tirto.id - Dinas Kesehatan Kota Bandung menemukan berbagai pelanggaran prosedur higiene dan sanitasi di Restoran 88 SEOUL, Mall 23 Paskal, pasca-insiden keracunan massal yang menimpa puluhan konsumen.
Hingga Selasa (6/10/2026), Dinkes telah mengonfirmasi 24 laporan kasus warga yang mengalami gejala mual, muntah, hingga diare usai menyantap hidangan di gerai kuliner Korea milik jaringan F&B ID tersebut.
Kontributor Tirto sempat menyambangi lokasi tersebut pada hari ini. Namun, tampak tak ada aktivitas jual dan beli di Restoran 88 SEOUL di Paskal 23 Bandung itu. Meski, terlihat beberapa orang berada di lokasi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, menyatakan hasil pemeriksaan awal menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi restoran yang masih perlu diperbaiki.
“Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” kata Dewi, Rabu (7/10/2026).
Tim Kesehatan Lingkungan bersama Tim Reaksi Cepat Dinkes Kota Bandung turun langsung melakukan inspeksi kesehatan lingkungan. Pemeriksaan antara lain mencakup penataan lokasi, peralatan, bahan makanan, hingga penerapan prosedur operasional standar (SOP).
Menurut Dewi, penataan bahan makanan segar dan bahan makanan kering perlu diperhatikan. Termasuk pemisahan dengan bahan kimia seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring.
“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” ujar Dewi.
Dinkes juga menyoroti penerapan sistem first in first out (FIFO) maupun first expired first out (FEFO) dalam penyimpanan dan penggunaan bahan makanan. Menurut Dewi, penerapan SOP itu belum terlihat secara jelas di lokasi.
Selain sarana dan penataan bahan makanan, perilaku para penjamah makanan juga menjadi perhatian. Dinkes meminta seluruh pekerja yang terlibat dalam pengolahan dan penyajian makanan memperhatikan perlindungan diri, seperti penggunaan masker dan penutup rambut.
“Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” kata Dewi.
Menurutnya, rekomendasi perbaikan telah disampaikan langsung kepada pihak restoran. Selanjutnya, Dinkes akan melakukan pemantauan untuk memastikan rekomendasi tersebut ditindaklanjuti.
Pemantauan tak hanya dilakukan oleh Dinkes Kota Bandung, tetapi juga melibatkan puskesmas. Mengingat adanya kasus dugaan keracunan, pengawasan terhadap restoran tersebut akan dilakukan secara lebih intensif.
“Biasanya kalau ada kasus seperti ini kami agak lebih intensif pemantauannya,” ujar Dewi.
Sementara itu, terkait jumlah konsumen yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut, pihaknya mencatat hingga Selasa sore terdapat 24 kasus telah dilaporkan kepada Dinkes Kota Bandung melalui berbagai jalur pelaporan.
Laporan itu, dari puskesmas serta masyarakat yang menyampaikan informasi melalui kanal media sosial Dinkes. Jumlah tersebut masih dapat berubah. Sebab, Dinkes masih membuka jalur pelaporan dan melakukan penelusuran terhadap laporan yang masuk.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut agar segera melapor kepada puskesmas terdekat atau melalui kanal resmi Dinkes Kota Bandung.
Dari laporan yang telah diterima, gejala muncul dalam rentang waktu yang bervariasi. Gejala paling cepat dilaporkan muncul sekitar 2 jam setelah mengonsumsi makanan. Sedangkan, yang paling lambat sekitar 12 jam.
Gejala yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah, serta buang air besar cair atau diare.
Dinkes masih terus melakukan pemeriksaan dengan mengonfirmasi laporan, menelusuri kasus, serta memeriksa kondisi kesehatan warga yang melaporkan mengalami gejala.
Tim juga telah melakukan pemeriksaan langsung kepada pengelola restoran dan konsumen yang melaporkan gangguan kesehatan.
“Kami melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kami cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat,” kata Dewi.
Namun, proses pemeriksaan menghadapi kendala karena pihak restoran tak memiliki sampel makanan yang disimpan. Padahal, keberadaan sampel makanan dapat membantu proses pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan penyebab gangguan kesehatan.
Menurutnya, Dinkes Kota Bandung masih terus melakukan pemantauan dan penelusuran terhadap laporan masyarakat. Karena dugaan kasus terjadi pada konsumen yang tersebar di berbagai lokasi, proses pelacakan membutuhkan koordinasi dan partisipasi masyarakat.
Pihak manajemen 88 SEOUL membenarkan adanya laporan dan keluhan dari konsumen yang mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan di gerai 23 Paskal, Bandung.
Operations General Manager 88 SEOUL, Daniel Yahya, menyatakan perusahaan berfokus memberikan penanganan langsung kepada para pelanggan terdampak serta mendampingi proses pemulihan mereka secara bertanggung jawab.
"Betul kami menerima adanya laporan dan keluhan dari sejumlah pelanggan setelah berkunjung ke 88 SEOUL 23 Paskal, Bandung. Kami mendengar dan peduli atas kekhawatiran yang disampaikan," ujar Daniel melalui keterangan resmi.
Daniel menambahkan manajemen terus menjalin komunikasi intensif dengan para korban dan menyediakan informasi perkembangan penanganan melalui kanal resmi perusahaan.
Penulis: Ery Chandra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































