tirto.id - Di depan layar ponsel, jari terhenti, layar lokapasar memamerkan deretan pilihan. Mau makan apa malam ini? Piza dengan topping melimpah, sushi segar, atau nasi goreng rumahan yang hangat? Tiap opsi menggoda, tapi pikiran terbelah: kalori, harga, waktu pengiriman, semua berputar di kepala. Akhirnya, aplikasi ditutup, perut masih kosong.
Malam berganti, waktunya maraton film. Netflix menawarkan thriller penuh teka-teki, komedi ringan, atau drama epik berdurasi tiga jam. Gulir ke atas, ke bawah, ulasan dibaca, trailer ditonton. Tapi, mana yang benar-benar pas untuk suasana hati? Waktu berlalu, sofa tetap dingin, film tak kunjung dipilih.
Esoknya, belanja ponsel baru. Layar menampilkan spesifikasi: kamera 108MP atau 64MP? Baterai 5000mAh atau 4500mAh? RAM 8GB atau 12GB? Review di X bilang ini bagus, tapi komentar lain memuji merek sebelah. Otak bekerja keras, membandingkan, menimbang, sampai kepala pening. Tab peramban menumpuk, keputusan tak kunjung lahir.
Setiap pilihan kecil terasa seperti teka-teki tanpa ujung. Pikiran lelah, energi terkuras. Ingin memilih, tapi otak berbisik, “Cukup, tunda saja”. Dalam beberapa hal, misalnya terkait konsumerisme, hal itu tentu baik, sebab sedikit banyak dapat menunda hasrat berbelanja sesaat. Namun, tidak demikian di kondisi krusial seperti tempat kerja.
Dalam dunia kerja modern, kita dituntut untuk terus mengambil keputusan, secara cepat sekaligus tepat. Mulai hal remeh mengirim pos-el, membimbing pemagang, hingga mencari lowongan di tempat lain yang menentukan arah karier, semua butuh keputusan. Laporan dariThe Wall Street Journal menyebut, orang dewasa di AS memiliki rata-rata 35 ribu keputusan setiap harinya.
Menumpuknya pilihan dan kesusahan pengambilan keputusan itu disebut sebagai decision fatigue. Ia merayap, menggotong beramai-ramai, lalu meninggalkan kita terjebak dalam lautan opsi, tanpa kepastian, hanya kelelahan.
Ketika Otak Kewalahan Membuat Pilihan
Decision fatigue dipopulerkan oleh John Tierney dalam kolomnya di majalah The New York Time pada Agustus 2011. Konsepnya lalu dikembangkan oleh Roy Baumeister melalui penelitiannya yang membuktikan bahwa energi mental otak bersifat terbatas. Ketika energi itu habis, kemampuan berpikir logis dan terkontrol ikut menurun.
Baumeister mengacu pada teori ego depletion yang pertama kali dibahas Sigmund Freud. Tokoh psikoanalisis tersebut berpendapat, ego kita bergantung pada aktivitas mental yang kerap dipengaruhi oleh transfer energi.
Secara biologis, decision fatigue melibatkan beberapa area dan proses penting di otak. Korteks prefrontal, bagian otak yang bertugas menimbang dan merencanakan, akan mengalami penurunan fungsi ketika kelelahan terjadi, kemudian memicu keputusan impulsif. Glukosa sebagai sumber energi otak pun terkuras sehingga menyebabkan penurunan efisiensi berpikir.
Jika kondisi tersebut berlanjut, amigdala, bagian otak yang memproses emosi, menjadi lebih aktif sehingga membuat individu lebih reaktif terhadap stres. Kadar dopamin dan serotonin bisa terganggu yang berpengaruh pada ketidakstabilan emosi.
Respons stres tubuh melalui hormon kortisol juga meningkat, memperlemah kontrol kognitif dan memori. Dengan demikian, kelelahan dalam mengambil keputusan bukan hanya keadaan mental, tapi juga kondisi biologis yang dapat diukur secara nyata.
Saat otak terus-menerus dihadapkan pada pilihan, energi mental pun terkuras. Seseorang menjadi mudah menunda tugas, mengambil keputusan impulsif, atau menghindari tanggung jawab. Bahkan, hal sederhana seperti memilih jadwal rapat atau merespons pos-el bisa terasa berat.
Kelelahan ini juga memengaruhi emosi. Orang yang mengalami decision fatigue cenderung mudah tersinggung, kehilangan motivasi, dan berisiko mengalami burnout. Seiring waktu, kemampuan untuk fokus, menyelesaikan proyek, dan berpikir jernih, pun ikut menurun. Kondisi ini sering digambarkan sebagai brain fog, kondisi otak kesulitan berpikir jernih dan proses pengambilan keputusan terasa sangat membebani.

Tak hanya mendisrupsi kegiatan sehari-hari individu, dalam kerja tim, decision fatigue juga dapat merusak interaksi, memperlambat alur komunikasi, dan menurunkan efektivitas kolaborasi.
Orang yang lelah (decision fatigue) cenderung kurang sabar, cepat frustrasi, dan lebih emosional. Satu individu yang mengalaminya bisa menciptakan suasana kerja yang tidak kondusif, misalnya karena pekerjaannya melibatkan orang lain. Efek emosi ini bersifat menular, memengaruhi anggota tim lainnya dan menciptakan ketegangan tak kasat mata.
Ketika beban keputusan tidak dibagi secara merata, muncul ketergantungan fungsional yang menyebabkan beberapa anggota tim kewalahan. Akibatnya, muncul rasa tidak adil, kelelahan tambahan, dan menurunnya semangat kerja sama.
Bahkan, kualitas rapat tim dan partisipasi individu bisa menurun drastis saat tekanan mental meningkat. Semua ini menunjukkan bahwa tim adalah ekosistem yang rentan terhadap gangguan kognitif kolektif sehingga memerlukan perlindungan bersama.
Banyak studi memperkuat kesimpulan tersebut. Studi di British Journal of General Practice, misalnya, membuktikan bahwa dokter di ruang gawat darurat mengalami penurunan kualitas pengambilan keputusan seiring lamanya sif. Dampaknya bisa fatar, termasuk pilihan pengobatan yang tidak tepat serta penetapan resep yang tidak perlu.
Bagi olahragawan, kelelahan dapat mengganggu pemrosesan kognitif atlet sehingga ia menjadi kesulitan memilih dan mengontrol gerakan yang seharusnya diputuskan secara cepat.
Keputusan Buruk Menciptakan Borok di Organisasi
Dalam jangka panjang, decision fatigue menggerus produktivitas. Kondisi itu membuat seseorang lebih impulsif, sering melakukan kesalahan, dan cenderung menunda keputusan penting. Tekanan berulang tersebut menyebabkan proyek terlambat, tenggat terlewat, kualitas kerja merosot, bahkan memengaruh emosi seseorang.
Masalahnya, problem individu itu tak hanya berdampak pada dirinya sendiri, melainkan merembet hingga ke tubuh organisasi dan orang-orang lain di dalamnya.
Jika banyak karyawan mengalami decision fatigue, produktivitas organisasi pun bakal turun. Kerugian finansial, konflik dalam tim, hingga turnover karyawan, adalah dampak nyata dari fenomena tersebut.
Kalaupun tidak berdampak langsung, masalah pengambilan keputusan yang ada pada satu individu dapat menular ke orang lain secara emosional. Kinerja individu yang menurun membuat motivasi rekan lain turut tereduksi, baik karena iri ataupun terbawa suasana. Lebih jauh, hal itu bisa memunculkan rasa frustasi di beberapa individu yang akhirnya menyebar ke orang lain, menciptakan lingkungan tim toksik dan kurang mendukung.
Belum lagi jika "penyakit" pengambilan keputusan ini menjangkit pimpinan organisasi. Hal itu menjadikan segalanya menjadi kacau. Keputusan yang buruk atau tidak tepat waktu, misalnya respons lambat terhadap krisis, dapat merusak kepercayaan bawahan, rekan kerja, pelanggan, pemangku kepentingan, hingga integritas organisasi.
Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey & Company menemukan bahwa hanya kurang dari setengah dari 1.200 responden melaporkan bagaimana para manajer mengambil keputusan tepat waktu. Sisanya, sebanyak 61 persen dilaporkan tidak efektif dalam mengambil keputusan.
Strategi Mengatasi Decision Fatigue
Pengelolaan decision fatigue dapat dimulai dari langkah kecil setiap hari. Salah satunya adalah mengurangi beban keputusan harian melalui rutinitas yang konsisten. Menyiapkan pakaian atau menu makan mingguan dapat menghemat energi untuk fokus pada hal penting. Lihat contohnya seperti yang dilakukan Steve Jobs dan Mark Zuckerberg; mereka mengenakan pakaian yang sama setiap hari untuk menghilangkan setidaknya satu tanggungan pengambilan keputusan.
“Kamu akan lihat aku hanya memakai jas abu-abu atau biru,” tukas Obama seperti yang dikatakannya pada Vanitiy Fair.
Penentuan waktu pengambilan keputusan juga penting. Pagi hari, saat energi mental masih banyak, dapat dimanfaatkan untuk membuat keputusan penting. Sementara itu, tugas-tugas ringan bisa dijadwalkan di sore hari. Mengombinasikan itu dengan istirahat teratur dan gaya hidup sehat dapat membawa manfaat lebih banyak, misalnya dengan teknik Pomodoro: bekerja selama 25 menit dan rehat 5 menit sampai jam kerja selesai.

Sayangnya, meskipun strategi individu penting dilakukan, penyebab kelelahan keputusan sering kali bersifat sistemik. Karena itu, organisasi berperan krusial dalam mencegah dan mengurangi tekanan ini.
Organisasi dapat mengurangi dampaknya dengan menerapkan strategi yang mendukung kesejahteraan kolektif, seperti budaya istirahat selama rapat panjang, penyusunan kerangka tugas yang jelas, dan menumbuhkan budaya keselamatan psikologis. Perihal terakhir artinya menciptakan ruang tempat anggota tim dapat mencari dukungan tanpa takut dihakimi.
Membangun struktur kerja yang jelas dan mendokumentasikan proses yang sederhana juga bisa mengurangi beban mental karyawan. Perangkat seperti Matrix Eisenhower dapat membantu mempermudah proses memilih dalam memprioritaskan tugas sesuai kebutuhan dan urgensi.
Penting juga untuk mendistribusikan tanggung jawab secara adil agar tak satu orang menanggung seluruh beban. Ini tidak hanya mencegah kelelahan, tetapi juga mendorong kolaborasi dan inovasi.
Pengembangan kecerdasan emosional tim, melalui pelatihan empati dan komunikasi efektif, dapat memperkuat daya tahan kolektif dalam menghadapi tekanan. Dukungan dari rekan, mentor, dan pimpinan dapat, bisa mengurangi tekanan dalam pengambilan keputusan. Komitmen terhadap kesehatan mental, prioritas kerja, dan adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan juga bisa mengurangi beban kognitif harian.
Pemimpin dan profesional harus peka terhadap tanda-tanda kelelahan ini. Dengan edukasi, dukungan dan sistem kerja profesional, organisasi dapat menciptakan lingkungan yang menjaga kesejahteraan karyawan dan akurat dalam mengambil kualitas keputusan.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































