tirto.id - Sebuah perusahaan rintisan biosains artificial intelligence (AI) California, Radical Numerics, merancang virus yang merupakan produk AI. Rancangan AI ini menjadi respons isu resistensi bakteri yang diprediksi dapat menyebabkan kematian.
Melansir Independent, tindakan penyuntikan virus tersebut telah dilakukan pada pasien manusia untuk pertama kalinya. Ini dianggap sebagai solusi potensial yang bisa diterapkan secara luas untuk melawan bakteri super resisten antibiotik.
Produk virus yang diberi nama Omnii-1 ini, jika terverifikasi, bisa menandai pertama kalinya bakteroifag yang dirancang dengan AI diberikan kepada manusia.
Radical Numerics mengklaim, pendekatan berbasis AI mereka dapat menghasilkan phage atau bakteroifag secara cepat dan sesuai permintaan. Ini bisa memenuhi kebutuhan pasien sehingga mempercepat jangka waktu pengobatan.
“Pencapaian ini menandai langkah awal menuju penerjemahan desain genom yang dipandu AI menjadi terapi yang dipersonalisasi,” terang Radical Numerics.
Omnii-1: Virus Buatan AI untuk Melawan Bakteri Kebal Antibiotik
Mengutip laman Radical Numerics, model bahasa genom multimodal ini menandai tonggak penting menuju terapi personalisasi yang dirancang AI untuk infeksi resisten antibiotik.
Omnii-1 menjadi model bahasa multimodal untuk mengidentifikasi dan mendesain phage yang menargetkan strain bakteri tertentu. Penemuan ini dilatarbelakangi oleh fenomena resistensi antibiotik yang merupakan masalah global.
Resistensi antibiotik terus meningkat dan diprediksi akan menyebabkan sekitar 40 juta kematian dalam 25 tahun ke depan atau sekitar tahun 2050. Terapi phage menawarkan alternatif yang menjanjikan ketika antibiotik gagal.

Phage atau penghancur alami sel bakteri yang menargetkan infeksi bakteri pasien inilah yang perlu dikembangkan. Model Omnii-1 bisa menghasilkan phage yang layak, memprioritaskan varian, dan memprediksi interaksi phage-inang.
Lebih lanjut, phage tidak menginfeksi sel manusia. Terapi phage umumnya dianggap aman. Berbeda dengan antibiotik spektrum luas, phage bisa menargetkan bakteri tertentu dengan spesifitas yang luas biasa sehingga tidak membahayakan bakteri bermanfaat seperti bakteri di usus yang mendukung pencernaan.
Radical Numerics menggunakan AI untuk memahami dan merekayasa biologi sehingga memungkinkan pendekatan baru dalam desain terapi. Mereka melatih Omnii-1 untuk membantu mengidentifikasi dan mendesain phage yang menargetkan strain bakteri tertentu.
Dari Rancangan Digital ke Tubuh Pasien, Bagaimana Cara Kerjanya?
Secara tradisional, para peneliti memulai pengembangan terapi phage dengan menyaring koleksi phage yang terjadi secara alami terhadap isolat bakteri pasien. Saat kandidat yang sesuai tidak tersedia, rekayasa varian phage menawarkan kemungkinan lain.
Penggunaan AI untuk menghasilkan varian phage baru tidak memerlukan perancangan genom yang sepenuhnya baru. Mereka memodifikasi wilayah tertentu yang terlibat dalam fungsi biologis tertentu.
Omnii-1 dilatih terlebih dahulu menggunakan beragam sekuens genom dan data multiomik. Kemudian, ia dilatih lebih lanjut menggunakan gennom phage untuk menyesuaikan pengetahuannya dengan sistem biologis ini.
Untuk merekayasa fungsi biologis spesifik sambil menjaga kelangsungan hidup phage, Omnii-1 bisa menghasilkan DNA menggunakan konteks di kedua sisi wilayah desain yang dipilih. Ini dilakukan dengan memperhitungkan urutan genom di sekitarnya.
Selain itu, Omnii-1 juga dilatih menggunakan dataset yang tersedia untuk umum tentang interaksi phage-inang yang diukur secara eksperimental untuk memodelkan kompatibilitas antara phage dan strain bakteri.

Mereka juga menggunakan pengukuran aktivitas dari kampanye desain untuk memprediksi kebugaran varian hasil rekayasa terhadap strain bakteri tertentu dengan Omnii-1.
Prediksi yang lebih rinci tersebut memanfaatkan Omnii-1 tentang biologi phage dan interaksi inang untuk memprioritaskan desain untuk pengujian eksperimental.
Omnii-1 bertujuan untuk menjembatani kesenjangan dalam desain terapi phage, sebagaimana dijelaskan di laman Radical Numerics. Ini memungkinkan terapi phage yang andal dan efektif bagi pasien yang membutuhkan.
Desain yang dihasilkan oleh Omnii-1 diberikan kepada pasien dengan infeksi bakteri resisten antibiotik di bawah jalur penggunaan khusus yang dipimpin oleh dokter.
Dalam pengujian laboratorium, koktail yang mengandung varian phage yang dirancang oleh Omnii-1 berhasil menghilangkan isolat resisten antibiotik pasien secara in vitro. Kemudian, koktail investigasi itu diberikan kepada pasien di bawah penggunaan khusus.
Bagaimana Risiko dan Pengawasan Medisnya?
Phage atau jenis virus yang dinamakan Omnii-1 rancangan AI baru saja diberikan kepada seseorang, pertama kalinya dalam penemuan ini. Namun, ada beberapa aspek yang patut dipertanyakan.
Melansir Mashable, salah satu permasalahan dalam risiko dan pengawasan medis terkait percobaan tersebut adalah publik tidak mengetahui bagaimana jalannya uji klinis tersebut.
Pertama, Radical Numerics tidak memberikan informasi tentang pasien atau dokter yang terlibat selama uji klinis masih berlangsung, dengan alasan privasi.
Kemudian, laporan Radical Numerics tidak ditinjau oleh rekan sejawat atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Mereka justru hanya memposting makalah tersebut di situs webnya.
CEO perusahaan Radical Numerics, Eric Nguyen, mengatakan bahwa tim berencana untuk membagikan detail lebih lanjut setelah menerima persetujuan dari pasien. Pasalnya, ada perjanjian kerahasiaan di antara mereka.

Dengan demikian, risiko dari penelitian atas pengujian rancangan AI ke tubuh manusia itu belum bisa diketahui publik secara langsung. Publik juga tidak bisa memantau bagaimana pengawasan medis selama uji klinis berjalan.
Dalam laporan di laman webnya, Radical Numerics mengaku terus membantu membentuk protokol dan norma tata kelola yang bertanggung jawab. Mereka juga menyesuaikan langkah-langkah biosekuriti, biokeamanan, penahanan, pembuangan, dan berbagi data mereka yang sesuai dengan kemajuan Omnii dan model AI lainnya.
Uji klinis atau terapi phage ini mungkin memerlukan waktu dalam beberapa hari atau pekan. Dokter yang terlibat, yang tidak diketahui publik identitasnya, bertugas untuk memantaunya dan melakukan pengawasan medis.
Setelah itu, dokter juga masih harus memantau pasien selama berbulan setelahnya. Ini bertujuan agar memastikan infeksi benar-benar sembuh dan tidak kambuh.
Selebihnya, publik harus menunggu beberapa waktu untuk mengetahui apakah uji klinis virus rancangan AI tersebut berhasil. Jika berhasil, penelitian ini bisa dikembangkan dan menjawab persoalan resistensi antibiotik.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































