Optimisme Palu, Sigi, dan Donggala Pulih dari Bencana Gempa

Oleh: Mawa Kresna - 2 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Anak-anak muda dan warga lintas iman di Palu, Sigi, dan Donggala bahu-membahu membuat posko-posko mandiri pasca-gempa.
tirto.id - Menjelang Magrib, Ferry Rangi sibuk di posko tenda di depan rumahnya di Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi. Ia tak sendiri. Ada duapuluhan anak muda yang bekerja. Sebagian ada yang menguras bensin motor untuk dipindah ke genset, sebagian lain ada yang memasak di dapur umum.

Warga membawa bahan makanan yang tersisa di kulkas rumah. Senin sore kemarin, tiga hari pasca-gempa, persediaan makanan tinggal beras dan kubis. Mereka lantas memasak nasi dan sayur kubis untuk makan malam sekitar 50-an orang.

“Karena pasar belum ada yang operasi, apa yang tersisa di dalam kulkas, itu yang kami bawa ke sini untuk makan bersama,” kata Ferry.

Posko kecil itu dimulai sejak dua hari lalu setelah gempa dan tsunami mengguncang Kota Palu, kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi. Warga di sekitar rumah Ferry berinisiatif membangun posko pengungsi dan informasi bagi orang yang mencari keluarganya.

Mereka disatukan sebagai korban gempa. Ferry sendiri berkata "beruntung" karena rumah warga di kompleks itu masih utuh, hanya retak di beberapa tempat. Mereka jauh lebih beruntung dari desa tetangga di Sigi Biromaru yang rusak parah.

“Kita tahu sama-sama susah, karena itu kami inisiatif saling membantu,” ujar Ferry.


Kemanusiaan Menyatukan Identitas

Semangat saling membantu itulah yang membuat Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) Jemaat Pniel Palu membuta posko gempa. Posko ini dikoordinasi oleh Erisandi, anak dari pendeta GPID Pniel. Lokasi gereja tersebut di Besusu Tengah.

Sejak hari pertama gempa, gereja mengordinasikan jemaatnya untuk membuka posko. Para jemaat yang takut tinggal di rumah menginap di gereja sampai merasa tenang dan gempa susulan mulai jarang terasa. Barulah pada Senin kemarin, jemaat sudah berani pulang ke rumah masing-masing.

“Mulai hari ini jemaat hanya datang untuk mengambil makanan dan minuman,” kata Erisandi.

Semula posko ini dibuka untuk jemaat gereja. Usai gempa dahsyat itu, gereja terlebih dahulu memastikan para jemaat selamat dari bencana. Setelahnya, mereka mengajak para pemuda dan pemudi gereja menjadi relawan.

Mengingat banyak warga yang membutuhkan makanan dan minuman, gereja pun membuka posko untuk umum. Jemaat memberi bantuan tanpa melihat agamamu apa, sukumu apa, pandangan politikmu apa dan sebagainya. Urusan kemanusiaan menjadi lebih penting dari sekadar baju yang kamu kenakan sehari-hari.

“Semua orang bisa datang ke kami kalau butuh. Tapi memang ini kondisinya serba terbatas karena sampai sekarang bahan makanan juga sudah mulai menipis,” ujar Erisandi.


Sikap serupa ditunjukkan oleh para relawan posko gempa di Masjid Al-Abraar di Desa Tinggede, Sigi. Posko ini dikoordinasi oleh Syafar, seorang tetua masjid. Berbeda dari posko lain yang fokus pada penyediaan makanan dan minuman, posko di masjid ini merupakan posko kesehatan.

“Ada satu tenaga medis yang sedia 24 jam di sini. Ada juga relawan dari mahasiswa perawat,” kata Syafar kepada Tirto, tiga hari setelah gempa.

Meski dibuka di masjid, posko tidak hanya melayani penyintas gempa beragama Islam. Semua orang bisa berobat di sana secara gratis. Namun, lagi-lagi, tenaga relawan posko masih sangat terbatas. Khususnya karena faktor tenaga medis dan "obat-obatan sudah mulai menipis,” kata Syafar.

Sementara di sekitar masjid, warga membuka dapur umum. Setiap lima rumah membuat satu dapur umum yang memasak makanan bukan hanya untuk mereka melainkan untuk membantu penyintas lain.

Infografik HL Indepth Gempa dan Tsunami Sulawesi

Menggalang Optimisme di tengah Bencana

Di tengah kepanikan sosial dan tatanan yang mendadak berubah pasca-gempa, kehadiran posko-posko mandiri memberi wajah berseri dari masyarakat Palu dan Sigi yang tangguh menghadapi bencana. Warga Sulawesi Tengah tak hanya berteman dengan bencana alam seperti yang terjadi saat ini, melainkan mereka juga pernah menghadapi konflik komunal pasca-Reformasi 1998.

Saat kekerasan komunal itu meledak di Poso, sekitar tiga jam dari Kota Palu, ketegangan yang dibumbui sentimen Islam-Kristen ini merambat juga ke Palu sebagai ibu kota provinsi. Bermula pada peristiwa kriminal di jalan pada Desember 1998 pada malam Natal, yang bertepatan juga dengan bulan puasa, kekerasan itu meruncing jadi sentimen agama di seantero Poso.

Tensi konflik baru berangsur menurun setelah Deklarasi Malino pada 20 Desember 2001. Deklarasi ini sangat berarti dalam mengurangi konflik terbuka di antara dua pemeluk agama di Sulawesi Tengah.


Lian Gogali, pendiri Mosintuwu yang bergiat dalam pemulihan korban konflik Poso, segera membentuk jaringan relawan bersama teman-temannya untuk membantu para korban gempa di Palu, Donggala, dan Sigi. Mereka terus berkomunikasi dengan posko di Tentena, Donggala, dan Palu. Lewat akun Twitternya, Lian rutin memperbarui keadaan pasca-gempa.

"Kami bertahan dengan jaga kewarasan," ujar Lian.

Kini sinyal untuk bangkit dari keterpurukan, baik dari konflik sosial maupun bencana gempa dan tsunami, kembali diaktifkan. Khusus warga di Kota Palu, Sigi, dan Donggala mengenal fiolosfi nosarara nosabatutu dari bahasa Kaili. Artinya, bersaudara dan bersatu.

Mereka kini bersatu untuk menggalang optimisme.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight