7 Oktober 2011

Moerdiono: Berperan Bubarkan PKI, lalu Jadi Jubir Soeharto

Moerdiono. Tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 7 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Moerdiono adalah salah satu pembantu Soeharto paling setia. Pada 10 tahun terakhir masa kekuasaan presiden kedua itu, Moerdiono berperan sebagai juru bicaranya.
tirto.id - Waktu lulus Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang pada 1957, usia Moerdiono baru 23. Seharusnya dia berkarier di Departemen Dalam Negeri. Dengan karier tersebut, dia bisa jadi lurah, camat, atau birokrat lainnya. Tapi Moerdiono ikut wajib militer. Kala itu militer sedang membutuhkan ahli administrasi.

Sebelum jadi letnan dua, seperti dicatat Derek Manangka dalam Pak Moer-Poppy The Untold Story (2012: 247), bersama Safroedin Bahar, dia dilatih dulu di Sekolah Calon Perwira (Secapa) tahun 1959 di Yogyakarta.

Sekitar 1966, ketika sejarah Indonesia berubah dan Presiden Sukarno hendak jatuh, jalan karier Moerdiono mulai bersinar. Kariernya bukan sebagai perwira tempur, melainkan perwira staf yang bekerja di belakang meja. Kegagalan G30S 1965 dan posisi Angkatan Darat yang makin kuat membuatnya terlibat dalam sejarah. Dia tak pernah lupa masa-masa yang penuh ketidakpastian itu.

“Saya mengenakan pakaian dinas lapangan, dengan pistol F-46 di pinggang, dengan tanda pangkat Letnan Satu Infantry di leher baju. Suasana politik di Ibukota khususnya dan di seluruh tanah air umumnya sangat panas. Tidak menentu. Tegang,” kenang Moerdiono dalam artikelnya tentang Soeharto berjudul "Bapak, Pemimpin dan Negarawan" yang dimuat di buku Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun (1991: 331-352).

Kala itu, seperti dicatat dalam autobiografi Letnan Jenderal Sudharmono, Sudharmono SH: Pengalaman Dalam Masa Pengabdian (1997), Moerdiono adalah staf dari Letnan Kolonel Sudharmono di Penguasa Perang Tertinggi (Peperti).


Membantu Pembubaran PKI

Setelah 1966, Moerdiono menjadi sekretaris tim politik. Suatu kali, ia diutus pergi ke rumah Mayor Jenderal Soeharto di Jalan Agus Salim nomor 98, Menteng untuk menghadap. Saat itu, Soeharto adalah pucuk pimpinan Angkatan Darat yang tersisa setelah Letnan Jenderal Ahmad Yani terbunuh dalam G30S. Seusai menanti sambil duduk-duduk di kursi, seorang laki-laki berkaos oblong, bersarung, dan bersandal mendekatinya.

“Ada apa, dik?” kata laki-laki itu.

Setelah menoleh, Moerdiono ambil posisi siap dan beri hormat ala tentara. Laki-laki itu adalah Mayor Jenderal Soeharto.

Seperti diakuinya dalam buku Diantara Para Sahabat, Moerdiono heran dengan panggilan “dik” dari Soeharto. Padahal seharusnya Soeharto cukup memanggil dia letnan. Tapi Moerdiono terima saja keadaan yang membuatnya kagum itu. Dia harus melaksanakan tugas. Kepada Soeharto, map-map dokumen yang dibawa Moerdiono diserahkan. Soeharto membacanya dan berusaha memahami isinya.

“Baik. Dan terimakasih,” kata Soeharto.

Setelah itu, Moerdiono undur diri dan kembali ke kantornya. Moerdiono orang yang sangat sibuk pada Maret 1966 itu. Pada tanggal 11, Soeharto diberi perintah oleh Sukarno untuk mengamankan dan menegakkan ketertiban di Indonesia. Perintah tersebut tertuang dalam Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).


Kala itu, Partai Komunis Indonesia dianggap banyak pihak sebagai biang kerok kacaunya keamanan Indonesia, karena partai ini dituding sebagai otak dari G30S yang dipimpin Letnan Kolonel Untung. Banyak tuntutan agar partai ini dibubarkan.

Angkatan Darat dengan terbuka mengakomodasi tuntutan ini. Sudharmono, dalam artikel berjudul "Beberapa Kesan Saya Mengenai Pak Harto" dalam buku Diantara Para Sahabat, mengaku dapat perintah dari Mayor Jenderal Soetjipto untuk menyiapkan sebuah surat keputusan Presiden/Pangti ABRI/KOTI tentang Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya. Surat tersebut harus jadi malam itu juga (hlm. 6).

Perintah menyiapkan surat keputusan diterima Sudharmono pada pukul 10 malam di tanggal 11 Maret 1966. Sudharmono belum tahu soal keluarnya Supersemar. Semalaman dia melembur di kantor Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) bersama Moerdiono.

Ketidaktahuan soal Supersemar membuat keduanya berpikir keras. Sudharmono dan Moerdiono belum menemukan landasan hukum yang dirasa kuat.

Pada sebuah seminar, seperti dicatat Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang (2010: 181), Moerdiono menceritakan: “Waktu itu pangkat saya masih letnan, ditugaskan oleh atasan langsung saya, Letnan Kolonel Soedharmono, membikin konsep mengenai pembubaran PKI. Salah satu gagasannya, mengacu kepada Penetapan Presiden Nomor 7/1959, partai politik yang terlibat pemberontakan harus dibubarkan.”

“Saya dan Saudara Moerdiono berdebat agak mendalam. Saya menunjuk pada Penpres tentang Kepartaian yang berlaku dan organisasi Kopkamtib sebagai dasar hukumnya. Di lain pihak, kedua hal ini dianggap oleh Saudara Moerdiono masih kurang kuat, karena justru Presiden Soekarno secara politis tidak menghendaki pembubaran PKI,” aku Sudharmono di buku Diantara Para Sahabat.


Perdebatan Moerdiono dan Sudharmono itu tersudahi setelah Brigadir Jenderal Boediono tiba di MBAD. Ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 tanggal 12 Maret 1966. Boediono hendak memfotokopi sebuah surat perintah penting. Itulah Supersemar. Sudharmono minta satu salinan.

“Dengan adanya Supersemar itu maka terselesaikanlah masalah dasar hukum yang kita perdebatkan tadi. Setelah konsep Keppres/Pangti ABRI/KOTI diketik bersih, maka dengan secepatnya pula dikirimkan kepada Jenderal Sutjipto yang masih rapat di Markas Kostrad,” tutur Sudharmono.

Esoknya, Sudharmono menerima Salinan Keppres/Pangti ABRI/KOTI Nomor 1/3/1966 yang berbunyi sama seperti konsep yang dirumuskannya bersama Moerdiono. Bedanya pada kalimat “dengan berpegang teguh pada lima azimat Revolusi Indonesia” dari Soeharto yang ingin terlihat loyal kepada Sukarno. Begitulah bantuan Moerdiono pada Soeharto dan jasanya dalam pembubaran PKI.



Mensesneg sekaligus Jubir

Sudharmono kemudian menjadi Sekretaris Presidium Kabinet Ampera. Moerdiono tak jauh darinya. Jabatan dan pangkat kemudian naik perlahan. Ketika Sudharmono menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Moerdino termasuk salah satu asisten khususnya, selain Ginandjar Kartasasmita. Karier Moerdiono tergolong bagus.

“Dalam tahun 1988, ketika saya [Sudharmono] terpilih dan diangkat oleh MPR menjadi menjadi Wakil Presiden. Presiden [Soeharto] membentuk cabinet pembangunan V dan mengangkat Pak Moerdiono sebagai Menteri Sekretaris Negara menggantikan saya,” aku Sudharmono dalam autobiografinya (hlm. 306).

Sebelumnya, Moerdiono adalah Menteri Muda Sekretaris Kabinet dari 1983 hingga 1988. Ia menjabat Mensesneg hingga 1998.


Sebagai Mensesneg, Moerdiono dikenal sebagai juru bicara yang bertutur sangat halus dan amat berhati-hati. Dalam penjelasannya kepada pers, tak jarang keluar kata “eeee” yang agak lama sebagai jeda jika Moerdiono sedang memilih kata.

Menurut Jenderal Wiranto, seperti terkutip di buku Pak Moer-Poppy The Untold Story, hal itu “sama sekali tidak menampilkan seorang Moerdiono yang sebenarnya cerdas dan menguasai persoalan” (hlm. 326).

Itulah kritik yang pernah disampaikan Wiranto ke Moerdiono, setelah Wiranto dimintai pendapatnya oleh Moerdiono. Kala itu, Wiranto masih kolonel dengan jabatan ajudan Presiden Soeharto. Kritik tersebut tidak bikin Moerdiono marah, dia malah menghargai kritik jujur dari Wiranto.


Wajahnya sering muncul di televisi, terutama jika Soeharto terlibat dalam acara resmi. Dia pembantu penting Soeharto selain Menteri Penerangan Harmoko. Moerdiono turun dari puncak kariernya sebagai abdi negara nyaris bersamaan dengan lengsernya Soeharto.

Dalam soal gaya, Moerdiono, yang meninggal pada 7 Oktober 2011, tepat hari ini 8 tahun lalu, terlihat lebih trendy dibanding menteri-menteri Soeharto lainnya. Meski dia bertugas di Sekretaris Negara, pangkat militernya naik terus. Setidaknya dia mencapai pangkat mayor jenderal.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 11 Agustus 2018. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight