25 Desember 1989

Nicolae Ceausescu, Diktator Komunis yang Tumbang di Hari Natal

Oleh: Eddward S Kennedy - 25 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kemarahan rakyat Rumania memicu revolusi dan menumbangkan Nicolae Ceaușescu. Ia dan istrinya dieksekusi di hari Natal.
tirto.id - Novelis Salman Rusdhie pernah melontarkan pertanyaan: “Kira-kira Natal seperti apa yang akan diminta Yesus kepada Santa Klaus”? Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada rakyat Rumania pada 1989, niscaya mereka akan menjawab lantang: “Revolusi!”

Dan memang itulah yang terjadi. Di negara sebelah selatan Ukraina tersebut, pada hari Natal 1989, revolusi meletus. Peristiwa itu berujung kepada eksekusi mati presiden Nicolae Ceaușescu beserta istrinya, Elena Petrescu, di pelataran gedung peradilan Târgoviște.

Sepanjang memerintah selama 22 tahun (1974 hingga 1989), Ceaușescu dianggap telah melakukan berbagai kecurangan dan kejahatan kemanusiaan. Mulai dari genosida terhadap para oposisi dan demonstran, korupsi uang negara, hingga menyelundupkan uang hasil korupsi ke luar negeri.

Ceaușescu dikenal sebagai diktator bertangan besi. Setiap pembangkang dipantau ketat, ditangkap, dan tak jarang pula "dilumpuhkan". Para pembangkang itu mengkritik banyak kebijakan sang diktator, sebab memang pantas untuk dikritik. Salah satu yang paling mencolok adalah ketika Ceaușescu membangun istana megah (dinamakan Istana Rakyat)—yang kala itu disebut bangunan paling besar sedunia setelah markas Kementerian Pertahanan AS, Pentagon.

Lainnya lagi adalah kegemaran Ceaușescu menumpuk utang luar negeri. Utang itu dibungkus dengan kebijakan luar negeri yang diklaim independen sehingga membuatnya bebas meminjam uang dari negara lain. Melalui kebijakan tersebut, Rumania memiliki utang besar yang pengembaliannya menghabiskan waktu hingga puluhan tahun. Ketika segala tindak-tanduknya tidak lagi bisa diterima, rakyat pun melawan rezim Ceaușescu.


Bubarnya kekuasaan Ceausescu dimulai dari kegeraman rakyat Rumania yang menganggap pemerintah tidak bersikap tegas terhadap kepada Laszlo Tokes, seorang pemuka agama asal Hungaria yang sering menghasut kebencian etnis. Aksi massa dalam skala besar pun tidak dapat terhindarkan lagi. Istana Ceausescu digempur, dilempari batu, hingga nyaris dibakar massa yang menuntut diktator itu melepaskan jabatannya.

Merasa keselamatannya terancam atas aksi brutal yang terjadi, Ceaușescu dan istrinya pun memutuskan untuk melarikan diri dari istana. Awalnya mereka mengungsi ke kediaman Ceaușescu di Snagov, lalu pindah lagi ke Targoviște. Namun, usai keduanya turun dari helikopter dan hendak melanjutkan kabur lewat jalur darat, sekelompok tentara berhasil menangkap mereka.

Ceaușescu beserta istrinya diadili secara kilat di pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berlapis: dari memperkaya diri secara ilegal hingga genosida. Usai divonis, kedua pasangan tersebut diikat lalu digiring ke luar gedung pengadilan untuk dieksekusi. Di sana sudah menunggu regu tembak yang terdiri dari anggota pasukan terjun payung elite Rumania.

Berdasarkan kesaksian Ionel Boyeru, salah satu tentara eksekutor, Ceaușescu disebut sempat menyanyikan "Internationale" ketika digiring. Sementara istrinya mengamuk sambil berkali-kali teriak: “Bangsat kalian semua!”. Setelah semua siap, tiga orang eksekutor menembakkan Kalashnikov-nya masing-masing.

Sejurus kemudian, pada hari Natal 25 Desember 1989, tepat hari ini 29 tahun lalu, Ceaușescu dan Elena tewas seketika.


Karier Cepat di Partai

Ceauşescu lahir di desa kecil Scorniceşti, Olt, Rumani pada 26 Januari 1918. Ayahnya, Andruţă, adalah seorang petani miskin yang sangat religius, hanya memiliki 3 hektare lahan pertanian dan beberapa ekor domba. Untuk menambah penghasilan, ayahnya juga turut menjahit. Dengan cara itulah ia menafkahi sembilan anaknya.

Ketika berusia 11, Ceauşescu kabur dari rumah karena tak sanggup hidup dalam tekanan keras sang ayah. Ia menuju Bucharest dan sempat tinggal bersama salah seorang saudara perempuannya, Niculina Rusescu. Dalam masa pelarian itu, Ceauşescu belajar menjadi tukang sepatu di toko milik Alexandru Săndulescu, salah seorang anggota aktif di Partai Komunis Rumania yang ketika itu dianggap ilegal oleh pemerintah.

Pada 1932, Ceauşescu ikut terdaftar sebagai anggota Partai Komunis Rumania. Usianya baru 14 kala itu, dan karenanya hanya diberikan tugas-tugas remeh. Kendati demikian, Ceauşescu melakoni berbagai kegiatan di partai dengan penuh semangat. Kelak, pamornya pun perlahan menanjak.

Sepanjang dua tahun berikutnya, Ceauşescu dua kali masuk penjara: 1933 karena perkelahian di jalan dan 1934 karena mengumpulkan tanda tangan untuk petisi yang memprotes persidangan para pekerja kereta api. Lalu pada 1936, Ceaușescu kembali masuk bui usai diketahui melakukan aktivitas politik anti-fasis secara klandestin. Kali ini, hukumannya dua tahun penjara plus enam bulan karena menghina pengadilan.

Siguranţa Statului, polisi rahasia kerajaan, menjuluki Ceauşescu sebagai "agitator komunis yang berbahaya" dan "distributor bahan propaganda komunis dan anti-fasis". Selepas dari penjara pada 1939, Ceauşescu bertemu Elena Petrescu. Berselang delapan tahun kemudian, mereka pun menikah. Kelak Elena akan memainkan peran penting dalam karier politik Ceauşescu.

Ketika Perang Dunia II usai dan Rumania mulai jatuh ke dalam pengaruh Uni Soviet, Ceauşescu menjadi sekretaris Uni Pemuda Komunis (1944–1945). Dua tahun kemudian, ia menjabat sebagai Menteri Agrikultur, lalu Wakil Menteri Angkatan Bersenjata. Pada 1954, Ceauşescu menjadi anggota penuh Politbiro dan berhasil meraih posisi tertinggi kedua dalam hierarki partai.

Pada Maret 1965, Ceauşescu menjadi sekretaris jenderal Partai Pekerja Rumania menggantikan Gheorghiu-Dej yang telah meninggal. Ceauşescu pun mengubah nama partai tersebut menjadi Partai Komunis Rumania dan menyatakan negaranya sebagai Republik Sosialis Rumania. Pada 1967, Ceauşescu sejatinya sudah menjadi Presiden Rumania secara de jure. Namun baru pada 28 Maret 1974 ia “resmi” terpilih dan mengubah istilah kepemimpinannya menjadi Presiden Dewan Negara.

Komunis yang Dekat dengan Blok Barat

Naiknya Ceauşescu ke tampuk kepresidenan membuat popularitasnya menanjak di dunia Barat. Dengan keberaniannya menempuh kebijakan luar negeri yang independen, mengakhiri partisipasi aktif Rumania dalam Pakta Warsawa (salah satunya ditunjukkan dengan menolak ikut dan mengutuk tindakan invasi Cekoslowakia tahun 1968), hingga terus menggenjot ketertinggalan ekonomi Rumania dengan menjadikan Amerika Serikat dan Eropa Barat sebagai barometernya.

Di era Ceauşescu pula Rumania menjadi negara komunis pertama yang mengakui Jerman Barat, bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF), serta menerima kunjungan Richard Nixon, presiden AS. Rumania juga menjadi anggota General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan bersama Yugoslavia mereka menjadi dua negara Eropa Timur yang terlibat dalam perdagangan bebas dengan European Economic Community sebelum runtuhnya blok komunis.

Untuk menyukseskan berbagai tujuannya tersebut, Ceauşescu membuat beberapa terobosan. Pada 1966, misalnya, pemerintahan Ceauşescu mendorong peningkatan jumlah penduduk Rumania dengan melarang aborsi dan kontrasepsi. Selain itu, mereka juga menerapkan pajak khusus bagi penduduk berusia di atas 25 yang tidak mempunyai anak. Angka perceraian pun turut ditekan dengan cara mempersulit prosesnya di birokrasi.

Usai melakukan kunjungan ke Republik Rakyat Cina, Korea Utara, dan Vietnam Utara sepanjang 1971, Ceauşescu terpincut dengan gagasan transformasi nasional secara penuh seperti Revolusi Kebudayaan di Cina. Hal ini ia sampaikan dalam pidato kenegaraan pada 6 Juni 1971 yang dikenal dengan sebutan “Tezele din iulie” (Tesis Juli).

Usaha merealisasikan revolusi kebudayaan di Rumania dimulai Ceauşescu sejak 1972. Ia mencanangkan program sistematisasi demi membangun "masyarakat sosialis multilateral yang maju". Berbagai bangunan bersejarah di pedesaan dihancurkan dan dikonstruksi ulang, bahkan Bukares sebagai ibu kota negara juga sempat dirancang kembali. Para petani pun didesak pindah ke kota demi meningkatkan industrialisasi Rumania.


Infografik Mozaik Nicolae Ceausescu
Infografik Mozaik Nicolae Ceausescu

Isolasi dan Kehancuran

Kehancuran pemerintahan Ceauşescu dimulai sejak 1978 ketika Ion Mihai Pacepa, salah satu petinggi Securitate (polisi rahasia Rumania), membelot ke AS. Papeca lalu menulis buku berjudul Red Horizons: Chronicles of a Communist Spy Chief (1986) yang membuka borok rezim Ceauşescu, mulai dari kegiatan mata-mata terhadap industri Amerika hingga upaya pembungkaman oposisi dengan melanggar HAM.

Akibat pengkhianatan Pacepa, Rumania pun menjadi semakin terisolasi. Biro intelijen Ceauşescu menjadi subjek infiltrasi oleh intelijen asing. Segala upaya dilakukannya, termasuk reorganisasi, namun semua sia-sia. Sementara negara-negara Barat lain terus mendesak Rumania membayar utangnya yang mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS.

Ceauşescu yang kewalahan lantas mengadakan referendum, mengubah susunan konstitusi, dan memutuskan untuk melarang pinjaman uang di masa depan.

Sementara untuk membayar utang, ia menggenjot ekspor produk agrikultur dan industri lain. Utang tersebut berhasil dibayar tuntas, tetapi efeknya tidak lebih buruk: ekonomi Rumania mengalami shortage dan membuat standar hidup rakyat terus berkurang. Ini sama saja seperti bom waktu. Dan bom tersebut, yang kelak mewujud dalam revolusi rakyat, akhirnya meledak tepat pada hari Natal 1989.

Pers Barat memperkirakan ada 64.000 korban tewas yang dibunuh aparat pro-pemerintah. Adapun versi pemerintah menyatakan jumlah korban jiwa tak sampai 1.000 orang.

Ceaușescu dan istrinya dimakamkan bersama di pemakaman Ghencea, Bukares. Mereka adalah dua manusia terakhir yang dihukum mati di Rumania. Pada 7 Januari 1990, negara tersebut melarang hukuman mati.

Baca juga artikel terkait SEJARAH DUNIA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Politik)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Ivan Aulia Ahsan