tirto.id - Kasus seorang peserta tur asal Madiun bernama Femas diduga menghilang saat perjalanan wisata di Korea Selatan. Kisahnya menjadi viral di media sosial setelah diungkap oleh akun Threads @sarjanabackpacker pada 16 Juli 2026.
Dalam unggahannya, pihak travel menyebut Femas tidak kembali ke hotel setelah berpamitan untuk melihat-lihat sepatu di kawasan Myeongdong. Pihak travel menyampaikan bahwa akibat kejadian ini, pihaknya harus menghadapi risiko denda hingga Rp125 juta.
Berdasarkan unggahan Muhammad Fariz Ragil Ramadhani di akun Threads @sarjanabackpacker pada 16 Juli 2026, pihak travel menyampaikan adanya seorang peserta tur bernama Femas asal Madiun yang diduga meninggalkan rombongan saat perjalanan wisata di Korea Selatan.
Menurut keterangan dalam unggahan tersebut, kejadian ini tidak hanya berdampak pada satu peserta, tetapi juga berpotensi memengaruhi ratusan peserta lain karena pihak travel mengaku harus menghadapi risiko denda sebesar Rp125 juta, kemungkinan pengajuan visa yang lebih sulit, serta dampak terhadap kepercayaan terhadap travel Indonesia secara umum.
“Kami marah Karena keputusan satu org bisa membuat ratusan peserta berikutnya ikut menjadi korban. Kami travel dikenakan denda 125juta,” tulis Fariz.
Selama perjalanan tidak terdapat tanda-tanda mencurigakan dari Femas. Tour Leader yang mendampingi bahkan disebut satu kamar dengannya, sering mengajak berbicara, makan bersama, berjalan bersama, serta beberapa kali menanyakan apakah terdapat kendala atau kesulitan selama perjalanan.
Namun, semuanya terlihat berjalan normal hingga suatu malam ketika Femas menyampaikan keinginannya untuk melihat-lihat sepatu di kawasan Myeongdong. Setelah keluar dari hotel, Femas disebut tidak pernah kembali ke penginapan, tidak menjawab panggilan telepon, serta tidak memberikan kabar melalui WhatsApp.
Setelah mengetahui Femas tidak kembali, pihak travel menyatakan bahwa Tour Leader dan tim berusaha melakukan pencarian selama beberapa hari. Mereka menghubungi Femas berkali-kali, menelusuri lokasi terakhir keberadaannya, serta melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang di Korea Selatan.
Namun upaya pencarian belum membuahkan hasil. Pihak travel kemudian memutuskan untuk mempublikasikan kejadian ini melalui media sosial dengan tujuan meminta bantuan masyarakat untuk menyampaikan pesan kepada Femas agar kembali ke Indonesia dan menyelesaikan persoalan tersebut secara bertanggung jawab.
Dalam perkembangan berikutnya, pihak travel menyampaikan bahwa mereka mendatangi langsung rumah Femas di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Madiun untuk mencari informasi dan meminta kerja sama keluarga agar Femas segera kembali ke Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, tim bertemu dengan ibu Femas. Mereka datang dengan tujuan mencari solusi secara baik-baik tanpa melakukan ancaman maupun tindakan intimidasi.
Namun, dalam percakapan tersebut, pihak travel mengaku awalnya hanya mendapatkan jawaban bahwa sang ibu tidak mengetahui keberadaan anaknya. Ketika ditanya kembali mengenai informasi lebih lanjut, jawaban yang diberikan tetap sama.
Pihak travel kemudian menyebut bahwa selama proses komunikasi berlangsung, terdapat perubahan dalam keterangan yang diberikan. Menurut mereka, awalnya keluarga menyatakan tidak mengetahui apa pun, namun kemudian muncul informasi tambahan yang sebelumnya belum disampaikan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian pihak travel adalah ketika mereka melihat ponsel ibu Femas dan menemukan bahwa percakapan WhatsApp dengan Femas sudah tidak tersedia. Saat ditanyakan alasan penghapusan percakapan tersebut, pihak keluarga disebut menjawab bahwa hal itu dilakukan karena emosi.
Selain itu, pihak travel juga menyebut menemukan aplikasi penerjemah bahasa Korea, Papago, pada ponsel tersebut.
“Yang membuat kami semakin terkejut... Saat ponsel sang ibu diperlihatkan kepada tim kami. Percakapan WhatsApp dengan Femas sudah tidak ada. Ketika kami bertanya kenapa dihapus... Jawabannya singkat. "Karena emosi." Padahal... Kalau memang sedang mencari anak yang hilang... Bukankah percakapan itu justru menjadi petunjuk yang paling penting? Bukan hanya itu. Di ponsel tersebut kami juga melihat aplikasi Papago, aplikasi penerjemah yang umum digunakan untuk bahasa Korea,” tulis Fariz.
Meski tidak mendapatkan penjelasan dari pihak keluarga, tim Fariz akhirnya pulang dengan membawa lebih banyak pertanyaan. Namun, mereka tidak ingin menyimpulkan hal-hal lain terkait kasus ini.
Hingga berita ini diturunkan, melalui pantauan TirtoID di akun Threads @sarjanabackpacker, belum ada indikasi jika Femas telah ditemukan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































