Menuju konten utama

Cerita Perjalanan UMKM Binaan BI Meniti Pasar Global

UMKM binaan BI membuktikan pendampingan, akses pasar, dan inovasi mampu mendorong usaha terus tumbuh.

Cerita Perjalanan UMKM Binaan BI Meniti Pasar Global
Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diprakarsai Bank Indones dengan tema " Penguatan sinergi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing" sukses digelar pada 20-23 Agustus di Jakarta. tirto.id/Eggi Hadian
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Musibah banjir bandang yang menerjang Bener Meriah, Aceh, pada akhir November 2025 sempat melumpuhkan total aktivitas produksi Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ingin Jaya. Tempat usaha kerajinan tas tradisional tersebut terendam air dan terpaksa berhenti beroperasi hingga lima bulan.

Mesin-mesin produksi tas kerajinan skala kecil itu tak dapat lagi berfungsi usai terendam air. Padahal saban hari, sebelum air bah datang menerjang, alat penganyam tas itu masih berisik di bengkel mereka.

"Waktu itu tempat produksi kami kena banjir, sempat terhenti sekitar lima bulanan baru aktif lagi,” kenang Owner KUB Ingin Jaya, Dona Destia, saat ditemui Tirto di perhelatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Namun, di tengah kondisi tersebut, pemulihan usaha berjalan lebih cepat lantaran adanya dukungan peralatan dan bahan baku dari Bank Indonesia (BI), lembaga yang telah membina kelompok usaha ini sejak 2019.

“Karena BI langsung memberi bantuan seperti mesin dan bahan, kami bisa lebih cepat membuat produksi barang lagi," kata Dona.

KKI 2026

Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diprakarsai Bank Indones dengan tema ' Penguatan sinergi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing' sukses digelar pada 20-23 Agustus di Jakarta. tirto.id/Eggi Hadian

Dona menjelaskan bahwa sebelum masuk dalam program binaan BI pada 2019, usaha yang dirintis pada 2018 itu menghadapi keterbatasan mesin produksi dan akses bahan baku. Bantuan peralatan jahit modern yang diterima dari BI mempercepat proses pengerjaan barang. Hal ini juga memungkinkan KUB Ingin Jaya menambah jumlah pekerja dari yang awalnya 5 orang menjadi sekitar 20 orang warga lokal, termasuk ibu rumah tangga dan remaja putus sekolah.

Produk yang dihasilkan KUB Ingin Jaya meliputi tas mini, tas pesta, tote bag, hingga koper berbahan kain dengan motif bordir Kerawang Gayo dan ornamen Aceh seperti Bunga Matahari, Pucuk Rebung, serta Emun Berangkat. Harga jual produk berkisar antara Rp100.000 hingga Rp1,5 juta untuk produk koper.

Melalui pendampingan dan partisipasi di pameran seperti KKI, KUB Ingin Jaya mulai mendapatkan akses pesanan dari luar daerah dan mancanegara. Tak hanya itu, omzet mereka pun meningkat hingga ratusan persen setiap bulannya.

"Alhamdulillah untuk KUB Ingin Jaya ini sebagian kita sudah ekspor ke negara-negara ASEAN seperti Malaysia. Pesanan dari luar cukup banyak, seperti kemarin di Bali ada pemesanan ratusan pieces tote bag. Dari sisi omzet, kalau dulunya masih sekitar 10 jutaan, sekarang bisa melonjak sampai Rp50 juta hingga Rp100 juta," ujar Dona yang telah mengikuti gelaran KKI sebanyak 10 kali.

Kisah lain datang dari Maza, pemilik Maza Handcrafted Pearl & Jewelry asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia merintis usaha kerajinan perhiasan mutiara air laut sejak 2013, bermula dari layanan jasa titip (jastip) hingga akhirnya membuka galeri di Mataram. Pada 2019, Maza terdaftar sebagai peserta program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI).

Melalui program tersebut, Maza mengaku mendapatkan pelatihan manajemen usaha, tata kelola keuangan, dan pendampingan dari mentor yang disediakan oleh BI.

"Bank Indonesia membimbing kami belajar manajemen keuangan dan bagaimana menjadi pengusaha yang hebat. Kami didatangkan coach selama enam bulan. Kepercayaan customer terhadap label Wirausaha Unggulan Bank Indonesia itu sangat berpengaruh, peningkatan omset awal bisa mencapai 60 sampai 70 persen,” ucapnya kepada Tirto di lokasi pameran KKI 2026.

Dengan omzet yang meningkat hingga 70 persen usai jadi UMKM binaan BI, Maza pun dapat membangun galerinya sendiri di Mataram. Sebelumnya, ia hanya memajang produk perhiasan berbahan mutiaranya hanya di etalase rumah.

“Kita memiliki home store di rumah. Nah, bertemulah kami dengan Bank Indonesia. Lalu memiliki galeri. Jadi kami besar dengan bantuan Bank Indonesia, dibimbing, dibina sama Bank Indonesia menjadi Wirausaha Unggulan Bank Indonesia,” ucapnya.

Tantangan bagi Maza muncul ketika pandemi Covid-19 merebak, yang disusul dengan penurunan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih hingga kini. Omzet galerinya yang sebelum pandemi mampu menembus angka di atas Rp100 juta per bulan, bergeser ke rata-rata Rp30 juta per bulan, bahkan kadang kurang dari jumlah tersebut. Produk yang ia jual berada di kisaran harga Rp100.000 hingga Rp20 jita untuk kalung yang diikat emas.

Dia mengungkapkan, selain memberikan pelatihan manajemen dan keuangan, BI turut serta dalam membuka pangsa pasar Maza Handcrafted Pearl & Jewelry ke mancanegara.

Untuk membantu pemasaran ke luar negeri, BI memberikan fasilitasi berupa pelatihan ekspor, temu bisnis (business matching), serta penanggungan biaya pengiriman sampel produk ke calon pembeli di luar negeri. Pelaku usaha cukup menyerahkan sampel produk dan invoice ke pihak BI untuk dikirimkan kepada calon pembeli yang telah dikurasi.

"Nah, ini bagusnya BI. Kita biasanya sampel dikirim ke luar negeri dan itu dibiayai pengirimannya sama BI. Kita ngasih sampelnya ke BI, nanti BI yang kirim, baru invoice-nya ke BI. Nanti kita dipertemukan dan dicarikan buyer," ujar Maza.

Sinergi Pembinaan UMKM di KKI 2026

KKI 2026

Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diprakarsai Bank Indones dengan tema ' Penguatan sinergi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing' sukses digelar pada 20-23 Agustus di Jakarta. tirto.id/Eggi Hadian

Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) BI, Kurniawan Agung, menyampaikan bahwa penyelenggaraan KKI ke-11 tahun 2026 diarahkan untuk mendukung kapasitas operasional dan daya saing pelaku UMKM binaan.

"Tema yang kita angkat adalah bagaimana mendorong UMKM itu bangkit, tangguh, dan berdaya saing. Jadi tidak hanya sekadar bangkit dari keterpurukan, tetapi yang sudah kuat bisa lebih masuk lagi ke pasar domestik dan luar negeri," jelas Kurniawan di sela-sela acara.

Ia menambahkan bahwa program pembinaan BI dilakukan secara bertahap (end-to-end), mencakup penguatan kelembagaan, perbaikan kualitas produk, digitalisasi transaksi, hingga fasilitasi akses pembiayaan dan pasar. Pelaksanaan KKI 2026 melibatkan sinergi dengan 27 kementerian/lembaga, 34 mitra strategis, serta dukungan dari 46 Kantor Perwakilan BI di daerah dan kantor perwakilan BI di luar negeri.

"Kami menyadari pembinaan UMKM tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Di KKI ini bukan sekadar pameran, tetapi puncak selebrasi dan ajang interaksi, ada seminar, business matching dengan investor, agregator, hingga lembaga pembiayaan," ujar Kurniawan.

Pada penyelenggaraan tahun ini, KKI 2026 juga menerapkan konsep net zero emission dan KKI double zero di mana emisi karbon kegiatan dihitung untuk diimbangi (offset), serta sampah pameran dikelola agar dapat didaur ulang menjadi produk berdaya guna.

"KKI tahun ini adalah KKI double zero. Kenapa disebut double zero? Karena seluruh emisi yang dihasilkan di KKI tahun ini di-offset dengan penanaman pohon maupun pembelian kredit karbon, itu zero pertama. Zero kedua adalah semua sampah, baik organik maupun plastik, diolah langsung menjadi produk berdaya guna bagi lingkungan, termasuk pupuk dan produk bernilai ekonomi," terang Kurniawan.

Selain fokus pada keberlanjutan lingkungan, BI juga bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan potensi desa wisata di berbagai daerah. Melalui area khusus pameran, pengunjung diperkenalkan pada daya tarik wisata alam dan budaya lokal yang belum banyak terekspos.

Pendampingan End-to-End dan Akses Pasar Global

Untuk memastikan penetrasi pasar berjalan optimal, BI menerapkan strategi pembinaan dari hulu ke hilir (end-to-end). Tahapan ini dimulai dari pembenahan tata kelola kelembagaan, peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, digitalisasi transaksi, hingga pembukaan akses pembiayaan dan fasilitasi hak kekayaan intelektual (HAKI).

Dalam hal penembusan pasar luar negeri, BI mengoptimalkan jaringan lima kantor perwakilan di mancanegara untuk membawa langsung para pembeli (buyer) ke area pameran. Langkah ini memfasilitasi pelaku UMKM untuk memahami standar dan preferensi pasar internasional di berbagai kawasan, seperti Asia, Eropa, dan Amerika.

KKI 2026

Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diprakarsai Bank Indones dengan tema ' Penguatan sinergi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing' sukses digelar pada 20-23 Agustus di Jakarta. tirto.id/Eggi Hadian

Kurniawan menyoroti bahwa salah satu tantangan utama UMKM saat berhadapan dengan pasar ekspor adalah kepastian volume pasokan dan konsistensi kualitas.

“Misalnya buyer meminta lima kontainer, tetapi baru siap satu container. Sekarang tugas kita adalah memastikan konsistensi kualitas dan konsistensi kapasitas agar pemesanan buyer tidak kecewa," ucapnya.

Selain kopi kategori home decor atau dekorasi rumah menjadi salah satu produk unggulan yang paling diminati pada penyelenggaraan tahun ini. Beberapa produk kerajinan bahkan telah mengantongi sertifikasi berkelanjutan, sehingga memudahkan penetrasi ke pasar Eropa tanpa hambatan regulasi lingkungan.

“Kerajinan kita itu tidak kalah, mutunya tidak kalah, dan beberapa bahkan sudah memiliki sertifikasi berkelanjutan. Jadi untuk masuk ke pasar Eropa, itu kita beberapa sudah tidak ada kendala,” tuturnya.

Sementara itu, Kurniawan menargetkan peningkatan business matching, termasuk untuk skema pembiayaan maupun pendorongan penetrasi pasar ekspor. Ia optimistis capaian tahun ini mampu melampaui target, merujuk pada tren kinerja pameran periode sebelumnya.

"Business matching itu setiap tahun ditargetkan, akses pembiayaan dan akses pasar. Data lengkap targetnya ada, tetapi yang jelas tahun lalu antara target dengan realisasi, lebih tinggi realisasinya," ucapnya.

Capaian Impresif UMKM

KKI 2026

Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diprakarsai Bank Indones dengan tema ' Penguatan sinergi untuk mendorong UMKM bangkit, tangguh, dan berdaya saing' sukses digelar pada 20-23 Agustus di Jakarta. tirto.id/Eggi Hadian

Pada 4 hari penyelenggaraan, KKI 2026 membukukan pencapaian impresif dari sisi bisnis dan kebaruan. Dari sisi bisnis, total omzet penjualan mencapai Rp177,2 miliar. Dari angka omzet tersebut, sebesar Rp119,44 miliar disumbang oleh penjualan online sementara Rp57,76 miliar lainnya dari penjualan offline.

Adapun business matching ekspor meraup angka Rp169,9 miliar dan business matching pembiayaan mencatatkan Rp 185 miliar. Pilar ini mencatatkan 151 kesepakatan yang melibatkan 192 UMKM, 31 buyers, dan 16 negara. Capaian lainnya dicatatkan oleh Business Matching Pembiayaan yang sukses mencetak angka Rp285 miliar atau naik 30,3% YoY.

Baca juga artikel terkait UMKM atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - News Plus
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana