Benarkah Likuifaksi Sebabkan Rumah-Rumah Berjalan di Sigi?

Warga mengangkut sisa-sisa barang yang masih selamat dari dampak gempa Palu di Perumnas Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). tirto.id/Arimacs Wilander
Oleh: Tony Firman - 1 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Beredar video viral yang menunjukkan rumah, pepohonan, dan bangunan lainnya berjalan dan amblas ditelan bumi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Para ahli belum sepakat soal fenomena itu.
tirto.id - Wilayah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah diguncang gempa besar berkekuatan magnitude 7,4 Skala Richter pada pukul 17.02 WIB, Sabtu (28/9/2018) kemarin. Berdasarkan rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer pada 27 kilometer timur laut Donggala.

Gempa tersebut menyebabkan tsunami di beberapa wilayah di Palu dan Donggala serta membuat kerusakan infrastruktur, terputusnya aliran listrik, hingga jatuhnya korban jiwa. Salah satu video yang viral beredar memperlihatkan rumah, pepohonan, dan bangunan lainnya tampak bergerak amblas dan terseret tanah yang berubah menjadi seperti lumpur hidup.

Video tersebut mendapat tanggapan dari Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Dalam akun resmi Twitter-nya, ia mengatakan bahwa kemunculan lumpur di permukaan tanah adalah fenomena likuifaksi.

"Munculnya lumpur dari permukaan tanah yang menyebabkan amblasnya bangunan dan pohon di Kabupaten Sigi dekat perbatasan Palu akibat gempa 7,4 SR adalah fenomena likuifaksi (liquefaction). Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan," kicau Sutopo pada Minggu (30/9/2018) pagi, disertai video yang dimaksud.

Jika di Kabupaten Sigi muncul fenomena pergerakan tanah yang disebut Sutopo sebagai fenomena likuifaksi, di Kota Palu sejumlah sumur bor terus mengeluarkan pancaran air.

"Ini [air] irigasi meluap. Ada sumur-sumur bor airnya keluar terus. Mungkin gara-gara efek gempa itu, ya," ujar Agus Wisudawan, warga Jalan Zebra Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu kepada Tirto pada Jumat (28/9/2018) malam, beberapa jam setelah gempa besar disertai tsunami.

Di daerah lain, tepatnya di Desa Salugatta, Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat pada Sabtu (29/9/2018) siang muncul fenomena semburan lumpur disertai kobaran api di sebuah area perkebunan sawit setelah gempa.

Ketiga fenomena ini cukup menarik perhatian. Terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan setelah diguncang gempa bumi. Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Adakah ketiga peristiwa tersebut saling berkaitan dengan aktivitas kegempaan?


Masih Menjadi Perdebatan

Likuifaksi atau pencairan tanah bak bubur yang terjadi setelah gempa sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Saat gempa besar di Lombok Agustus lalu, misalnya, likuifaksi terjadi di sejumlah daerah pesisir. Saat gempa Yogyakarta 2006 dan 2007 likuifaksi terjadi masing-masing di Bantul dan Pleret. Begitu pula di daerah sepanjang pesisir barat pantai Sumatra Utara sampai Kota Padang yang punya potensi likuifaksi tiap kali gempa mengguncang.

Berbeda dengan keterangan Sutopo, Sukmandaru Prihatmoko, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), sejauh ini belum bisa memastikan secara akurat apakah fenomena pergerakan tanah di Kabupaten Sigi itu termasuk sebagai likuifaksi. Sampai hari Minggu (30/9/2018), pihaknya belum mendapat titik koordinat di mana lokasi pada rekaman tersebut, sehingga sulit untuk mengevaluasi likuifaksi berdasarkan tempat kejadiannya.

Analisis awal Sukmandaru berdasar video yang beredar mengarah ke dua kemungkinan. Pertama karena gerakan tanah, kedua gejala likuifaksi itu sendiri.

"Likuifaksi itu singkatnya ada material batuan yang belum solid di bawah. Tapi sudah ketimpa lapisan batuan lain dan yang atas ini mengeras kira-kira setebal tiga sampai lima meter. Sedangkan di bawahnya masih lembek kayak jel lumpur. Nah, karena mengira tanah sudah padat, masyarakat lalu membangun rumah di atasnya. Pada saat gempa terjadi, baik material lembek maupun yang di atas bergoyang, sehingga yang lembek naik ke atas permukaan. Jadi seolah-olah menyembur," ujar pria yang akrab disapa Daru ini kepada Tirto, Minggu (30/9/2018) sore.



Kekuatan dan daya dukung tanah yang menurun karena getaran akibat gempa inilah yang kemudian tidak mampu menahan berat apapun di atasnya. Akibatnya bangunan yang ada di permukaan akan tenggelam bak ditelan bumi.

Namun, yang masih membuat Daru ragu, likuifaksi lazim terjadi di daerah pesisir pantai di mana terdapat hamparan pasir lepas. Sementara letak Kabupaten Sigi cukup jauh dari daerah pantai. Jikapun tidak di dekat pesisir, biasanya terjadi di bekas rawa dan danau yang tertimpa material keras.

"Kalau gerakan tanah, yang agak menyangkal itu kan daerahnya flat, datar-datar aja, kan. Nah, gerakan tanah itu sendiri membutuhkan kelerengan yang cukup untuk menggerakkan material dari bukit. Sehingga digoyang gempa dia bisa berjalan. Atau bisa saja kombinasi keduanya. Artinya, ada likuifaksi dan kelerengan sedikit, sehingga [rumah-rumah] berjalan," paparnya.



Senada dengan Daru, Adrian Tohari selaku Peneliti Longsor dan Gerakan Tanah dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI juga masih menyangsikan apakah benar fenomena di Kabupaten Sigi tersebut adalah likuifaksi. Adrian lebih cenderung melihat itu sebagai tanah amblas atau longsor.

Adrian menyebut, fenomena likuifaksi mesti memenuhi syarat yaitu kondisi tanahnya adalah tanah pasir yang sifatnya lepas, permukaan air tanahnya harus dangkal, dan skala gempa Modified Mercalli Intensity (MMI) mencapai di atas 6 atau di atas 6,5 Skala Richter.

"Kecenderungan saya, kemungkinan di situ dulunya rupa bumi berupa cekungan yang terisi endapan, kemudian dia turun amblas," ujar Adrian kepada Tirto, Minggu (30/9), merujuk pada wilayah Kabupaten Sigi yang bukan di daerah pesisir. "Tapi apakah itu masuk fenomena likuifaksi atau bukan belum bisa saya ketahui."


Ketika ditanya mengenai bangunan rumah yang tampak mengalir di atas tanah lumpur seperti longsor namun terlihat landai, Adrian menganalisis, "Kalau terseret, kelihatannya tanahnya bergerak. Kenapa dia bisa bergerak, berarti sifat tanahnya tidak padat atau labil, lalu kena getaran. Nah, ada topografi bawah permukaan yang kemungkinan agak curam yang membuat tanah itu seolah-olah kayak longsor. Jadi kayak keseret ke bawah," beber Adrian.

Sementara laporan mengenai fenomena semburan lumpur disertai nyala api di Mamuju, Sulawesi Barat, disebut Adrian sangat memungkinkan sebagai efek dari guncangan gempa Palu. "Kalau keluar air disertai pasir itu saya sebut likuifaksi. Tapi kalau nyala api, mungkin bersamaan dengan keluarnya gas metan yang kemungkinan karena dulunya daerah rawa. Ada gas metan terperangkap. Ketika terjadi gempa ada desakan ke atas, lalu karena suatu hal tersulut hingga mengeluarkan api," tambahnya.

Selain itu, fenomena yang bisa dijumpai setelah terjadi gempa adalah keluarnya air dari sumur seperti yang dilaporkan salah seorang warga di Kecamatan Palu Selatan. Adrian menjelaskan, getaran gempa menyebabkan tekanan di dalam lapisan tanah sehingga air mencari pelepasan lewat celah-celah termasuk dari lubang-lubang sumur dan lainnya.

"Itu semua fenomena kita sebutnya collateral hazard, bahaya ikutan. Kalau gempa, bahaya ikutannya kan tsunami dan deformasi permukaan tanah yang berupa likuifaksi. Termasuk keluar air dari sumur itu likuifaksi, kalau terjadi di daerah pesisir maupun daerah yang tanahnya belum padat," ujar Adrian.

Barangkali polemik mengenai apakah fenomena di Sigi secara pasti sebagai likuifaksi atau fenomena pergerakan tanah lainnya akan terjawab ketika tim dari LIPI atau IAGI turun ke lapangan.

Sejauh ini, menurut keterangan Adrian, tim dari Pusat Studi Gempa Nasional LIPI masih dalam tahap penyusunan jadwal untuk turun ke lokasi gempa Palu dan Donggala.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tony Firman
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight