tirto.id - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan masih ada sekitar 170 hingga 180 pabrik kelapa sawit (PKS) yang belum menaikkan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani. Padahal, Kementerian Pertanian sebelumnya telah mengirimkan surat kepada setidaknya 274 PKS agar menyesuaikan harga TBS yang sempat mengalami penurunan.
"100 lebih (PKS yang belum menaikkan TBS), dari 274 kemarin yang saya surati. Ada mungkin sekitar 170-180 yang belum," katanya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).
Amran mengatakan harga TBS yang sempat melemah dalam beberapa hari terakhir kini telah berangsur pulih. Namun, menurut dia, masih terdapat sebagian kecil wilayah yang harga TBS-nya belum kembali normal.
“Beberapa hari yang lalu turun. Tapi Alhamdulillah sudah kembali normal. Tapi masih ada sedikit, mungkin sekitar 5 persen yang belum pulih sampai 10 persen,” lanjut Amran.
Beberapa waktu terakhir, penurunan harga TBS memang menjadi sorotan pemerintah lantaran terjadi di tengah kondisi harga minyak sawit mentah (CPO) yang relatif tinggi. Karenanya, Kementerian Pertanian kemudian meminta perusahaan pengolahan sawit untuk menyesuaikan harga pembelian buah sawit dari petani.
Amran mengaku bakal terus menindaklanjuti pabrik-pabrik yang belum menyesuaikan harga TBS, seiring dengan masih banyaknya PKS yang belum mematuhi imbauan pemerintah tersebut.
“Kita tindak lanjuti terus sampai dia harus naikkan, mutlak naikkan,” ucap Amran.
Sebelumnya, Amran telah memerintahkan PKS untuk menaikkan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani minimal 10 persen. Kenaikan ini menyesuaikan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang cukup signifikan.
“Kita sepakat tidak ada lagi harga yang turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan bila perlu naik lebih tinggi. Kenapa? Nilai tukar dolar terhadap rupiah mengalami kenaikan sekitar 10 persen. Jadi, minimal harga TBS harus kembali seperti semula,” tegas Amran, Senin (8/6/2026).
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id




































