menekankan pentingnya adaptasi cepat sewaktu bersua tim-tim kuat sebagai tolok ukur kemampuan mereka.
“Dalam beberapa fase kami adalah tim yang sangat muda dan kami masih membangun momentum dari banyak hal. Kami harus terus melangkah karena kami memiliki laga besar lainnya." ucap Cesc Fabregas dalam wawancara di laman resmi UEFA.
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id































