Menuju konten utama

Mundur dari Dirut Agrinas, Joao Mota Kritik Birokrasi Danantara

Joao menyebut berbelitnya proses administrasi di Danantara tak sejalan dengan keseriusan Presiden dalam mendorong kedaulatan pangan.

Mundur dari Dirut Agrinas, Joao Mota Kritik Birokrasi Danantara
Sejumlah karyawan keluar dari Gedung Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Jakarta, Jumat (7/2/2025). BPI Danantara telah dibentuk melalui pengesahan RUU tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN menjadi UU akan mengelola dan mengoptimalkan seluruh aset dan investasi BUMN. ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/YU

tirto.id - Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengungkapkan alasan dirinya mengundurkan diri dari jabatannya. Salah satu alasannya adalah sistem birokrasi di BPI Danantara yang berbelit yang dianggapnya menghambat akselerasi program pangan nasional.

“Danantara dibentuk sebagai suatu badan baru untuk mempercepat atau mempersingkat proses-proses kegiatan yang sifatnya lebih kepada bisnis, bukan lagi membangun suatu birokrasi yang sangat panjang berbelit-belit, yang hampir tidak mungkin kita wujudkan,” katanya dalam konferensi pers hari ini, Senin (11/8/2025).

Joao mengaku frustasi dengan lambannya proses administratif di Danantara, dan menilai badan yang seharusnya menjadi katalisator percepatan proyek strategis ini justru menjadi penghambat.

Dia mencontohkan, selama enam bulan menjabat pihaknya sudah empat kali diminta untuk membuat laporan feasibility studies (FS) oleh Danantara. Hal ini menurut berbelit-belit. Bahkan, anggaran untuk perusahaan pun belum cair seperser pun.

“Itulah birokrasi-birokrasi yang masih tetap dipertahankan dan dipraktikkan di dalam Danantara, sehingga sampai hari ini pun kami masih dimintakan lagi FS yang sampai hari ini mungkin sudah ketiga atau keempat kali yang kami serahkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, birokrasi Danantara justru bertolak belakang dengan mandat Presiden untuk memangkas prosedur yang menghambat.

Joao menyayangkan sikap Danantara yang dinilai tidak selaras dengan keseriusan Presiden dalam mendorong kedaulatan pangan.

“Presiden yang ingin memotong atau mempercepat administrasi itu yang selama ini menghambat di mana para pembantunya selalu bilang ‘iya Pak’, tapi tidak ada yang mengeksekusi dan kita bertelit-telit dan tidak fokus,” ucapnya.

Mengaku malu karena gagal memberikan kontribusi konkret, Joao pun memilih mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban.

"Saya sangat malu memimpin perusahaan ini selama enam bulan tanpa bisa berkontribusi. Saya tidak mau menyalahkan anak buah, karena kegagalan ini adalah tanggung jawab saya sebagai pemimpin," tuturnya.

Lebuh jauh Joao mengungkapkan bahwa dirinya tidak cocok bekerja dalam sistem birokrasi yang berbelit semacam ini. Sebagai pengusaha yang berasal dari pihak swasta dia terbiasa bekerja dengan cepat dan taktis dan berorientasi profit.

Sehingga, daripada merasa tidak dapat berkontribusi banyak terhadap industri pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani, ia lebih memilih mundur.

“Budaya ini ternyata sangat jauh daripada apa yang kami praktikkan selama ini. Sehingga saya melihat semangat dan keseriusan Pak Prabowo untuk mewujudkan itu yang luar biasa tidak didukung oleh para pembantu-pembantunya termasuk Dananya masih terbelenggu dengan administrasi yang sangat panjang, rumit bertumpang tinggi dan tidak pernah selesai. Sehingga sudah 6 bulan kami masih belum bisa melakukan apapun,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana