Menuju konten utama

Menkes : 514 Kabupaten/Kota akan Miliki CT Scan hingga Cath Lab

Pemerintah juga targetkan puluhan MRI, LINAC, SPECT-CT, Brachytherapy, dan PET Scan agar bisa dimanfaatkan semua pihak.

Menkes : 514 Kabupaten/Kota akan Miliki CT Scan hingga Cath Lab
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2025). Dalam rapat tersebut Menkes memaparkan sejumlah temuan penyebab keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satunya adalah salmonela hingga Escherichia coli. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

tirto.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan pemasangan ratusan alat kesehatan (alkes) modern di seluruh Indonesia hingga akhir 2027. Kemenkes akan mengagresifkan pendistribusian alkes ke 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Ratusan CT Scan, Mammografi, Cath Lab, Cytotoxic Drug Cabinet hingga Immunohistochemistry Lab direncanakan akan dipasang di seluruh provinsi di Indonesia.

“Mulai tahun ini, Kementerian Kesehatan akan secara agresif memasang alat-alat modern di seluruh kabupaten/kota ini. Baik di Jawa maupun di luar Jawa, baik dekat kota besar maupun dia jauh dari kota besar,” ujar Budi dalam acara Orientasi Peserta PPDS RSPPU 2025-2026 di Kantor Kemenkes, Rabu (25/2/2026).

Tak hanya itu, pemerintah juga menargetkan puluhan MRI, LINAC, SPECT-CT, Brachytherapy, hingga PET Scan agar bisa dimanfaatkan semua pihak.

Selain peralatan diagnostik dan terapi kanker, Kemenkes juga melakukan pengadaan alat endoskopi laparoskopi di seluruh kabupaten/kota. Dengan alat ini, Budi menyebut dokter bedah dapat melakukan operasi seperti hernia, usus buntu, dan pengangkatan empedu tanpa pembedahan terbuka.

“Kekurangannya cuma satu, adalah jumlah dokter dan terutama distribusi,” tutur Budi.

Lebih jauh, Budi menyebut bahwa hospital based ini didirikan untuk menciptakan distribusi dokter yang efektif. Pasalnya, dokter yang direkrut adalah dokter yang dibutuhkan untuk memenuhi layanan spesialistik tertentu.

“Tapi yang dipilih, yang kami rekrut, adalah dokter-dokter yang berasal dari rumah sakit yang memang banyak pasiennya membutuhkan layanan spesialistik tersebut. Itu yang membedakan dengan sistem yang sebelumnya,” katanya.

“Cara kami merekrut, kami merekrut berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah. Kami merekrut putra-putri asli daerah. Siapa pun asal orang tuanya, apa pun sukunya dia, apa pun agamanya dia, selama dia memang putra-putri daerah yang bekerja di rumah sakit yang membutuhkan layanan spesialistik, dia yang akan kami rekrut duluan,” jelas Budi.

Baca juga artikel terkait ALAT KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi