Menuju konten utama

Napas Penjahit di Era Budaya Baju Siap Pakai

Jamil tak ambil pusing soal tren pakaian yang terus berganti. Toh, kuncinya sederhana, yakni ikuti kemauan pemesan.

Napas Penjahit di Era Budaya Baju Siap Pakai
Jamil sedang menjahit celana di usaha jahit rumahan miliknya, Cimanggis Depok, Senin (28/08/26). FOTO/Putri Az zahra.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Suara mesin jahit terdengar dari sebuah ruangan sederhana di Cibubur, Depok, Jawa Barat, Senin (28/8/2026). Di balik meja, Jamil (54), masih sibuk mengarahkan kain di bawah jarum mesin. Tangannya bergerak mengikuti pola yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya selama tiga dekade.

Sekitar 30 tahun Jamil menetap di Cibubur sejak belum menikah hingga kini. Selama itu pula ia menekuni profesi penjahit, yang bermula dari kursus enam bulan lalu dimatangkan oleh pengalaman.

“Sekolah (kursus) 6 bulan terus. Belajar jahit sampai sekarang, sampai bisa,” ujar Jamil ketika bercerita kepada Tirto.

Selama puluhan tahun menekuni profesi itu, pelanggan jamil makin bertambah. “Perubahannya ya lumayan sih. Dari belajar sampai sekarang ya alhamdulillah sudah banyak langganan,” katanya.

Pelanggan setia membuat usaha Jamil terus bertahan. Meski pakaian siap pakai kini melimpah di toko daring dengan beragam model dan harga, jasa penjahit tak lantas kehilangan pasar.

Baju yang dibeli konsumen tak selalu pas di badan, entah kebesaran atau kekecilan. Bagi Jamil, ketidaksesuaian ukuran itu justru mendatangkan pesanan permak.

“Iya kalau baju baru biasanya kegedean, kekecilan. Tapi kalau menjahit ke tailor itu kalau kekecilan bisa digedein, masih tanggung jawab tailor. Tapi baju baru kan enggak bisa dikembalikan,” kata Jamil.

Pelanggan Jamil pun tidak hanya datang untuk memperbaiki pakaian. Ada yang membawa pakaian baru untuk dipermak, sementara sebagian lainnya membeli bahan sendiri lalu meminta dibuatkan pakaian. Jenis pekerjaan yang diterima beragam, mulai dari memperbaiki celana, membuat atau memperbaiki gaun, hingga membuat gamis.

“Pelanggan saya imbang sih, kadang-kadang beli baju baru dipermak, kadang-kadang beli bahan dijahit,” ujarnya.

Menurut Jamil, salah satu alasan orang masih memilih menjahit adalah adanya kepuasan karena pakaian dapat dibuat sesuai keinginan. Pelanggan dapat menentukan model dan memilih bahan sendiri, termasuk bahan yang tidak ditemukan pada pakaian jadi di pasaran.

“Oh itu, itu kepuasan terutama. Beda dari ide mereka sendiri gitu. Jadi, bisa bikin model, bisa model, bisa bajunya, yang di pasar nih enggak ada nih bahannya. Beli bahan sendiri terus bikin itu bisa,” kata Jamil.

Harga jasa menjahit dan permak juga disesuaikan dengan tingkat kesulitan. Untuk pekerjaan yang mudah, tarifnya dapat berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp 25.000. Sementara pekerjaan yang lebih sulit bisa mencapai Rp50.000 - Rp60.000.

“Kalau yang susah Rp50.000, Rp60.000. Kalau yang gampang ya Rp20.000, Rp 25.000. Rp15.000 ada, Rp5.000 juga ada,” ujar Jamil.

Penghasilan Jamil diukur dari seberapa banyak jahitan yang diselesaikan. Dari pekerjaan itu, ia mengantongi sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per bulan.

“Penghasilan kurang tahu juga, karena ini kan sistem bukan gajian, jadi sistem bayaran. Jadi enggak tentu. Tapi rata-rata ya 4 kali, 4 atau 3,5,” katanya ketika ditanya mengenai penghasilan per bulan.

Penjahit di Tengah Budaya Beli Baju Baru

Jamil sedang menjahit celana di usaha jahit rumahan miliknya, Cimanggis Depok, Senin (28/08/26). FOTO/Putri Az zahra.

Sistem borongan tersebut sudah menjadi pilihan Jamil sejak lama. Ia tidak tertarik berpindah menjadi pekerja dengan sistem gaji bulanan. Menjahit baginya bukan sekadar cara mendapatkan penghasilan, tetapi identitas yang lekat bertaut pada diri Jamil selama puluhan tahun.

“Ya itu karena profesi aku. Menjahit rumahan gitu bertahan, enggak, enggak, aku enggak suka sistem bulanan. Aku sistemnya borongan dari dulu,” tutur Jamil.

Perubahan Tren Bukan Hambatan

Jamil tak ambil pusing soal tren pakaian yang terus berganti. Toh, kuncinya sederhana, yakni ikuti kemauan pemesan. Perubahan model justru ia nikmati sebagai bagian alami dari dinamika merajut benang.

“Tantangan terbesar enggak ada. Walaupun fashion udah berganti gitu karena saya mengikuti perkembangan zaman model. Mengikuti orang-orang yang pengin juga jadi,” ujarnya.

Jamil juga tetap memilih bekerja secara mandiri dari rumah. Pelanggan yang sudah lama mengenalnya menjadi jaringan yang membuat pekerjaannya tetap mengalir. Ia bahkan kerap mendapat panggilan untuk mengerjakan pakaian di rumah pelanggan.

“Karena gini dikasih informasi aku dulu dia ke sana aja. Padahal aku enggak tahu dia, aku dikasih informasi teman aku suruh dia ke sini gitu,” ujar Jamil.

Mesin jahit yang digunakan Jamil pun bukan lagi mesin yang sama ketika ia pertama kali menekuni profesi tersebut. Mesin lamanya telah diganti karena sudah tidak lagi layak digunakan. Mesin yang sekarang dibelinya dengan harga sekitar Rp1 juta dan masih digunakan untuk menyelesaikan berbagai pesanan pelanggan.

Tiga puluh tahun berlalu, tren pakaian berubah dan pilihan pakaian jadi makin beragam. Namun, Jamil tidak melihat profesi penjahit akan segera kehilangan tempat. Selama masih ada pakaian yang perlu disesuaikan, diperbaiki, atau dibuat berdasarkan keinginan pemiliknya, jarum dan benang masih memiliki pekerjaan.

“Masih, tetap masih. Kalau tukang menjahit terus masih masa depan,” kata Jamil.

Pengalaman berbeda datang dari Pini (59), yang pernah bekerja di industri garmen selama sekitar 20 tahun. Ia merasakan adanya perubahan jumlah pekerjaan ketika masyarakat makin banyak membeli pakaian jadi. Meski demikian, pekerjaan menjahit masih tetap dilakukan setiap hari.

“Kayaknya nih udah lama masih itu aja. Dari harga gitu, kagak naik-naik. Malahan ada yang pernah naik. Sedangkan kebutuhan kita, cari-cari sama aku gitu ya, naik-naik,” tutur Pini.

Sistem kerja di industri garmen juga memiliki tekanan tersendiri. Pekerja dituntut memenuhi target produksi dalam jumlah tertentu. Jika target belum tercapai, waktu kerja dapat bertambah hingga malam.

“Orang-orang sudah pulang, kita harus tutup target. Karena kita belum dapat. Kita dapat targetnya, misalnya ditargetin 200. Terus belum dapat, orang-orang sudah pulang, misalnya 5 atau jam 4, kita bisa dituntut sampai jam 7. Harus tutupin target itu,” kata Pini.

Penjahit di Tengah Budaya Beli Baju Baru

Pini ketika diwawancarai dirumahnya di Sukatani, Depok. FOTO/Putri Az zahra.

Perubahan Perilaku Konsumen di Pasar Digital

Perubahan perilaku konsumen tersebut turut memengaruhi posisi penjahit di tengah pasar pakaian. Pengamat ekonomi Nuril Huda, mengatakan konsumen di pasar digital Indonesia cenderung berorientasi pada harga. Kondisi ekonomi membuat harga menjadi salah satu pertimbangan utama ketika seseorang memutuskan membeli pakaian.

“Yang pasti, konsumen di pasar digital Indonesia masih bersifat price oriented consumer, di mana harga menjadi faktor penentu pembelian barang. Di kondisi ekonomi seperti ini, harga baju jadi di e-commerce bisa lebih murah dibandingkan dengan di tukang jahit. Tak ayal, transaksi di e-commerce semakin diminati karena harganya yang lebih murah,” ujar Nuril.

Menurutnya, kemudahan tersebut kemudian membentuk kebiasaan baru. Konsumen dapat melihat model pakaian secara langsung di pusat perbelanjaan, tetapi memilih melakukan pembelian melalui platform digital karena mendapatkan harga yang lebih murah.

“Jadi ada kebiasaan yang terjadi di sisi konsumen, mereka biasanya ke pusat perbelanjaan hanya melihat-lihat model baju saja, tapi belinya di e-commerce,” katanya.

Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap penjahit, terutama karena mereka harus berhadapan dengan pakaian jadi yang dapat langsung digunakan dengan harga relatif murah. Namun, Nuril menilai jasa penjahit tetap memiliki pasar tersendiri.

“Bagi penjahit baju, tentu ada tekanan dari sisi permintaan di mana masyarakat lebih suka barang murah. Ketika ada yang lebih murah dan langsung pakai, masyarakat pasti memilih itu. Namun demikian, pasti ada satu dua konsumen yang masih memerlukan jasa penjahit. Mereka adalah konsumen dengan pangsa pasar spesifik. Misalkan untuk penjahit jas, kebaya, ataupun batik tertentu,” ujar Nuril.

Menurut Nuril, penjahit dengan pasar khusus masih memiliki peluang karena konsumen tidak hanya mencari harga murah, tetapi juga pakaian yang sesuai dengan keinginan dan ukuran mereka. Karena itu, penjahit dapat bertahan dengan menawarkan keahlian yang sulit digantikan pakaian produksi massal.

“Mereka masih ada permintaan dari orang-orang yang menginginkan produknya itu fit dengan permintaannya. Harganya pun juga tidak murah. Sedangkan untuk di kota kecil, memang akan sulit bersaing, kecuali jika bermain untuk partai besar dengan upah yang terbatas,” katanya.

Untuk penjahit skala kecil, Nuril menyarankan agar strategi usaha tidak hanya bergantung pada pesanan perorangan. Mereka dapat mengambil proyek dalam jumlah besar atau memperluas jenis layanan yang ditawarkan.

“Saya rasa bagi penjahit yang masih kecil, salah satu pilihannya adalah mengambil project partai besar. Mereka bisa bermain dengan bergabung dalam satu koperasi atau perkumpulan. Strategi lainnya adalah dengan memberikan layanan untuk permak, ataupun juga menggabungkan dengan layanan pewarnaan jeans misalkan. Saya rasa itu bisa menjadi solusi bagi mereka untuk bertahan,” ujar Nuril.

Baca juga artikel terkait PROFESI atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama