tirto.id - Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (PM), Muhaimin Iskandar alias Imin, menyatakan Pemerintah Pusat bakal mengevaluasi pondok pesantren (ponpes) yang gedungnya rawan roboh. Hal ini disampaikan Muhaimin usai robohnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengakibatkan 64 korban meninggal.
Selain mengevaluasi bangunan rawan roboh, Muhaimin menambahkan, pemerintah akan mengevaluasi pondok pesantren dengan bangunan berusia tua. Mengingat, sejumlah pondok pesantren disebut telah berusia 100-200 tahun.
"Mana yang diprioritaskan, kami sudah memutuskan, yang kami priortaskan adalah yang paling rawan, yang kedua, yang paling tua, itu dua prioritas," ucapnya usai berkoordinasi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait pondok pesantren, di Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).
Menurut Imin, sejumlah bangunan pondok pesantren rawan roboh lantaran dibangun tidak sesuai standar pembangunan bangunan. Ia mengaku ada tiga penyebab pondok pesantren tak memenuhi standar tersebut. Pertama, pihak ponpes disebut tidak memiliki anggaran yang cukup.
Lalu, ponpes telah didirikan saat pengetahuan soal pembangunan gedung masih minim.
Kemudian, pihak ponpes berupaya menjaga independensi masing-masing. Imin menyatakan Kemenko PM berupaya berkomunikasi dengan pihak pondok pesantren se-Indonesia agar menyadari pentingnya struktur bangunan.
"Kami ingin terus melakukan koordinasi agar pesantren mau beradaptasi untuk menanggulangi ancaman-ancaman rawan dari segi bangunan fisik," tuturnya.
"Atas perintah Pak Presiden [Prabowo Subianto, itu saya akan terus mengambil langkah cepat, terutama memprioritaskan kepada pesantren-pesantren yang memang penar-benar sangat rawan untuk segera kita tangani," sambung dia.
Sebagai informasi, robohnya Pondok Pesantren Al-Khoziny menimbulkan 64 korban meninggal dunia per 6 Oktober 2025. Sementara itu, sebanyak 104 orang selamat dari insiden yang sama.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































