tirto.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan pembekalan kepada kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat di Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Kemensos, Jakarta, Selasa (19/8). Kegiatan itu juga diikuti peserta lain secara daring.
Dalam arahannya, Saifullah menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem.
“Ini adalah strategi besar Presiden Prabowo dalam rangka, pertama memutus masalah kemiskinan, memperluas pendidikan, dan menyiapkan generasi emas tahun 2045,” ujar Saifullah.
Dalam pembekalan ini, Saifullah menjelaskan tiga kunci untuk memahami Sekolah Rakyat. Kunci pertama adalah apa yang disebut sebagai memuliakan wong cilik.
Menurut Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah, wong cilik adalah mereka yang terpinggirkan, yang papa, mereka yang belum terbawa dalam proses pembangunan, mereka yang disebut mungkin sebagai keluarga prasjahtera, kurang mampu, tidak beruntung.
“Ini yang saya minta untuk kita semua selalu mengingat, bahwa pertama-tama sekolah rakyat ini untuk manusia-manusia istimewa, manusia titipan Tuhan ini,” ujar Syaifullah.
Kunci kedua,ujar Syaifullah, adalah keinginan untuk menjangkau yang belum terjangkau, yaitu anak-anak dari lapisan terbawah yang selama ini jarang terdengar suaranya. Ia menyinggung data BPS yang menunjukkan masih ada lebih dari 3 juta anak usia sekolah di Indonesia yang tidak sekolah, belum sekolah, atau berpotensi putus sekolah.
Ketiga, memungkinkan yang tidak mungkin. Menurutnya, keluarga kurang beruntung kerap kehilangan harapan, harus mengubur mimpi-mimpi. Sekolah Rakyat diharapkan lahir “pemungkin-pemungkin baru” yang berani bermimpi dan bekerja keras mencapainya.
“Inilah yang dititipkan kepada kepala sekolah dan para guru, untuk membina, membimbing mereka sepenuh hati, agar para murid ini nanti menjadi generasi yang tangguh, generasi masa depan Indonesia,” ujar Syaifullah.
Dalam kesempatan itu, Mensos juga memperkenalkan jas almamater dan seragam khusus bagi siswa Sekolah Rakyat, sebagaimana diluncurkan Kemensos beberapa waktu lalu. Jas berwarna maroon ini punya pin berlogo Sekolah Rakyat, nama siswa di dada bagian kanan, dan tanda kepangkatan. Nantinya seragam ini akan dipadupadankan dengan kemeja putih, dasi merah maroon, celana putih dengan garis merah, lengkap dengan baret berwarna sama.
Tak hanya mendapat jas almamater, siswa Sekolah Rakyat disebut akan menerima delapan seragam lain. Mulai dari seragam kombinasi yang warnanya disesuaikan dengan jenjang pendidikan, seragam olahraga, seragam pramuka, hingga seragam laboratorium.
Di acara ini, Saifullah juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat. Ia menegaskan tidak boleh ada praktik perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi di Sekolah Rakyat.
Di akhir pembekalan, Saifullah menegaskan peran strategis kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi di Sekolah Rakyat, sekaligus mengingatkan bahwa Sekolah Rakyat menekankan pentingnya kecerdasan kolektif, yang membuat guru, siswa, dan semua pihak yang terlibat dalam Sekolah Rakyat ini bisa tumbuh bersama.
“Moto kita adalah Cerdas Bersama, Tumbuh Setara,” tutup Syaifullah.
Editor: Tirto Creative Lab
Masuk tirto.id

































