Menuju konten utama

Jeritan Warga Sigi dan Donggala Menanti Uluran Logistik

Hingga hari keempat gempa, 1 Oktober 2018, bantuan logistik masih terfokus di Kota Palu.

Jeritan Warga Sigi dan Donggala Menanti Uluran Logistik
Sejumlah toko dan gudang yang rusak akibat diterjang gempa dan tsunami berkekuatan 7,4 SR di kawasan Pergudangan Kabupaten Donggala, Sulteng, Senin (1/10/2018). ANTARA FOTO/Amirullah

tirto.id - "Allahuakbar... Allahuakbar..."

Kuswanto Roy, 47 tahun, meneriakkan takbir ketika gempa dengan magnitudo 7,7 Skala Richter mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala. Warga Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, ini sedang berada di dapur, sementara anaknya, 17 tahun, dan keponakannya sedang di ruang tamu. Sontak mereka berhamburan keluar rumah dan merebahkan badan ke tanah dengan posisi tiarap.

"Bangunan rumah [saya] langsung roboh. [Juga] sekolah Dasar Negeri Lolu, tempat saya mengajar, [yang letaknya] di samping rumah," kata Roy lewat WhatsApp, Senin kemarin, 1 Oktober.

Roy menyaksikan warga terjungkal saat melintasi jalan. Pekik takbir dan tangis terdengar susul-menyusul. Listrik padam. Teriakan minta tolong dari anak kecil dan orang tua terdengar dari arah reruntuhan rumah.

Dibantu anaknya, Roy berupaya mengeluarkan korban dari reruntuhan itu. Namun, tenaga mereka tak kuasa mengangkat puing-puing rumah. Mereka harus menyudahi kekalutan itu karena tanah yang mereka pijak berdenyut lagi. Dengan sepeda motor, Roy dan anak-anak harus meninggalkan mereka, bergegas menyelamatkan diri ke desa lain.

"Saya naik motor bersama tiga anak kecil, sedangkan anak [saya] naik motor berdua dengan [satu] orang tua dan [satu] anak kecil untuk mengungsi," ujar Roy mengenang malam mereka melintasi jalan aspal terbelah dan air lumpur mengucur deras hingga bikin aspal jalan tertutup.

Di sekitarnya, di Kabupaten Sigi, sedikitnya ada empat desa dilumat lumpur. Salah satunya adalah Desa Jono Oge. Menurut kesaksian warga di sana, tinggi lumpur mencapai enam meter.

Roy bahkan sempat merekam peristiwa tanah yang berubah jadi lumpur dan ambles dan menelan rumah-rumah warga di Desa Jono Oge dan Desa Lolu.

Ferry Rangi, dosen antropologi di Universitas Tadulako dari Desa Kalukubula, mengatakan Desa Jono Oge menjadi wilayah terparah di Sigi pasca-gempa. Ia mendengar cerita dari anak tetangga bersama temannya dari SMA Negeri Dua Palu, yang saat gempa tengah bermain bola di desa tersebut.

"Tiba-tiba lapangan bola terbelah dua ... lumpur keluar dari bawah tanah. Temannya tergeser ke bawah dan tergulung oleh lumpur," ujar Ferry kepada saya, dua hari setelah gempa.

Roy berkata ada anggota keluarganya yang meninggal, "Rumahnya terbawa arus lumpur dan tertimbun."

Infografik HL Indepth Gempa dan Tsunami Sulawesi

Masalah Distribusi Logistik

Empat hari setelah gempa melanda Donggala, Palu, dan Sigi, distribusi logistik untuk korban belum merata. Banyak mobil bantuan tertahan, misalnya bantuan dari Telkomsel dan Bank Syariah Mandiri. Bahkan, mobil rombongan media TVRI dihentikan untuk dimintai logistik oleh korban gempa.

"Mereka menahan mobil dan meminta makanan. Mereka mengambil seperlunya saja," kata Pian Rayu, relawan Posko Donggala, kepada Tirto melalui WhatsApp, Minggu lalu.

Para pengungsi dari Donggala menyetop mobil bantuan karena distribusi logistik masih terpusat di Kota Palu. Mengingat kontur geografis Sulawesi yang berbukit-bukit, sementara jalan-jalan raya terbelah dan longsor serta jalur pantai tersapu tsunami, gerak bantuan susah payah menembus akses-akses ke kawasan pedalaman. Hal inilah yang terjadi pada korban-korban gempa di Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Mamuju Utara (Sulawesi Barat).

Distribusi bantuan ke Palu, hingga hari keempat pasca-gempa, baru bisa melalui jalur darat dan hanya bisa diakses lewat dua wilayah: timur dan barat Sulawesi.

Tim evakuasi dari Basarnas atau BNPB serta relawan dari Gorontalo, Manado, dan Kendari bisa melalui jalur timur sebagai jalur terdekat. Wilayah ini akan melewati Kebun Kopi, yang berbatasan dengan Parigi Moutong. Sementara bantuan dari Mamuju dan Makassar melewati wilayah barat, yang melintasi Pasangkayu dan Donggala, dua wilayah terdampak gempa.

"Yang dari Makassar dan daerah lain melalui darat, seharusnya bisa menyisihkan sebagian dulu untuk di sini, kan? Tapi faktanya hanya melewati saja," kata Sofandi Sohar, korban gempa di Donggala, kepada Tirto, Minggu lalu.

Sofandi mengatakan hingga hari keempat, urunan bantuan kebutuhan pokok di pos pengungsian, terutama di depan Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Donggala, masih dari swadaya masyarakat serta sisa persediaan di rumah-rumah. Sofandi setengah mati berharap bahwa bantuan dari Tim Basarnas bisa segera mencapai wilayahnya.

Di Kabupaten Sigi, hal sama diutarakan oleh Ferry Rangi maupun Kuswanto Roy. Ada ribuan warga korban gempa yang menunggu bantuan pangan dan kebutuhan pokok lain. Mereka terkonsentrasi di kecamatan Sigi Biromaru di desa-desa seperti Lolu tempat Roy tinggal.

Sejalan makin terkoordinasinya peta bantuan, Roy berharap bahwa tim Basarnas dan relawan bisa cepat bergerak memecahkan problem ini. Dan, ia sangat berharap bantuan itu bisa tiba ke posko pengungsiannya hari ini.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan lainnya dari Reja Hidayat

tirto.id - Mild report
Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Maulida Sri Handayani