Menuju konten utama

Menperin Pamerkan Nilai Tambah Manufaktur RI Tertinggi di ASEAN

Meski tertinggi di Asia Tenggara, secara global nilai tambah manufaktur Indonesia berada di bawah China, Jepang, India, dan Korea Selatan.

Menperin Pamerkan Nilai Tambah Manufaktur RI Tertinggi di ASEAN
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) bakal menemui direksi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), membahas tentang kemungkinan suntikan dana untuk salah satu perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) yang berfokus pada bahan baku baterai untuk kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV), EcoPro. Hal itu disampaikannya, usai menghadiri pertemuan dengan 19 perusahaan asal Korsel yang tergabung dalam Federasi Industri Korea Selatan (Federation of Korean Industries/FKI), di Kantor Inspektorat Jenseral Kementerian Perindustrian, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (29/4/2025). tirto.id/Qonita Azzahra.

tirto.id - Indonesia mencatat nilai tambah manufaktur atau Manufacturing Value Added (MVA) mencapai 265,07 miliar dolar AS pada tahun 2024.

Data Bank Dunia yang dipaparkan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-13 secara global dan posisi teratas di kawasan Asia Tenggara. Capaian ini jauh melampaui rata-rata MVA dunia yang hanya 78,73 miliar dolar AS.

"Nilai MVA Indonesia pada tahun 2024 mencapai 265,07 miliar dolar Amerika, jauh melampaui rata-rata MVA dunia," tegas Agus dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/9/2025).

Agus menuturkan, indeks ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan nilai tambah manufaktur tertinggi di ASEAN, mengalahkan Thailand yang menempati peringkat kedua dengan nilai MVA hanya setengah dari Indonesia.

"Di Asia Tenggara tentu kita pasti lebih tinggi dari negara-negara lain, dan ranking kedua MVA di ASEAN diduduki oleh Thailand yang nilainya hanya setengah dari yang dicatat Indonesia," ujarnya.

Namun, secara global Indonesia berada di bawah China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Meskipun demikian, Agus optimis bahwa dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat menyusul negara-negara tersebut dalam 5-10 tahun ke depan.

“Ada beberapa negara yang kami sudah hitung yang akan lebih mudah kita susul tapi saya kira tidak bisa saya sampaikan di dalam ruangan ini,” ucapnya.

Pencapaian MVA ini didukung oleh struktur industri manufaktur yang mendalam, mencakup sektor hulu hingga hilir. Hal ini memberikan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung ekspor nasional, dengan kontribusi mencapai 80 persen dari total ekspor Indonesia pada tahun 2025.

Pada periode Januari hingga Juli 2025, ekspor manufaktur untuk industri pengolahan non migas menyumbang 128,13 miliar dolar AS atau 80 persen dari total ekspor nasional yang mencapai 160,16 miliar dolar AS.

“Secara kumulatif, selama bulan Januari hingga Juli 2025, surplus perdagangan Indonesia mencapai 23,65 miliar dolar AS, utamanya disumbang oleh surplus perdagangan komoditas non-nigas sebesar 34,06 miliar dolar AS,” tuturnya.

Sementara itu, pada kuartal II-2025 industri manufaktur mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,60 persen (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,12 persen. Sektor ini juga telah berkontribusi sebesar 16,92 persen terhadap PDB.

Baca juga artikel terkait MANUFAKTUR atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana