Menuju konten utama

Benarkah Mobil dan Motor Listrik Lebih Ramah Lingkungan?

Kendaraan listrik diklaim lebih ramah lingkungan karena minim emisi. Namun, ada potensi masalah lingkungan baru, termasuk selama proses produksi.

Benarkah Mobil dan Motor Listrik Lebih Ramah Lingkungan?
ilustrasi mobil listrik vs mobil bensin. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mobil dan motor listrik katanya lebih ramah lingkungan daripada kendaraan konvensional. Namun, produksi kendaraan listrik justru bisa menimbulkan potensi masalah lingkungan baru.

Kendaraan mobil dan motor listrik kini marak ditemui di Indonesia. Masyarakat mulai beralih dari kendaraan biasa menjadi jenis kendaraan ini, salah satunya karena faktor ramah lingkungan.

Jenis kendaraan listrik menggunakan satu atau lebih motor listrik sebagai sumber tenaga. Energi yang digunakan untuk menggerakkan motor listrik disimpan di dalam baterai.

Pengguna perlu mengisi ulang baterai menggunakan listrik dari luar (charging station) atau sistem regeneratif saat kendaraan melambat. Perbedaan kendaraan konvensional dan listrik terletak di sumber energi dan emisi.

Kendaraan konvensional menghasilkan gas buang, termasuk asap. Sementara itu, kendaraan listrik disebut nyaris tidak mengeluarkan emisi karbon ketika digunakan.

Alasan Kendaraan Listrik Bisa Disebut Ramah Lingkungan

Emisi kendaraan bermotor merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di Indonesia, sebagaimana dijelaskan oleh laman TBS. Transisi ke kendaraan listrik menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada 2060.

Kendaraan listrik pada dasarnya tidak menghasilkan emisi langsung dari knalpot berupa gas karbon dioksida (CO2) saat beroperasi. Ini berbeda dari kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.

Pengurangan emisi kendaraan menjadi lebih signifikan jika listrik yang digunakan untuk pengisian daya berasal dari sumber energi terbarukan. Misalnya tenaga surya, angin, atau panas bumi.

Ilustrasi mobil listrik

Ilustrasi mobil listrik. FOTO/iStock

Laporan Marta Negri dan Georg Bieker dalam The International Council on Clean Transportation menyebut, emisi sepanjang siklus hidup mobil listrik bertenaga baterai hampir 4 kali lebih rendah daripada mobil bensin.

Di samping itu, emisi mobil listrik bertenaga baterai dilaporkan 73% lebih rendah daripada mobil bensin. Jika hanya menggunakan listrik terbarukan, pengurangan mencapai 78%.

Adapun emisi mobil hibrida adalah 20% lebih rendah daripada mobil bensin. Sementara itu, emisi sepanjang siklus mobil hibrida plug-in 30% lebih rendah daripada mobil bensin.

Mengacu laman BloombergNEF, kendaraan listrik bertenaga baterai menghasilkan emisi CO2 yang lebih rendah daripada kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) saat digunakan. Ini karena sistem kelistrikan mengalami dekarbonasi jauh lebih cepat daripada peningkatan kinerja mesin pembakaran.

Terkait manfaat ramah lingkungan ini, laman EVreporter menjelaskan bahwa kendaraan listrik biasanya bisa mengubah 85–90% energi baterai menjadi gerakan, dibandingkan dengan hanya 30% untuk mesin pembakaran internal.

Ilustrasi Motor Listrik

Ilustrasi Motor Listrik. foto/istockphoto

Potensi Masalah Lingkungan Baru

Emisi penggunaan kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, memang terbilang lebih rendah daripada kendaraan konvensional. Hal ini turut meningkatkan kualitas udara lokal sehingga masyarakat di sekitarnya lebih sehat.

Namun, ramah lingkungan ternyata tidak melulu menyoal emisi. Produksi dan pembuangan baterai kendaraan listrik, menurut laman AZo Cleantech, melibatkan ekstraksi bahan baku, seperti litium, nikel, dan kobalt. Ini bisa memiliki dampak ekologis.

Secara sederhana, penambangan litium membutuhkan banyak air. Selanjutnya dapat menyebabkan ketidakstabilan tanah hingga hilangnya keanekaragaman hayati di lingkungan sekitarnya.

Selama proses produksi, pembuatan baterai kendaraan listrik menghasilkan emisi CO2 yang signifikan, yakni sekitar 3–16 ton per baterai, tergantung ukurannya. Tak hanya proses produksi, daur ulang dan pembuangan baterai kendaraan listrik yang tidak tepat di akhir masa pakai juga bisa merusak lingkungan.

Ilustrasi Motor Listrik

Ilustrasi Motor Listrik. foto/istockphoto

Padahal, hanya sekitar 5% baterai lithium-ion yang bisa didaur ulang. Kondisi ini perlu ditangani dengan adanya peningkatan infrastruktur dan proses daur ulang, bukan hanya proses produksi.

Sebuah studi yang dilakukan Yucheng Jin (2025) berjudul “Electric Vehicle Battery Materials and Their Impact on Carbon Emissions” menjelaskan persoalan manfaat ramah lingkungan pada kendaraan listrik.

Material yang digunakan untuk membuat baterai berkontribusi pada jejak karbon baterai di setiap tahap siklus hidup. Keseluruhan mencakup ekstraksi dan pengolahan bahan, pembuatan baterai, hingga daur ulang atau pembuangan.

Produksi baterai dalam kendaraan listrik merupakan bagian penting. Pasalnya, biaya kemanusiaan, lingkungan, dan ekstraksi sumber daya juga perlu diperhatikan, khususnya penambangan kobalt di negara berkembang.

Ilustrasi mobil listrik

Ilustrasi mobil listrik. FOTO/iStock

Hal yang sama turut dijelaskan via laman Movcan. Produksi mobil listrik menghasilkan emisi yang jauh lebih tinggi daripada kendaraan konvensional.

Pembuatan mobil listrik bisa menghasilkan polusi karbon yang lebih banyak daripada pembuatan mobil bensin. Pasalnya, produksi baterai mobil listrik membutuhkan energi tambahan.

Pada produksi mobil bensin, emisi tercatat sebanyak 9,2 ton CO2e. Sementara itu, produksi mobil listrik adalah sebanyak 14,6-14,7 ton CO2e atau 59-60% lebih tinggi daripada mobil bensin.

Proses produksi tersebut menghasilkan 35% emisi manufaktur dari total emisi siklus hidup kendaraan listrik. Produksi baterai pun pada akhirnya membutuhkan proses intensif energi untuk penambangan, pemurnian, dan perakitan material sebelum menjadi paket baterai yang canggih.

Target 9 juta kendaraan listrik beredar di Indonesia

Warga mengisi daya baterai mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Voltron, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (8/5/2025). Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan sembilan juta kendaraan listrik beredar di dalam negeri pada 2030, dengan jumlah tersebut negara bisa menghemat 14,15 juta barel bahan bakar minyak (BBM) dan memangkas emisi hingga 5,175 juta ton CO2. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/rwa.

Profesor Teknik JR East Massachusetts Institute of Technology (MIT), Yang Shao-Horn, dikutip dari Climate Portal, menjelaskan bahwa memproduksi baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik lebih membutuhkan banyak material dibandingkan memproduksi mesin pembakaran tradisional.

Sebagian besar litium diekstraksi dari tambang batuan keras atau reservoir air garam bawah tanah. Sebagian besar energi yang digunakan untuk mengekstrak dan memproses berasal dari bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi CO2.

Di samping itu, penambangan bahan baku baterai juga membutuhkan banyak tenaga kerja, bahan kimia, dan air dalam jumlah besar. Aktivitas ini bisa meninggalkan kontaminan dan limbah beracun.

Proses manufaktur turut menambah jejak ekologis baterai kendaraan listrik. Untuk mensintesis material produksi, diperlukan panas antara 8–1.000 derajat Celcius. Suhu itu hanya bisa dicapai secara efektif dari segi biaya dengan membakar bahan bakar fosil, yang ternyata menambah emisi CO2.

ilustrasi mobil listrik

ilustrasi mobil listrik. FOTO/iStockphoto

Baca juga artikel terkait KENDARAAN LISTRIK atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo