Menuju konten utama

Topan Super Champi Dapat Menyedot Asap Karhutla, Benarkah?

Munculnya Topan Super Champi diprediksi membawa angin dan hujan yang dapat mengurangi intensitas asap karhutla di Indonesia. Tapi seberapa efektif?

Topan Super Champi Dapat Menyedot Asap Karhutla, Benarkah?
ilustrasi Topan Super Champi. foto/Dok. BMKG
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Topan Super Champi memiliki dampak yang signifikan terhadap cuaca dan gelombang air laut di sepanjang kawasan yang dilaluinya. Berdasar pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Siklon Tropis Champi berkembang dari Bibit Siklon Tropis 96W, mencapai intensitas siklon tropis pada 15 Oktober 2026 pukul 19.00 WIB di luar wilayah Monitoring Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.

Saat ini (23/10/2026), posisi siklon tropis Champi berada di laut sebelah timur laut Filipina dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia, dengan intensitas berada pada kategori 4.

Kendati begitu, keberadaan Topan Super Champi secara tidak langsung diprediksi bakal memengaruhi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian Utara, serta bisa juga Kepulauan Riau bagian Utara.

Meski sejumlah narasi menyebut bahwa Topan Super Champi dapat menyedot asap karhutla di Indonesia, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Angin yang menyertai Topan Super Champi dinilai memang dapat mengurai kepekatan asap dengan cara menariknya ke atmosfer atas hingga melewati wilayah tertentu.

Proses inilah yang berpeluang bisa turut mengurai ketebalan asap karhutla, bukan serta merta Topan Super Champi menyedot asap.

Topan Super Champi Mengarah ke Wilayah Karhutla?

Topan Super Champi diperkitakan bakal menjadi salah satu badai terkuat tahun ini. Laporan AccuWeather Meteorologist yang rilis pada 19 Oktober 2026, menyebut Topan Super Champi memiliki kecepatan angin 165 km/jam, dengan hembusan maksimum 205 km/jam. Adapun kecepatan angin puncak bisa mencapai 296 km/jam (184 mph). Badai yang tengah bergerak melintasi Samudra Pasifik bagian barat tersebut setara dengan badai Kategori 5.

Mengacu pengamatan BMKG melalui TCWC Jakarta per 22 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, Siklon Tropis Champi mulai memasuki wilayah Monitoring TCWC Jakarta pada 19 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB.

Saat ini (23/10/2026) posisi siklon berada di Laut Filipina tepatnya sebelah timur laut negara Filipina. Menurut pengamatan BMKG, kecepatan angin maksimum dalam 24 jam ke depan diprediksi menurun. Intensitasnya yang semula berada pada kategori 5, kini terdeteksi pada kategori 4 dengan pergerakan ke arah barat-barat laut, sebagaimana dikutip dari unggahan Instagram @infobmkg.

Pemantauan bibit dan siklon tropis

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau pergerakan Bibit Siklon Tropis 97S dan Siklon Tropis Nokaen melalui citra satelit Himawari di Stasiun Klimatologi BMKG Karangploso, Malang, Jawa Timur, Senin (19/1/2026).ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj.

Pada pengamatan terbaru BMPKG, Champi kini berada sekitar 1.890 kilometer di utara Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, serta bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Kendati demikian siklus Champi secara tidak langsung bakal turut memengaruhi cuaca di sejumlah daerah. Pengaruh tidak langsung Champi terhadap kondisi atmosfer bisa berupa hujan dengan intensitas sedang sampai lebat.

Keberadaan Topan Super Champi diprediksi memengaruhi kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia, sampai 23 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB. BMKG memprediksi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian Utara, serta Kepulauan Riau bagian Utara.

Selain itu, badai hujan tropis Champi juga dapat memicu gelombang tinggi 1,25-2,5 meter di kawasan perairan Kepulauan Sangihe, perairan utara Papua Barat Daya hingga Papua, serta Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua.

Tinggi gelombang di Laut Maluku dan Samudra Pasifik utara Maluku diprediksi mencapai 2,5-4 meter. Terbaru, laman Zoom Earth pada 23 Oktober 2026 merilis kecepatan angin Topan Super Champi ada di angka 165 km/jam.

Benarkah Topan Super Champi Menyedot Asap Karhutla?

Linimasa media sosial ramai memperbincangkan keberadaan Topan Super Champi yang dinilai dapat menyedot asap karhutla. Menanggapi fenomena tersebut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdani, memaparkan bahwa Champi tak serta merta menyedot asap karhutla.

"Secara meteorologis, Siklon Tropis Champi tidak menyedot asap karhutla atau secara langsung mengubah arah sebarannya. Meski demikian, sirkulasnya masih dapat mempengaruhi kondisi armosfer di sebagian wilayah Indonesia," ujar Andri Ramdani, kepada wartawan, hari Jumat (23/10/2026).

Siklon Tropis Champi terbentuk dari proses penguapan air laut yang intens, sebagai akibat suhu permukaan laut yang tinggi. Ketika udara lembap naik ke atmosfer, ia kemudian mendingin dan berubah menjadi embun. Proses itu melepaskan panas laten yang memengaruhi putaran angin di sekitar pusat tekanan rendah. Semakin hangat lautan, maka semakin besar energi yang memicu kekuatan siklon.

Adapun indikasi pembentukan Siklon Tropis dapat diidentifikasi dengan sejumlah hal. Pertama, suhu laut yang hangat menciptakan penguapan, yang dapat memicu pembentukan badai. Kedua, saat tekanan udara menurun, maka udara mulai berkumpul dan berputar mengelilingi pusat depresi.

Kemudian kelembapan dapat memengaruhi pembentukan awan konvektif yang menjadi struktur utama siklon tropis. Jika perbedaan kecil kecepatan angin di berbagai ketinggian, maka sistem pusaran dapat bertumbuh stabil. Gumpalan awan tebal yang berputar dapat dicermati sebagai tanda awal bibit siklon.

Potensi hujan sedang hingga lebat diprediksi di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian Utara, dan Kepulauan Riau bagian Utara. Hujan di wilayah terdampak asap dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara. Air hujan bisa menangkap dan membawa sebagian partikel asap.

Kebakaran lahan di Pemulutan

Foto udara asap membumbung tinggi dari lahan yang terbakar di Desa Babatan Saudagar, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Rabu (30/9/2026). Berdasarkan pantauan satelit NOAA20 yang dipantau melalui aplikasi Sipongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terdapat 3.026 titik panas (hotspot) yang terdeteksi pada Rabu (30/9) yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Selatan dengan sebaran titik panas paling banyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yaitu 1.375 titik. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU

Selain itu, pusaran siklon dan angin di sekitar Champi dapat mengubah lintasan massa udara, lalu belokan angin turut memicu terbentuknya lebih banyak awan-awan konvektif penyebab hujan lebat.

Mengacu laman Science NASA, angin yang dibawa oleh Siklon Tropis dapat membawa gumpalan asap terbawa ke atmosfer bagian atas hingga ke lapisan troposfer atas, dan bahkan bagian terbawah stratosfer. Dengan demikian asap dapat berpindah dalam jarak yang sangat jauh, bergerak melintasi Samudra Selatan hingga mengelilingi dunia.

Pada 21 Januari 2020, NASA mengamati pergerakan asap kebakaran hutan di Australia yang terlihat sangat jelas di sepanjang Samudra Pasifik bagian selatan, hingga mencapai Amerika Selatan. Rangkaian proses keberadaan Siklon Tropis dan pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat memindahkan atau mengubah persebaran asap

"Jadi, pengaruh Champi terhadap asap bukan melalui tarikan angin secara langsung, melainkan melalui kondisi cuaca, termasuk hujan yang dapat membantu mengurangi partikel asap di udara. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG," jelas Ramdani.

Pengaruh Champi terhadap persebaran asap selaras dengan temuan studi Role of the Madden-Julian Oscillation in the Transport of Smoke From Sumatra to the Malay Peninsula During Severe Non-El Niño Haze Events karya S. N. Koplitz, yang dimuat AGU Journals.

Penelitian ini menyorot Madden-Julian Oscillation (MJO) atau fluktuasi cuaca skala besar berdaur 30–90 hari, bertindak sebagai modulator aktivitas kebakaran dan cuaca. Pada fase kering, MJO memicu titik api. Di sisi lain, pergerakan siklus MJO berkaitan dengan pembentukan anomali sirkulasi angin lokal.

Pengaruh Topan Super Champi Terhadap Kualitas Udara

Kehadiran Topan Super Champi berdampak signifikan terhadap kualitas udara di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian Utara, dan Kepulauan Riau bagian Utara. Ketiga wilayah tersebut berpeluang turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Saat kebakaran hutan terjadi, asap mengandung zat berbahaya bagi tubuh seperti polutan dan senyawa kimia berbahaya. Zat berbahaya tersebut antara lain: partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun.

Keberadaan zat kimia yang terkandung dalam asap turut memengaruhi kualitas udara serta menyebabkan berbagai dampak buruk pada saluran pernapasan.

ilustrasi Topan Super Champi

Seorang wanita berjalan di jalan yang sebagian tergenang air akibat hujan deras setelah topan Gaemi di Chiayi, Taiwan Barat Daya pada 26 Juli 2024. Setelah menyebabkan banjir meluas, 6 kematian dan ratusan luka-luka di Taiwan serta membawa kerusakan dahsyat ke Filipina, topan super tersebut telah menghantam Tiongkok. Topan ini telah menyebabkan kerugian besar dan dampak di berbagai tempat di Asia Timur dan Asia Tenggara. Anadolu Agency/pri.

Studi Effect of Climate Change on Air Quality (2009) yang ditulis oleh Daniel J. Jacob dan Darrell A. Winner dalam jurnal Atmospheric Environment, menjelaskan perubahan iklim memengaruhi konsentrasi partikel halus di udara. Menurut penelitian tersebut kualitas udara sangat bergantung kepada cuaca.

Angin yang menyertai Topan Super Champi dapat membawa asap karhutla bergerak ke wilayah lain. Penelitian memaparkan bahwa polutan atmosfer dapat dihilangkan dari udara dan diendapkan ke permukaan bumi dalam bentuk presipitasi atau proses jatuhnya curahan air dari atmosfer.

Setelah terserap ke dalam tetesan air, polutan dihilangkan dari atmosfer lalu diendapkan dalam ekosistem bumi. Dalam jangka panjang, pengendapan basah akan menyebabkan hujan asam.

Hujan asam dapat memengaruhi kualitas tanah dan air. Meski begitu, pengendapan basah dapat menghilangkan polutan dan membantu membersihkan atmosfer dari polutan berbahaya.

Kehadiran topan tropis yang membawa angin dan hujan turut menghilangkan sebagian partikel di udara. Namun demikian tidak berarti udara di seluruh wilayah yang terdampak asap bakal langsung bersih.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama