Menuju konten utama

Kisah Getir Pencari Kerja Menjemput Asa di Tengah Peluang Sempit

Di Job Fair 2026, orang muda hingga lansia sama-sama mengetuk pintu peluang di tengah kerasnya pasar tenaga kerja Indonesia.

Kisah Getir Pencari Kerja Menjemput Asa di Tengah Peluang Sempit
Pengunjung bursa kerja tengah menunduk menatap layar ponsel untuk mendaftar via situs perusahaan yang disediakan aksesnya via kode batang di booth perusahaan. Foto/Huda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Khalid, 18 tahun, duduk termangu sepulang ibadah salat Jumat pada awal September. Ia menatap gerbang masuk Balai Prajurit Ragunan, Jakarta Selatan, tempat pelaksanaan "Jakarta Job Fair 2026".

Sesekali dia menunduk, menatap sepasang kaki bersandal, yang masih bengkak pasca-operasi tumor. Pemuda asal Bekasi ini punya satu tujuan pasti: mendapat pekerjaan.

Namun langkahnya terhenti bahkan sebelum melewati pintu gerbang bursa kerja. Khalid dilarang masuk oleh panitia karena sandal di kakinya.

“Oh, enggak boleh masuk kalau enggak pakai sepatu. Disuruh keluar dulu, jam 3 sore baru boleh balik lagi. Makanya kan saya kan ikutin doang,” kata Khalid, menirukan ucapan petugas.

“Gimana pakai sepatu? Dibeliin aja kagak,” celetuk Khalid getir.

Keluarga Khalid hidup serba terbatas. Dirinya adalah anak sulung dari lima bersaudara. Adik-adiknya masih membutuhkan biaya pendidikan. Khalid sangat butuh pekerjaan. Beban keluarganya amat berat akibat rentetan cobaan yang merundung pekerjaan kedua orang tuanya.

“Dulu waktu saya masih SD, masih kecil, bokap kerja karyawan di kantor-kantoran. Sakit ginjal jadi dikeluarin. Lumayan lama dari keluar itu enggak kerja. Pas saya SMA baru dia kerja lagi jadi guru. Nah, itu yang pertama itu enggak digaji,” kisah Khalid menceritakan.

Di sisi lain, ibunya juga seorang pendidik non-ASN yang harus menerima gaji pas-pasan demi mendulang hidup lima anaknya.

Belum berhenti di sana, keluarga ini kembali dihantam musibah. Sang ayah mengalami kecelakaan lalu lintas dan kembali kehilangan pekerjaannya.

“Waktu kelas 10 itu bokap kecelakaan. Kondisinya memprihatinkan banget, astagfirullah. Dia enggak boleh makan makanan aneh, minum minuman aneh sama dokternya. Sampai kadang nangis gitu,” kenang Khalid.

Himpitan ekonomi keluarga memaksa Khalid tak dapat merasakan sekolah reguler. Ia harus menumpang hidup pada kerabat di Depok, sekolah dengan beasiswa di suatu pesantren di Serang, hingga akhirnya menamatkan pendidikan lewat Paket C, pengganti setara sekolah menengah atas.

Di masa-masa sulit itu, Khalid remaja ikut bekerja keras memproduksi 10 kilogram adonan bakso bakar tiap harinya demi membantu keluarga menyambung hidup.

Kondisi demikian membuat Khalid nekat datang ke job fair bermodalkan pakaian rapi dan sandal seadanya. Sayangnya, ia dihadapkan peraturan di depan gerbang bertuliskan “Dilarang memakai sandal jepit”.

Beruntung petugas masih mengizinkannya masuk pukul 15.00 WIB, satu jam sebelum acara rampung. Jam masih menunjukkan 14.00 WIB, membuat Khalid bersabar selama satu jam.

Di hari yang sama, sang ayah yang tengah bertukar kabar dengannya, ternyata juga sedang mengantre di sebuah bursa kerja di sudut Jakarta yang lain. Bapak dan anak itu sama-sama menganggur dan mencari celah di antara kerasnya pasar lapangan kerja.

Mencari Pekerjaan yang Layak

Header Feature Pekerjaan Layak

Pengunjung bursa kerja tengah menunduk menatap layar ponsel untuk mendaftar via situs perusahaan yang disediakan aksesnya via kode batang di booth perusahaan. Foto/Huda

Lain cerita dengan Devi, 25 tahun. Ia terlihat duduk beristirahat bersama temannya yang seumuran, Annisa, di bangku panjang area pameran seusai berkeliling. Di tangannya bertumpuk brosur lowongan kerja.

Devi adalah sarjana lulusan Manajemen tahun 2023. Ia punya motif ingin hidup mandiri dengan menyewa kos di Jakarta, dan lepas dari bayang-bayang orang tuanya.

Sejak awal 2024, Devi bekerja sebagai staf pengajar di sebuah bimbingan belajar di dekat rumahnya. Pekerjaan itu terpaksa ia ambil, meski gajinya tak seberapa.

“Lagi karena kan aku mikir juga waktu dulu kan cuman pengin ngisi waktu aja biar enggak terlalu lowong, kayak enggak terlalu merasa aku pengangguran, gitu loh. Iya, paham kan?” ujar Devi.

Meski sudah memiliki pekerjaan, selama dua tahun belakangan Devi terus menebar CV ke banyak perusahaan. Dirinya merasa posisinya tidak sejalan dengan gelar Manajemen yang susah payah ia raih.

Ia menaruh harapan besar pada job fair hari itu untuk mencari pekerjaan impiannya yang bergaji paling tidak UMR. Namun, realita persaingan membuatnya kelimpungan.

“Ekspektasi terlalu tinggi. Apalagi kalau aku kan sebenarnya jurusan Manajemen yang selalu bisa diambil sama jurusan yang lain gitu, kan. Jadi kayak aku merasa sulitnya di situ sih,” keluhnya diiringi senyum.

Cerita berbeda dari Zidan, 26 tahun, lulusan Hukum di tahun yang sama dengan Devi. Dirinya sudah mendatangi acara bursa kerja untuk yang kedelapan kalinya. Semenjak lulus, ia sudah menyebar banyak lamaran, berharap mendapat kepastian.

Rasa putus asa karena terus menganggur hingga 6-7 bulan setelah lulus, sempat membuat Zidan asal menerima tawaran kerja. Ia terjerumus ke perusahaan pialang yang memberinya target penjualan tinggi, tetapi secara bersamaan pelit memberi gaji.

“Karena belum tahu aja. Belum tahu kan, kita. Kayaknya nyari tahu dulu nih itu perusahaan apa sih? Kok lama-lama jadi kelihatan. Oh, pialang. Ya itu pekerjaan pertama,” kenang Zidan.

Pekerjaan itu tak dipertahankannya lama. Setelah beberapa bulan melewati pengalaman melelahkan dan menguras energi di perusahaan pialang, Zidan akhirnya berhasil terlepas dan diterima bekerja di sebuah firma hukum.

Namun, Zidan kembali menginjakkan kaki di area job fair hari itu dengan dalih mencari pekerjaan sampingan, semata-mata demi menambah pemasukan yang dirasanya masih jauh dari cukup untuk bisa menabung.

“Zaman sekarang kan susah banget ya cari kerjaan, ya. Susah banget, jor-joran, apalagi pasti ada orang dalam ya,” sesalnya.

Lansia yang Ikut Mencari Kerja

Najmudin, 60 tahun, terlihat berjalan perlahan sembari teliti memandangi spanduk-spanduk informasi pekerjaan dari perusahaan yang berjajar di area pameran.

Latar belakang Najmudin sejatinya mentereng. Ia memiliki pengalaman 30 tahun bekerja di perusahaan IT Penanaman Modal Asing (PMA) asal Amerika Serikat. Di masa jayanya, ia terbiasa memasuki ruang rapat, terbang melakukan kunjungan kerja ke kota-kota seperti Las Vegas atau Chicago, hingga lembur mengerjakan laporan di kamar hotel.

Kini, kedua anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Anak pertamanya telah menjadi dokter umum, sementara anak keduanya adalah sarjana teknik yang bekerja di pabrik semen.

Meski demikian, Najmudin masih ingin mencari pemasukan di masa pensiunnya agar tetap produktif dan tak membebani keluarga.

Namun, langkahnya di job fair itu dijegal oleh digitalisasi rekrutmen yang dinilainya kaku dan dingin. Tak ada lagi buku manual berisi panduan deskripsi lowongan kerja selayaknya job fair di eranya. Kini, semuanya hanya sekadar spanduk dan barisan kode batang.

“Di sana tuh enggak menginformasikan secara langsung position-nya dan juga kualifikasinya. Jadi semua itu hanya baru judul-judul aja, jadi semua mesti pakai di-scan untuk cari informasinya. Kan akhirnya ya seperti mencari-cari lagi,” keluhnya.

Sebelum memutuskan datang langsung ke arena bursa kerja, Najmudin sebenarnya sudah berulang kali menebar CV secara daring. Setelah pensiun Maret tahun ini, ia telah aktif melamar lewat berbagai platform pencarian kerja seperti JobStreet, Indeed, hingga LinkedIn. Namun, usahanya di dunia maya tak membuahkan hasil.

“Berkali-kali saya masukin ke semua [platform] itu, tapi lama-lama pesimis juga. Memang [lowongannya] enggak menyebutkan batasan usia, tapi kalau enggak digubris, enggak dibaca, apalagi dibalas, ya mau bagaimana,” akunya.

Penolakan demi penolakan itu membuat dirinya bimbang di tengah usianya yang tak lagi muda.

“Saya sampai sekarang masih bingung apa yang perusahaan itu cari. Apa gitu yang cocok buat saya yang usia sekarang itu tuh apa, gitu. Saya enggak tahu,” ucapnya lirih.

Pernah suatu ketika, ia menemukan lowongan pramusaji restoran dari grup makanan ternama yang khusus merekrut pekerja lansia. Namun, alih-alih memberi kesempatan, syarat yang diminta tak masuk akal baginya.

“Dia mempekerjakan usia lansia, tapi yang dicari adalah yang bodinya tuh menarik,” ujar Najmudin tak habis pikir.

“Dia minta foto tubuh. Berarti saya menduga dia itu mencari yang tubuhnya, bodinya bagus,” imbuhnya.

Sulitnya Mencari Kerja di Indonesia

Potret Khalid, Devi, Zidan, dan Pak Najmudin adalah bagian bukti hidup dari karut-marutnya sistem dan kondisi pasar kerja di Indonesia.

Header Feature Pekerjaan Layak

Di lorong-lorong bursa kerja ini, gelar sarjana dan pengalaman puluhan tahun dilebur dalam satu pijakan yang sama demi mencari pekerjaan layak. Foto/Huda

Realita di lapangan ini seakan sulit didamaikan dengan janji politik pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka tentang penciptaan 19 juta lapangan kerja baru.

BPS mencatat pengangguran terbuka per Mei 2026 ada di angka 7,22 juta orang. Meski begitu, angka tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut.

Standar statistik mengategorikan seseorang yang bekerja sekadar satu jam seminggu sebagai orang yang bekerja, dan otomatis mencoretnya dari daftar pengangguran. Mereka berada di kategori terpisah, yakni setengah penganggur (underemployment).

Lemahnya daya serap industri formal juga membuat jutaan orang tergeser ke sektor informal yang kini mendominasi 59,3 persen lanskap pekerja Indonesia, setara 87,88 juta orang. Banyak di antara mereka bekerja tanpa kontrak tetap dan jaminan sosial, serta berupah minim.

Krisis kelayakan kerja terbukti tak pandang bulu, menyeret lulusan bergelar sarjana. Data BPS Mei 2026 mencatat porsi lulusan sarjana dari total pengangguran nasional mencapai 14,31 persen, jauh lebih tinggi dibanding lulusan diploma yang hanya menyumbang 2,48 persen.

Menurut Guru Besar Sosiologi UGM dan Pakar Ketenagakerjaan, Prof. Tadjuddin Noer Effendi, krisis ini adalah imbas dari ledakan institusi pendidikan yang lulusannya mismatch dengan kebutuhan industri. Tiap tahunnya, perguruan tinggi berbentuk universitas mencetak sekitar 2 juta sarjana baru. Klaster ini menyumbang lebih dari 1 juta pengangguran absolut.

“Jadi universitas itu ada 900 [981]. Negerinya 63, sisanya itu swasta. Lulusannya, sebagiannya, 47 persennya nganggur,” ungkap Tadjuddin.

Nasib Devi yang lulusan Manajemen dan Zidan yang berlatar Hukum menjadi cerminan nyata membludaknya lulusan prodi keilmuan umum yang tak lagi relevan dengan spesifikasi industri.

“Pada umumnya sarjana itu, contohnya kayak Hukum gitu. Hukum itu kan sebetulnya harusnya ada legal macam-macam. Kebanyakan yang lulus tuh fakultas Hukum gitu aja, enggak punya keahlian spesifik. Jadi enggak punya kompetensi khusus. Itu susah cari kerja dia, nganggur. Begitu juga Manajemen, begitu juga Ekonomi. Kalau Ekonomi tok begitu, sekarang sudah enggak laku,” paparnya.

Perusahaan hari ini, kata Tadjuddin, tak lagi silau pada nama jurusan melainkan kompetensi spesifik.

“Misalnya ini kamu sarjana Ekonomi. Ekonomi apa? Ekonomi pembangunan. Pembangunan apa? Gitu kan. Harus ada detilnya itu apa? Sarjana Hukum, hukum apa? Legal drafting atau apa? Jadi kalau hanya Hukum gitu, orang kan enggak tahu apa yang dikerjakan. Iya kan?” terangnya, merinci.

Persoalan kualifikasi ini bermuara pada lambannya kampus merespons disrupsi zaman. Tadjuddin menyoroti kurikulum kampus yang belum adaptif.

“Dunia pendidikan kita terutama perguruan tinggi, itu tertinggal kira-kira 10-20 tahun dibandingkan dengan teknologi. Makanya itu juga susah cari kerja dia,” paparnya.

Di sisi lain, bagi lulusan SMA tanpa keahlian khusus seperti Khalid, rintangannya jauh lebih kejam. Keputusasaan kerap memaksa mereka terjun ke sektor informal, memicu ironi penyia-nyiaan tingkat pendidikan.

“Ah, sudah parah ya. Jawabnya akhirnya dia jadi ojek. Nah, itu saja. Tapi itu yang disebut dengan over mismatch. Kalau untuk ojol itu enggak usah SMA, SD aja kan bisa. Punya HP, punya SIM, berangkat sudah,” terangnya.

Di sisi lain, pasar kerja juga tanpa ampun menyapu masyarakat usia lanjut yang masih ingin mencari kesempatan kerja. Keputusasaan Pak Najmudin untuk kembali turun gunung di usia pensiun adalah bukti rapuhnya jaring pengaman sosial, terutama bagi pekerja swasta.

“Kalau swasta biasanya enggak punya pensiun. Nah itu kalau pegawai negeri punya, karena kita setiap bulan kan ditarik. Tergantung juga, swasta ada yang ngasih pesangon, ada yang tidak sama sekali. Selesai kontrak ya selesai,” jelas Tadjuddin.

Ia menjelaskan bahwa nasib hari tua pekerja swasta sangat bergantung pada kebaikan perusahaan mendaftarkan mereka ke program asuransi Jaminan Hari Tua (JHT).

“BPJS kan kalau di perusahaan swasta sekarang hampir semua harus mendaftar. BPJS itu kan ada Jaminan Hari Tua, terus kalau dipecat ada Jaminan Kehilangan Pekerjaan. Itu ada tabungannya kalau perusahaan mencatatkan dan membayar iurannya setiap bulan. Kalau enggak, ya enggak dapat,” Tadjuddin merinci.

Tanpa adanya jaminan tersebut, para lansia yang kembali masuk ke bursa kerja akan kembali dihadapkan pada realita penolakan.

“Kalau sudah umur 55 tahun, cari kerja tantangannya sulit. Tapi kalau dia kebetulan bidangnya laris gitu ya, agak lumayan malah justru,” ujarnya, mencontohkan rekan dosennya yang masih mendapat tempat mengajar di swasta.

Di tengah absennya jaring pengaman, bergesernya industri, dan tertinggalnya kurikulum, ribuan pelamar seperti Khalid akan terus duduk di pinggir gerbang menunggu keajaiban.

Sarjana seperti Devi dan Zidan terus kelimpungan mencari pelabuhan lamaran. Sementara lansia dibiarkan meraba sisa kesempatan, menggantungkan harapan pada perusahaan yang kerap menyembunyikan kriteria batas usia.

Baca juga artikel terkait JOB FAIR atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - News Plus
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Dipna Videlia Putsanra