Mereka Menikmati Piala Dunia Lewat Radio

Oleh: Irfan Teguh - 7 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Untuk membantu tunanetra serta masyarakat yang sulit mengakses tayangan Piala Dunia 2018, RRI menyiarkannya secara langsung.
tirto.id - Seorang bocah duduk di pojok sebuah kamar. Kupingnya didekatkan ke radio yang antenanya menjulang. Suara kemerosok dan timbul tenggelam sayup-sayup terdengar dari radio. Pada 30 September 1995, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan langsung pertandingan Persib Bandung melawan Bangkok Bank (klub Thailand) dari Stadion Siliwangi, Bandung, dalam laga Piala Champion Asia 1995/1996.

Si bocah belum pernah sekalipun datang dan melihat rupa Stadion Siliwangi, tapi saat mendengarkan radio, kepalanya dipenuhi adegan demi adegan pertandingan, lengkap dengan suasana di tribun penonton, warna seragam kedua kesebelasan yang bertanding, dan warna langit di atas stadion sore itu.

Adegan demi adegan yang hadir dan hidup dalam kepala saya, hampir 23 tahun lalu itu, adalah efek dari salah satu karakteristik radio yang disebut theatre of mind alias seni menyampaikan atau memainkan imajinasi pendengar melalui tata suara yang membuat gambar bermunculan di kepala si pendengar.

Pertandingan sepakbola sebagai sebuah peristiwa yang dinamis dan penuh emosi, sangat mudah hadir dalam layar virtual yang dibangun oleh pendengar radio. Hal ini adalah salah satu penyebab radio masih banyak digemari masyarakat, termasuk di Indonesia.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Nielsen Radio Audience Measurement yang dilakukan pada kuartal ketiga 2016, radio masih didengarkan oleh sekitar 20 juta konsumen di Indonesia. Dari 11 kota di Indonesia yang dijadikan sampel survei oleh Nielsen, pendengar radio rata-rata menghabiskan waktu 139 menit per hari.

Durasi menghabiskan waktu untuk mendengarkan radio, dari tahun ke tahun menunjukkan tren menanjak. Pada 2014, pendengar radio di Indonesia hanya menghabiskan waktu 16 jam per minggu. Setahun kemudian meningkat menjadi 16 jam 14 menit per minggu, dan pada 2016 bertambah lagi menjadi 16 jam 18 menit.


Piala Dunia di Udara


2018 adalah tahun hiburan bagi jutaan umat manusia di dunia. Hal ini karena di tahun tersebut lebih dari 30 hari digelar Piala Dunia, pesta sepakbola empat tahunan yang kali ini diadakan di Rusia. Namun, tidak semua pencinta sepakbola bisa menyaksikan perhelatan panjang dan penuh emosi tersebut, termasuk sebagian masyarakat di Indonesia.

Siaran langsung pertandingan yang selalu disebarluaskan lewat kanal televisi, tentu tak bisa dinikmati oleh para penyandang tunanetra, para penyandang keterbatasan penglihatan, dan warga di pelosok yang kesulitan mengakses siaran televisi.

Berdasarkan hal tersebut, untuk melayani masyarakat yang tidak bisa menikmati gelaran akbar Piala Dunia 2018 lewat televisi dan memberikan alternatif lain menikmati setiap pertandingan, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan secara langsung setiap pertandingan sepakbola dari Rusia dengan berhasil mengantongi lesensi hak siar dari FIFA lewat PT. Futbal Momentum Asia (FMA).

Salah satu alasan stasiun radio pemerintah dengan slogan “Sekali di udara, tetap di udara” itu mendapatkan lisensi hal siar, menurut Rahman Rifai (Kepala Seksi Liputan dan Pusat Pemberitaan RRI), karena dinilai mampu memberikan siaran terutama untuk para penyandang tunanetra.

“[Reporter tambahan] akan berangkat seminggu sebelum gelaran berakhir, tapi di sana sudah ada sejak awal, jadi total dua reporter,” ujarnya kepada Tirto (5/7/2018)

Menurut Rahman Rifai, respon dari masyarakat terhadap siaran langsung sepakbola yang dilakukan RRI cukup positif, terutama dari kalangan penyandang tunanetra dan keterbatasan penglihatan seperti penderita low vision.

Hal senada disampaikan oleh Godlief Richard Poyk, Direktur Layanan dan Pengembangan Usaha RRI yang mengatakan bahwa hak siar ini utamanya ditujukan untuk membantu 1,5 juta penyandang tunanetra di Indonesia.

“Mereka tak usah berkecil hati, karena dengan adanya terobosan RRI ini [mereka] bisa mendengarkan siaran langsung dari RRI sehingga mereka mendapatkan hiburan dan mengetahui perkembangan sepakbola dunia,” ujarnya.

Langkah yang ditempuh RRI dalam rangka menyemarakkan hajat dunia empat tahunan tersebut diapresiasi oleh PSSI sebagai induk tertinggi sepakbola Indonesia. Agum Gumelar selaku Dewan Kehormatan PSSI mengatakan bahwa PSSI mengapresiasi dan merasa salut terhadap stasiun radio plat merah ini, karena dengan mengantongi lisensi dari FIFA dapat menyiarkan pertandingan Piala Dunia 2018 secara luas.

“Sepakbola bukan sekadar olahraga, tetapi juga hiburan untuk semua kalangan,” katanya.



Infografik Menikmati piala dunia lewat radio




Jafar Sodik, seorang penyandang low vision yang tinggal di Bandung, mengatakan kepada Tirto (5/7/2018), bahwa dirinya merasa terbantu dengan adanya siaran langsung yang diberikan oleh RRI. Ia yang sejak pertandingan awal mengikuti Piala Dunia 2018 sering memadukan dua media untuk menikmati pesta sepakbola tersebut.

Meski penglihatannya mulai membaik pasca-operasi mata pada 2001 yang membuat ia tidak sepenuhnya buta, Jafar mengaku masih cukup kesulitan untuk melihat gambar secara jelas. Untuk membantu menikmati tayangan Piala Dunia di televisi, ia yang menjagokan Timnas Spanyol itu kerap menyalakannya tanpa suara dan mengganti komentator di televisi yang berbahasa Inggris dengan mendengarkan siaran RRI.

“Saya awalnya totally blind, tapi sekarang bisa melihat sedikit. Kalau tv-nya agak besar sih masih bisa lihat. Jadi saya sering nonton lewat tv tapi suaranya dari radio. Saya selalu mengikuti pertandingan sampai akhir,” ujarnya.

Sementara itu, Galih Purnama, pemuda berusia 30 tahun yang penglihatannya semakin memburuk sejak 2009, mengaku mengetahui siaran langsung Piala Dunia 2018 lewat RRI saat laga memasuki babak 16 besar. Ketika berselancar mencari frekuensi yang dirasa cocok baginya, ia tak sengaja menemukan siaran langsung Piala Dunia. Akhirnya, ia pun bisa mendengarkan pertandingan Brazil melawan Meksiko, Spanyol melawan Rusia, dan Jepang versus Belgia.

“[Sekarang] sudah mendekati [buta] total, cahaya udah redup, meski masih ada bayangan sedikit. Kalau [nonton] lewat televisi sudah enggak bisa. Kalau dua sampai tiga tahun sebelumnya, [saya] masih bisa melihat bayangan-bayangan meski terlihat jelek, tapi sekarang sudah hampir enggak bisa lihat bayangan,” katanya.

Galih kerap membayangkan suasana di lapangan pertandingan saat mendengarkan siaran sepakbola. Apalagi reporter RRI yang bertugas tak henti-hentinya mengabarkan jengkal demi jengkal yang terjadi di medan laga pertarungan antara dua kesebelasan. Penglihatannya yang semakin memburuk sangat terbantu oleh suara lantang reporter tersebut.

Operan-operan bola, tendangan melambung menjauhi gawang, terjangan pelanggaran, proses terjadinya gol, dan adegan-adegan lainnya terdengar jelas di telinga dan bergerak dinamis dalam imajinasinya.

“[Tapi mendengarkannya] enggak full sih karena saya kadang ketiduran,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial tersebut.

Tak hanya Jafar Sodik dan Galih Purnama yang terbantu oleh siaran RRI. Dian Wardiana, seorang penggemar sepakbola yang tinggal di Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna, Bandung, pun sangat terbantu oleh siaran tersebut.

Ia yang menyandang low vision sejak 2015 dan sudah tidak bisa melihat tayangan televisi itu kerap mendengarkan pertandingan sampai Subuh, sampai pertarungan benar-benar berakhir, sebab tak jarang harus diakhiri dengan drama adu tendangan penalti.

Bersama kawan-kawannya sesama penyandang tunanetra dan keterbatasan penglihatan lainnya, Dian kerap menggelar “debar” alis dengar bareng siaran langsung Piala Dunia. Ya, persis seperti “nobar” atau nonton bareng yang sering dilakukan oleh mereka yang dianugerahi penglihatan prima.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight