Menuju konten utama

AI di Dunia Kesehatan: Inovasi atau Invasi?

Apakah kita rela menyerahkan keputusan hidup dan mati pada entitas tanpa empati?

AI di Dunia Kesehatan: Inovasi atau Invasi?
Header Perspektif Arif Perdana. tirto.id/Amir Fuaddi

tirto.id - Akal Imitasi (AI) kini menawarkan efisiensi, akurasi, dan solusi cepat dalam diagnosis maupun perawatan. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini kanker, pengembangan terapi personalisasi, dan bahkan chatbot untuk mendampingi pasien kesehatan mental. Dalam setiap inovasi selalu ada konsekuensi, bukan soal teknis semata, tetapi juga implikasi etis dan filosofis yang perlahan menggerus inti kemanusiaan. Apa yang saya sampaikan di bawah ini ada yang sudah terjadi dan ada yang berpotensi terjadi.

Salah satu masalah mendasar adalah bias algoritmik. AI belajar dari data historis, dan jika data itu mengandung ketimpangan, misalnya, layanan kesehatan yang tidak setara antar kelompok ras atau kelas sosial, maka bias itu tidak hanya diwariskan, tapi diperkuat oleh sistem. Studi di Amerika Serikat menunjukkan bagaimana sistem peringkat risiko kesehatan justru meremehkan pasien kulit hitam karena faktor sosial-ekonomi tidak dimasukkan secara adil dalam model.

Dalam versi yang lebih ekstrem, skenario ini bisa berkembang menjadi praktik klasifikasi manusia berdasarkan "label digital" seperti “profil unggul” atau “profil berisiko tinggi”. Label ini bisa memengaruhi akses seseorang ke pekerjaan, asuransi, bahkan kehidupan sosial. Diskriminasi tak lagi berbasis warna kulit, tapi berbasis kode genetik dan riwayat kesehatan.

Privasi juga menjadi persoalan krusial. Data medis adalah salah satu jenis data paling sensitif, namun dalam ekosistem digital, kepemilikan dan kendalinya menjadi kabur. Aplikasi kesehatan bisa saja menyimpan dan menjual data pengguna ke pihak ketiga tanpa persetujuan yang benar-benar transparan. Jika informasi ini jatuh ke tangan yang salah, ia dapat dimanfaatkan untuk menolak asuransi, memeras, atau bahkan menetapkan siapa yang pantas menerima perawatan.

Bahkan lebih jauh, AI yang mampu memprediksi risiko kematian berpotensi disalahgunakan sebagai instrumen spekulasi. Data semacam ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi atau rezim otoriter untuk menentukan siapa yang dianggap “layak diprioritaskan”, bukan atas dasar kemanusiaan, melainkan berdasarkan kontribusi ekonomi atau status sosial. Ketergantungan yang berlebihan pada AI juga menyimpan risiko lain yang tak kalah penting. Ketika dokter terlalu mengandalkan rekomendasi mesin, ada bahaya hilangnya kepekaan klinis, naluri dan empati yang hanya bisa tumbuh melalui interaksi nyata dengan pasien. Seperti pilot yang terbiasa dengan autopilot, dokter masa depan bisa kehilangan sentuhan humanis yang menjadi inti dari profesi medis.

Jika ini dibiarkan, kita boleh jadi akan memiliki dokter yang mahir teknologi namun miskin empati. Hubungan pasien dan penyembuh menjadi kering dan mekanistik. Di sisi lain, tanggung jawab dalam sistem berbasis AI menjadi kabur. Jika sistem memberi diagnosis keliru, siapa yang harus bertanggung jawab? Dokter? Programmer AI? Vendor AI? Rumah sakit? Di tengah kompleksitas ini, pasien bisa saja dirugikan tanpa kejelasan jalur keadilan.

Lebih mengkhawatirkan, sistem AI bisa menggunakan model yang tidak dapat dijelaskan secara transparan (black box), sehingga masyarakat dipaksa percaya pada keputusan yang tak bisa dimengerti. Perusahaan teknologi pun mulai melihat kesehatan sebagai ladang bisnis baru. Mereka berlomba menciptakan sistem AI untuk penyakit tertentu bukan semata demi kebutuhan medis, tapi demi dominasi pasar.

Dalam skenario ekstrem, hanya pengguna dari platform tertentu yang bisa mengakses diagnosis atau pengobatan paling mutakhir. Kesehatan menjadi komoditas berlangganan, dan pasien terjebak dalam ekosistem korporat. Bahkan tak mustahil muncul "penyakit digital" yang hanya bisa dideteksi dan disembuhkan oleh algoritma milik perusahaan tertentu, praktik monopoli yang meniru strategi vendor lock-in di dunia teknologi.

Ketika AI Menggerus Nilai-Nilai Kemanusiaan

Dampak AI tidak hanya terbatas pada sistem medis, tetapi menyentuh eksistensi manusia sebagai subjek. Jika AI mampu memprediksi dan mencegah penyakit secara presisi, tekanan sosial untuk hidup ’’optimal’’ akan meningkat. Orang yang memilih tidak memakai layanan AI medis bisa dianggap lalai, bahkan dikucilkan. Ini adalah bentuk baru evolusi paksa, manusia yang tidak terintegrasi dengan AI dianggap usang.

Bahaya lain datang dari dimensi geopolitik. Misalnya jika satu negara menyusupkan malware ke sistem AI medis negara lain, yang bisa menyebabkan salah diagnosis massal atau kesalahan pengobatan, ini bisa jadi bencana. Serangan siber pada infrastruktur kesehatan sudah pernah terjadi, namun jika diarahkan dengan AI, dampaknya bisa lebih sistematis dan menghancurkan. Rumah sakit berubah menjadi medan perang digital, dan data pasien jadi senjata.

AI juga berada di antara batas antara hidup dan mati. Teknologi ini dapat memperpanjang hidup dalam kondisi vegetatif atau menyarankan penghentian perawatan demi efisiensi. Tapi siapa yang berhak memutuskan? Jika keputusan seperti ini diserahkan ke AI, kita memasuki wilayah abu-abu, keputusan soal hidup dan mati dibuat oleh mesin tanpa kesadaran atau empati.

Proses penyembuhan selama ini melibatkan lebih dari sekadar perbaikan biologis. Banyak pasien yang menggantungkan harapan pada doa, motivasi, hubungan dengan dokter, atau dukungan spiritual. Namun AI, yang bekerja berdasarkan logika algoritma, hingga saat ini belum punya ruang untuk memahami aspek spiritual atau relasi manusiawi. Sistem yang efisien tapi hampa ini bisa menciptakan kekosongan batin yang tak tertangani oleh data.

Kesenjangan akses pun menjadi isu besar. Teknologi AI medis yang mahal hanya bisa dijangkau oleh kalangan tertentu. Maka akan muncul sistem dua tingkat, satu untuk elite digital, satu lagi untuk publik yang tertinggal, yang infrastruktur digitalnya masih terbatas. Keadilan layanan kesehatan yang seharusnya universal berubah menjadi hak istimewa bagi yang "terhubung".

Dampaknya juga dirasakan tenaga medis. Ketika peran diagnosis dan perawatan diambil alih oleh mesin, identitas profesional dokter terancam. Mereka boleh jadi berubah peran, bukan dianggap penyembuh, melainkan operator sistem. Profesi medis kehilangan makna, memicu kelelahan mental (burnout), dan membuatnya kurang menarik bagi generasi baru.

Dalam bidang kesehatan mental, chatbot berbasis AI juga menyimpan risiko. Sistem ini bisa dirancang untuk menjaga ketergantungan pengguna atau bahkan menyusupkan iklan dan pengaruh tersembunyi. Batas antara pendampingan psikologis dan manipulasi emosional bisa hilang, terutama jika data emosi digunakan untuk kepentingan komersial atau politik. Yang paling menggelisahkan adalah dilema moral. Dalam kondisi darurat, siapa yang diprioritaskan untuk diselamatkan?

Jika AI mengambil keputusan hanya berdasarkan efisiensi statistik, nilai-nilai kemanusiaan bisa dikesampingkan. Apakah kita rela menyerahkan keputusan hidup dan mati pada entitas tanpa empati? Kehadiran AI di dunia kesehatan tidak bisa dihindari, tetapi itu tidak berarti harus diterima tanpa kritik, regulasi yang ketat menjadi hal yang tak bisa ditawar.

Yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan teknis, tapi juga perenungan mendalam tentang nilai, makna, dan keadilan. AI seharusnya memperkuat kemanusiaan, bukan menggesernya. Karena pada akhirnya, penyembuhan sejati tidak hanya soal tubuh yang pulih, tetapi juga jiwa yang merasa dihargai.

Penulis adalah dosen Fakultas Teknologi Informasi, Monash University, Indonesia

Baca juga artikel terkait OPINI atau tulisan lainnya dari Arif Perdana

tirto.id - Kolumnis
Penulis: Arif Perdana
Editor: Nuran Wibisono