tirto.id - Jelang siang hari yang sejuk di dataran tinggi Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, deru mesin jahit terdengar samar dari ruang tamu di rumah Nur (38) yang telah diubah menjadi modiste.
Di ruangan yang menampung tujuh set meja mesin jahit tersebut, Nur dan sejumlah perempuan tengah menjahit celana; mengobras, memasang resleting, dan membuat kerutan.
Mereka menjahit tiga jenis celana; warna merah untuk seragam anak SD, motif garis-garis untuk model piyama, dan warna khaki serta abu-abu untuk celana kargo dewasa.
Duduk di atas dingklik adalah ibunda Nur atau yang akrab dipanggil Nenek Tumbu. Perempuan berusia 60-an tersebut terlihat bersemangat memasukkan tali ke bagian pinggang celana dengan batang besi kecil.
Seorang perempuan berwajah sumringah, Asih (41), tiba-tiba datang membawa setumpuk celana. Setiap pagi atau malam, Asih menyetorkan celana yang sudah selesai dijahit di rumahnya. Sebelum pulang, Asih akan menerima potongan kain baru lagi dari Nur.
Di tengah kesibukan itu, mereka berbagi cerita dalam bahasa Jawa ngapak khas Pekalongan pegunungan. Sesekali terlontar lelucon yang mengundang gelak tawa semua orang di dalam ruangan.
Hari itu, Kamis (14/5/2026), adalah jadwal mingguan Nur untuk memasok celana yang sudah selesai dijahit ke pihak bos atau perantara yang bekerja sama dengannya selama ini.
Seiring hujan turun rintik-rintik, persis pukul 2 siang, Nur dan suaminya, Wasyuri (47), berangkat mengantar celana ke kota dengan supir dan mobil bak terbuka yang disewa seharga Rp350 ribu.

Celana kargo dikumpulkan di Kecamatan Talun dan celana piyama garis-garis di Kecamatan Karangdadap. Di sana, pihak bos/perantara akan mengemas celana, memberikan label, dan menyebarluaskan ke toko-toko, termasuk ritel fesyen berskala nasional, Ria Busana. Sementara celana seragam sekolah dititipkan ke perantara di Kecamatan Kedungwuni untuk kemudian dikirim melalui ekspedisi kepada pemesan utama di Kalimantan.
Setelah celana dikumpulkan ke pihak perantara, bak mobil akan dipenuhi lagi dengan kain potongan baru siap jahit.
Proses pemasokan ini memakan waktu sekitar tiga jam. Sebelum pulang, Nur dan Masyuri mengajak supir untuk makan bersama, biasanya di warung mie ayam di area pasar di Doro, kecamatan yang jadi sentra belanja warga desa dari pegunungan.

Nur dan Masyuri tiba di rumah pukul tujuh malam. Beberapa penjahit terlihat bekerja di depan mesin masing-masing.
Nur bercerita, dirinya telah mempekerjakan 35 orang penjahit. Sebagian penjahit bekerja di rumah masing-masing. Sebagian lainnya menjahit di rumah Nur dari pagi. Mereka pulang pada jam makan siang atau sore, kemudian beberapa akan kembali selepas Magrib dan bekerja sampai jam 9-10 malam.
Nur tidak kelihatan lelah sama sekali setelah bepergian setengah hari tadi. Setiba di rumah, ibu dua anak ini langsung berkonsentrasi menjahit, sementara Wasyuri memasang karet dan membuat kerutan pada celana. Beberapa kali datang orang-orang yang menyetor jahitan ke rumah mereka.
Agar suasana tidak terlalu sepi, Wasyuri menyambungkan smartphone-nya ke stereo. Alunan musik dangdut berbahasa Jawa yang semarak pun memenuhi ruangan.

Menjahit di Lereng Pegunungan
Menariknya, aktivitas menjahit di rumah Nur, tidak berlangsung di pinggiran kota atau daerah penyangga urban yang biasanya menjadi lokasi strategis bagi pelaku usaha konveksi rumahan.
Nur dan keluarga besarnya tinggal di Yosorejo, satu dari sembilan desa di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Desa seluas 2,3 km persegi ini menjadi rumah bagi 1.800 jiwa dari total 13 ribuan penduduk di penjuru kecamatan.
Terletak di ketinggian 1.268 meter dari permukaan laut, Yosorejo memiliki topografi lereng gunung dan udaranya dingin, sekilas menyerupai destinasi wisata Puncak Bogor.

Namun, akses menuju Yosorejo atau tepatnya Dusun Dranan yang ditinggali Nur, jauh lebih menguji nyali. Jalanan sempit, berkelok-kelok, serta curam. Beberapa bagian jalan menuju ke dalam desa, termasuk jembatan, rusak parah akibat permukaan aspal yang sudah remuk dan tak kunjung menerima perbaikan.
Perjalanan dari pusat kota Pekalongan menuju Dranan memerlukan waktu satu setengah sampai dua jam. Selain sepeda motor, moda transportasi andalan warga desa untuk pergi beramai-ramai ke kota adalah mobil bak terbuka Mitsubishi L300—disebut doplak.
Sepanjang perjalanan, manusia serasa dibuat “kecil” dalam bekapan hutan rapat dan jurang menganga, diselingi air terjun, sungai, batu-batu raksasa yang longsor dari bukit. Sesekali, kita bisa menjumpai monyet-monyet bergelantungan di pepohonan.
Supir doplak harus menjaga kecepatan di kisaran 20-40 km/jam dan mengklakson di setiap tikungan, terutama jika mengangkut banyak muatan barang atau penumpang.

Setiap awal tahun, hujan berintensitas tinggi mengguyur Petungkriyono, kadang-kadang sampai menimbulkan banjir atau longsor.
Pada 2025, banjir bandang mengakibatkan longsor material tanah dan batu-batu raksasa. Bencana yang menelan lebih dari 20 korban jiwa ini menghancurkan jembatan dan memutus jalan yang biasanya menjadi akses tercepat menuju kota.
Kala itu, selama beberapa bulan, Nur dan warga yang perlu mengangkut barang dengan kendaraan roda empat harus mengambil jalur memutar yang 2-3 kali lebih lama untuk menjangkau kota, sementara sepeda motor bisa ditarik pakai tali lewat sistem penyeberangan sederhana di atas jembatan yang rusak.

Meski akses menuju desa-desa di Petungkriyono cukup menantang, kawasan ini tidak termasuk dalam kategori daerah tertinggal.
Indeks Desa Jawa Tengah 2025 menyebutkan sudah tidak ada desa “sangat tertinggal” di provinsi dengan jumlah desa terbanyak di Indonesia ini.
Dari 7.810 desa yang ada di 29 kabupaten di Jateng, hanya 15 desa berstatus “tertinggal” yang semuanya berada di wilayah pesisir dan pegunungan Purworejo, Demak, Kendal, Pemalang, dan Tegal.

Beberapa tahun belakangan, semakin terlihat geliat wisata populer di jalur menuju Petungkriyono, dari perkemahan, kafe dan restoran, sampai wisata air. Targetnya adalah kawula muda Pekalongan yang mungkin jenuh dengan gerahnya hiburan di pesisir kota.
Di Yosorejo, internet mulai masuk ke rumah-rumah sejak tiga tahun lalu.
Lumrah ditemui anak-anak usia SD bermain gim daring di smartphone, remaja SMP-SMA memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung kegiatan belajar sembari cari hiburan video di TikTok, sementara orang-orang lebih tua menggunakan gawai untuk berkomunikasi via aplikasi percakapan WhatsApp.
Setiap pagi, di jalanan setapak Dranan, cukup mudah dijumpai pedagang sayur, bubur ayam, aneka jajanan seperti pentol, buah potong, sampai es krim, yang mendatangi desa demi desa dengan sepeda motor. Anak-anak kecil dan para ibu menjadi pelanggan setia mereka.
Terlepas lokasinya sulit dijangkau, sebagian besar rumah warga di Dranan sudah berlantai semen atau dikeramik, alih-alih permukaan tanah langsung. Di beberapa rumah tangga yang semakin sejahtera, seperti Nur, lazim ditemukan kulkas, mesin cuci, hingga sepeda motor matic keluaran terbaru.
Alternatif Pekerjaan Perempuan di Kala Senggang
Realitas tentang anak-anak yang melek digital, perangkat elektronik modern di rumah-rumah, keragaman pedagang keliling, sampai pemanfaatan mesin jahit untuk konveksi rumahan bukanlah gambaran yang bisa dibayangkan di Dranan satu dekade silam.
Di masa lalu, kondisi geografis pegunungan yang menyulitkan akses transportasi dan informasi menjadi faktor utama yang menyebabkan keterisolasian masyarakat Petungkriyono.
Sedari lama, pertanian subsisten menjadi identitas utama masyarakat Petungkriyono; menanam padi, jagung, atau kentang dan memelihara ternak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan diri sendiri dan keluarga. Akibatnya, sektor nonpertanian cenderung tidak berkembang di sana.
Statistik 2014 menyebutkan, 6.232 orang Petungkriyono bekerja di sektor pertanian, 271 orang di sektor perdagangan, dan 342 orang di sektor jasa.
Padi dan jagung merupakan tanaman utama dengan kuantitas produksi yang konsisten setiap tahun; dua ribuan ton produksi padi sawah dan 450-700 ton produksi jagung.
Selain itu, banyak warga memelihara sapi dan kambing untuk dijual atau disembelih untuk hajatan. Jumlah sapi di Petungkriyono setiap tahun berkisar 2-8 ribu ekor dan kambing/domba 6-7 ribu ekor.
Sebagian ternak tersebut dimiliki sendiri atau milik petani lain yang dirawat dengan sistem bagi hasil (gaduh). Pakan mereka adalah rumput gajah segar, yang setiap pagi bisa diperoleh dari lahan atau kebun di atas bukit.

Namun, seiring waktu, minat anak muda untuk bertani dan merawat ternak mulai meredup. Di balik rutinitas bertani dan merumput yang dilakukan perempuan dan laki-laki dari segala usia, antusiasme tinggi hanya bertahan di kalangan petani tua.
Laki-laki muda, baik masih bujang maupun telah menikah, mulai banyak yang memutuskan untuk merantau, termasuk Wasyuri.
Tidak sempat menyelesaikan pendidikan SD, Wasyuri kecil memutuskan untuk bekerja. Selama beberapa tahun, hidupnya dihabiskan di Jakarta sebagai penjahit untuk sebuah usaha konveksi di perumahan.
Sekembali ke kampung halaman dan menikah dengan Nur, Wasyuri mengikuti proyek membuat aspal di luar desa sebagaimana dilakukan oleh banyak laki-laki di sekitarnya. Wasyuri juga sempat terlibat dalam proyek pembangunan objek wisata Sigong Krompeng di Kecamatan Talun.
Sampai tibalah masa pandemi COVID-19. Wasyuri dan Nur, yang pernah ikut kursus memotong kain di kecamatan sebelah, memutuskan untuk menjahit dalam rangka memenuhi permintaan pakaian jadi dari kenalan lama Wasyuri di kota.
Nur menjual sapi warisan dari orang tuanya untuk membeli mesin jahit, bahan kain, dan membuat sampel berkali-kali sampai standarnya sesuai dengan permintaan. Setelah itu, Nur mulai rutin menjahit celana dari kain potong yang telah disuplai oleh pihak pemesan.
Kesibukan Nur membuat tetangganya, terutama perempuan muda dan ibu-ibu, tergerak untuk ikut belajar menjahit.
Nur dan Wasyuri bukan satu-satunya warga desa yang terlibat dalam usaha konveksi rumahan. Ada keluarga lain yang menjalankan usaha serupa. Keponakan Nur yang dulu berguru menjahit darinya, kini juga bekerja untuk orang lain.
Menurut mereka, penjahit tidak harus bekerja tetap dengan satu bos. Siapa pun bisa berpindah-pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya, fleksibel.
Persaingan bukanlah perkara yang mengusik Wasyuri dan Nur. Yang utama, bagi mereka, adalah kesempatan kerja bagi warga desa untuk mendapatkan pemasukan tambahan di luar aktivitas cari rumput, merawat ternak, atau mengolah sawah.
“Intinya, menjaga biar tidak ada yang menganggur,” tegas Wasyuri.

Potensi Ketimpangan, Menambah Pemasukan
Realitas perempuan penjahit Dranan mengingatkan kita betapa dahsyatnya dorongan penawaran dan permintaan (supply-demand) dalam rantai pasok komoditas fesyen.
Konveksi adalah salah satu mata rantai penting industri sandang yang tidak akan pernah surut lantaran hasrat manusia untuk senantiasa memperbarui busana dan mengekor tren.
Dari sisi pemilik modal, pengusaha, maupun perusahaan, mereka pun umumnya akan berupaya menjaga biaya produksi sandang tetap efisien.
Pertimbangan tersebut mendorong mereka untuk mencari sumber tenaga kerja dengan biaya lebih rendah, termasuk melalui skema kerja informal yang belum tentu disertai perlindungan hukum atau jaminan kesejahteraan jangka panjang yang memadai.
Dalam hubungan kerja Nur dengan para pemasok bahan atau pemesan jahitan, persoalan seperti mesin jahit yang rusak, risiko kecelakaan kerja, atau iuran BPJS Ketenagakerjaan berada di luar kesepakatan produksi. Lingkup kerja sama mereka terbatas pada jumlah barang yang dihasilkan, standar kualitas, dan besaran upah yang telah disepakati.
Meski usaha konveksi rumahan bisa dilihat sebagai bagian dari rantai industrialisasi yang menyimpan potensi ketimpangan dalam relasi kerja, praktik ini juga dapat diamati dari sudut lain.
Nastiti menyoroti gaya kepemimpinan social leadership bisa jadi berlaku pada kalangan pedagang dan pengusaha di pesisir Pekalongan yang secara historis merupakan komunitas religius.
Alih-alih berorientasi pada profit semata, pelaku usaha tipe ini juga berfokus pada manusia, hubungan sosial, dan pengaruh positif dalam praktik bisnisnya. Dengan begitu, mereka memiliki dorongan lebih kuat untuk memajukan kemaslahatan masyarakat luas, tak terkecuali warga desa di pegunungan yang aksesnya sulit.
“Mereka mungkin melihat Petungkriyono sebagai wilayah yang belum terakses oleh perekonomian modern, sehingga berusaha menjangkau ke situ dan membantu menambah penghasilan warga di sana. Pemikiran orang-orang seperti ini tidak berhenti pada kepentingan rantai produksi, tapi menganggap usahanya harus berguna untuk masyarakat. Ini bisa jadi perspektif di luar ‘eksploitasi tenaga kerja murah’,” ujar Nastiti.
Di luar itu semua, tidak bisa dimungkiri bahwa masuknya industri konveksi ke Petungkriyono telah berkontribusi pada ekonomi rumah tangga warga desa yang sehari-hari bergantung pada pertanian subsisten.
Dari setiap bos/perantara, Nur akan menerima upah jasa jahitan dengan kisaran sekian ribu rupiah per celana. Uang itulah yang kemudian Nur salurkan ke setiap penjahit sesuai jumlah setoran celana masing-masing.
Tergantung pada kecepatan dan kuantitas jahitan yang dikerjakan, penjahit pemula bisa menerima upah Rp500 ribu setiap minggu, sementara penjahit lebih senior sampai Rp1 juta.
Sejauh ini, pemasukan tambahan dari menjahit dimanfaatkan oleh para penjahit untuk konsumsi dan menabung.
“Dari saya bayarnya cash, terserah penjahit mengelola uang bagaimana. Lumayan ada manfaatnya buat mereka; tabungan, bayar arisan, ikut sembako tahunan,” tukas Nur.
Nur menuturkan, penjahit-penjahitnya rutin menabung Rp100 ribu ke lembaga koperasi simpan pinjam. Uang yang terkumpul akan diambil setiap menjelang Idulfitri untuk memenuhi kebutuhan hari raya, termasuk belanja baju.
Ada pula yang menggunakan upah menjahit untuk melunasi pinjaman usaha pertanian di PNM Mekaar, layanan pinjaman modal perempuan prasejahtera.
Sementara Nur dan Wasyuri memanfaatkan upah menjahit untuk membeli sapi lagi, membayar berbagai iuran sosial, membangun dapur di belakang rumah, sampai membiayai pendidikan anak pertamanya di pondok pesantren.
Meski pendapatan dari menjahit telah membantu Nur dan perempuan Dranan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tabungan jangka pendek, pengelolaannya belum sampai ke level investasi atau kegiatan ekonomi yang berdampak lebih luas di luar lingkup rumah tangga.
“Setelah ada uang keluar-masuk, biasanya perkembangan selanjutnya adalah membentuk mekanisme simpan-pinjam. Mungkin ini bisa diinisiasi oleh generasi di bawah mereka yang kuliah di kota, atau dari pemerintah daerah melalui aneka balai latihan kerja untuk mengajarkan skill terkait literasi keuangan,” tutur Nastiti.
Program-program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan usaha produktif selama ini rutin diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Bidang Bina Usaha Koperasi, Desy Arijani, mengungkapkan, selain pelatihan keterampilan teknis dan edukasi pengembangan usaha, Diskop UKM melalui Pokja Pembiayaan juga memberikan edukasi pengelolaan keuangan, termasuk pada masyarakat desa dan kelompok perempuan di desa pesisir dan pegunungan Jateng yang lokasinya sulit dijangkau.
Desa Gambuhan (Kabupaten Pemalang), Desa Purworejo (Kabupaten Blora), dan Desa Bojong (Kabupaten Tegal) adalah beberapa lokasi yang aksesnya cukup menantang yang pernah dijangkau oleh Diskop UKM untuk menerima program edukasi keuangan.
“Materinya mencakup perencanaan dan pengelolaan keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, pengelolaan keuangan usaha, pencatatan sederhana, pemahaman mengenai investasi yang benar dan aman, serta pengenalan dan akses terhadap program pembiayaan pemerintah yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha,” tutur Desy.
Menurut Desy, selain tantangan akses menuju desa, tantangan lain yang kerap ditemui dalam edukasi literasi keuangan penduduk desa adalah keberagaman tingkat pemahaman dan pengalaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan formal.
“Sebagian masyarakat masih terbiasa mengelola keuangan secara sederhana berdasarkan kebutuhan sehari-hari,” tukas Desy sembari menekankan perlunya menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan contoh yang sesuai jenis usaha dalam keseharian mereka.
“Dalam kegiatan pemberdayaan perempuan, misalnya, salah satu hal yang perlu diperkuat adalah kemampuan untuk memisahkan keuangan rumah tangga dengan keuangan usaha, melakukan pencatatan sederhana, menghitung biaya dan hasil usaha, serta memahami kebutuhan modal dan pilihan pembiayaan,” kata Desy.
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id

































