tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dalam merancang dan menjalankan Asta Cita, prinsip keadilan yang selaras dengan nilai-nilai ekonomi syariah menjadi bagian yang sangat penting. Salah satu contohnya adalah anggaran pemerintah pusat untuk kelompok masyarakat bawah yang mencapai Rp1.333 triliun pada tahun ini.
"Dua hari lagi Bapak Presiden akan menyampaikan untuk tahun depan, dan angkanya akan besar sekali," kata Sri Mulyani dalam Sarasehan Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah Refleksi Kemerdekaan RI Ke-80 Tahun 2025, Rabu (13/7/2025).
Bendahara negara juga menyinggung soal program Perlindungan Sosial yang merupakan bentuk dari pengejawantahan keadilan dalam membantu kaum lemah. Hal ini sejalan dengan dalil di dalam islam di mana terdapat hak orang lain dalam tiap rezeki dan harta yang diterima seseorang.
"(Saya) Bukan ustazah ya, dalam hal ini. Tapi, ini karena Menteri Keuangan, dalam setiap rezeki Anda ada hak orang lain, caranya hak orang lain itu diberikan ada yang melalui zakat, ada yang melalui, wakaf, ada yang melalui pajak dan pajak itu kembali kepada yang membutuhkan," ucap Sri Mulyani disambut tawa hadirin.
Sri Mulyani menuturkan, pajak yang disetorkan kepada negara dialokasikan untuk berbagai program perlindungan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia mencontohkan, program Keluarga Harapan (PKH) menjangkau 10 juta keluarga tidak mampu, sementara bantuan sembako diberikan kepada 18 juta keluarga. Pemerintah juga memberi subsidi modal usaha bagi UMKM yang kesulitan membayar pinjaman.
Di sektor kesehatan, pemerintah membangun dan meningkatkan fasilitas seperti puskesmas, posyandu, hingga rumah sakit di daerah terpencil agar layanan tidak hanya dinikmati masyarakat kota besar. “Jangan sampai orang di daerah terpencil baru jalan 10 kilometer sudah dijemput malaikat maut,” ujarnya.
Sementara di bidang pendidikan, Sri Mulyani menyebut Presiden Joko Widodo mulai membuka sekolah rakyat berasrama untuk anak-anak dari keluarga miskin, termasuk anak pemulung dan pekerja harian, dengan fasilitas pendidikan berkualitas dan bimbingan keagamaan.
“Itu semua adalah hak dari rezeki yang kamu miliki untuk orang lain,” tegasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































