tirto.id - Pulau Jeju di Korea Selatan, tengah menjadi sorotan setelah 4 jasad ditemukan dalam beberapa hari terakhir yang sebagian pernah dilaporkan hilang oleh keluarganya. Serangkaian kasus orang hilang yang berujung pada penemuan jenazah tersebut semakin viral setelah seorang aparat diduga memalsukan penutupan kasusnya.
Dalam waktu sekitar tiga hari mulai Sabtu (22/8) hingga Senin (24/8), sedikitnya empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal di berbagai lokasi di Jeju.
Kasus ini juga memicu spekulasi di media sosial, termasuk di X, mengenai kemungkinan keterkaitan kasus ini dengan perdagangan manusia (human trafficking).
Pada 24 Agustus, akun @3360s_ mengaitkan penemuan jenazah para korban dengan rumor perdagangan manusia dan mengunggah tangkapan layar yang disebut berasal dari seorang warga Indonesia di Instagram yang mengaku mengetahui kejadian perdagangan manusia di Jeju.
“Orang Indonesia ini katanya udah melaporkannya juga ke media dan kantor imigrasi, tapi karena nggak tahu harus menghubungi pihak mana untuk melaporkan kasus ini dari luar negeri, akhirnya dia minta tolong lewat komentar IG supaya ada yang bisa mengarahkan atau menghubungkannya dengan pihak kepolisian Jeju/Seogwipo,” tulisnya.
“Dia menyebut ada pihak di Indonesia yang merekrut orang dan mengirim mereka ke Jeju dengan bayaran sekitar 7 juta won per orang. Setelah tiba, sebagian mengajukan suaka atau bekerja secara ilegal, bahkan ada yang membayar 900 ribu won untuk mendapatkan alamat di Jeju yang dipakai dalam pengajuan suaka,” jelasnya.
Sehari kemudian, akun X @tinycloud404 juga membagikan pengalaman saat berwisata ke Jeju, ketika pemilik sebuah restoran disebut memperingatkan bahwa terjadi kasus pembunuhan dan orang hilang serta mengklaim wisatawan menjadi kelompok yang rentan menjadi sasaran.
“Saat dia mengantar kami pulang, dia mengatakan bahwa tidak banyak orang di sekitar sini lagi, bahwa telah terjadi banyak pembunuhan dan orang hilang. Tetapi semua orang hanya diam saja. Kemudian dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang-orang yang hilang semuanya adalah turis—turis sangat mudah dikenali sebagai turis, jadi rasanya mereka menjadi sasaran karena alasan itu,” tulisnya.
“Dia terus memperingatkan kami, tidak peduli seberapa dekat penginapan kami, untuk selalu naik taksi,” tambah @tinycloud404.
Kronologi Penemuan 4 Jenazah di Pulau Jeju, Korsel
Dikutip dari laman Korea JoongAng Daily, Senin (24/8/2026), kasus ini bermula dari hilangnya Jang Mi-ran (37 tahun), di Jeju, Korea Selatan, pada Mei 2026.

Pada 15 Mei sekitar pukul 18.43 waktu setempat, pasangan Jang melaporkan Jang hilang setelah ia tidak diketahui keberadaannya dari tempat penginapan jangka panjangnya di Hallim-eup.
Polisi kemudian menemui pelapor dan melakukan pencarian di sekitar penginapan serta kawasan Pelabuhan Hallim dengan memanfaatkan informasi lokasi dari telepon seluler Jang.
Namun, sekitar pukul 21.16, petugas polisi bermarga Bu yang menangani laporan tersebut diduga menyatakan bahwa dirinya telah menghubungi Jang, mengetahui bahwa Jang dalam keadaan aman, dan bahwa Jang tidak ingin keberadaannya diberitahukan kepada keluarga.
Berdasarkan informasi tersebut, perkara dinyatakan selesai dan petugas yang sebelumnya melakukan pencarian di lapangan ditarik kembali.
Masalah kemudian muncul karena penyidik tidak menemukan catatan telepon yang menunjukkan bahwa Bu benar-benar pernah menghubungi Jang. Polisi juga menduga informasi Jang dihapus dari sistem pencatatan orang hilang setelah kasus tersebut ditutup.
Belakangan, keluarga Jang kembali melaporkan kehilangan dirinya pada Juli 2026, sehingga polisi membuka kembali pencarian. Pada Senin, 24 Agustus, sekitar pukul 10.46, jenazah yang diyakini sebagai Jang ditemukan di sebuah perkebunan pohon palem yang berjarak sekitar 400 meter dari tempat penginapannya.
Penemuan itu terjadi 104 hari setelah Jang dilaporkan hilang. Polisi masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan identitas jenazah dan penyebab kematiannya.
Saat penyelidikan terhadap kasus Jang dilanjutkan, polisi menemukan dugaan bahwa petugas yang sama juga melakukan tindakan serupa dalam kasus orang hilang lainnya.
Seorang pria berusia 60-an tahun dilaporkan hilang pada 2 Juli 2026, tetapi perkara tersebut diduga juga ditutup secara tidak semestinya oleh Bu. Setelah keluarga kembali membuat laporan kehilangan pada Jumat, 21 Agustus, polisi melakukan pencarian dan menemukan pria tersebut dalam keadaan meninggal di Songdang-ri, Gujwa-eup, Jeju City, pada Sabtu, 22 Agustus.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa penutupan laporan secara sepihak bukan hanya terjadi dalam kasus Jang Mi-ran.
Dalam rentang tiga hari, sedikitnya empat temuan jenazah yang berkaitan dengan orang yang sebelumnya dilaporkan hilang menjadi sorotan di Jeju.
Selain jenazah yang diyakini sebagai Jang dan pria berusia 60-an tahun tersebut, seorang korban lain yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal di dekat sebuah lembah di Aewol-eup, Kota Jeju, sekitar pukul 09.35 pada Senin, 24 Agustus.
Pada hari yang sama, seorang pria yang diperkirakan berusia 70-an juga ditemukan meninggal di perairan dekat Sinheung-ri, Jocheon-eup, sekitar pukul 15.04. Jenazah pria tersebut ditemukan oleh seseorang yang sedang memancing dan dilaporkan kepada layanan darurat.
Penjaga Pantai Jeju kemudian memastikan bahwa pria tersebut memang telah dilaporkan hilang ke Polsek Jeju Dongbu pada Sabtu. Penyebab dan keadaan kematiannya masih diselidiki.
Polisi Jeju Diduga Berbohong dan Menutup Kasus Orang Hilang
Rangkaian temuan tersebut kemudian mengarah pada pemeriksaan lebih luas terhadap kinerja petugas bermarga Bu. Polisi menduga Bu tidak hanya menutup kasus Jang dan satu kasus pria yang ditemukan meninggal, tetapi juga menutup lebih dari 200 laporan orang hilang atas keputusannya sendiri.
Polisi kini meninjau seluruh 298 laporan orang hilang yang pernah ditangani dan ditutup oleh Bu untuk mengetahui apakah terdapat kasus lain yang ditutup secara palsu atau tanpa memastikan keberadaan serta keselamatan orang yang dilaporkan hilang.
Dalam kasus Jang, Bu diduga bahkan memberikan informasi palsu kepada keluarga dan pasangannya dengan mengatakan bahwa Jang telah dihubungi dan dinyatakan aman, padahal polisi tidak menemukan bukti adanya komunikasi tersebut.
Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan tanggung jawab struktural di kepolisian. Empat pejabat di Jeju Seobu Police Station dibebastugaskan sementara oleh Korean National Police Agency (KNPA) sambil menunggu penyelidikan internal.
Mereka terdiri atas kepala kantor polisi yang menjabat ketika laporan pertama diterima, kepala kantor polisi yang sedang menjabat, kepala divisi penyidikan kriminal, serta pemimpin tim penanganan orang hilang.
KNPA menyatakan sedang memeriksa sejauh mana tanggung jawab berada pada rantai komando dan apakah terdapat kegagalan pengawasan yang memungkinkan laporan orang hilang ditutup tanpa prosedur yang semestinya.
Petugas Bu sendiri menghadapi proses hukum setelah ditangkap pada Selasa atas dugaan menutup secara prematur kasus Jang Mi-ran dan memberikan keterangan palsu mengenai keberadaan korban.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































