Menuju konten utama

Menilik Masih Aktifnya Istana Kedatuan Luwu Sulawesi Selatan

Kerajaan ini masih aktif dan memiliki susunan pemerintahan dengan dewan tertinggi sebanyak 12 orang.

Menilik Masih Aktifnya Istana Kedatuan Luwu Sulawesi Selatan
Suasana dan sejumlah barang peninggalan Kedatuan Luwu, Palopo Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Istana Kedatuan Luwu, atau yang juga dikenal sebagai Langkanae, masih berdiri kokoh di tengah Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Kerajaan dengan bangunan tua berbahan utama kayu tersebut, masih aktif dan dipimpin oleh Andi Maradang Mackulau Opu To Bau yang bergelar Datu Luwu ke-40.

Kerajaan ini masih aktif dan memiliki susunan pemerintahan dengan dewan tertinggi sebanyak 12 orang. Namun, mereka telah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pemerintah negara serta telah menghapus hukuman pengasingan.

"Hanya satu lagi yang tidak bisa kami laksanakan yaitu Dipersona non gratakan (dibuang dari wilayah)," kata Jemma Tongeng atau Juru Bicara Istana Kedatuan, Andi Abdullah Sanad Kaddiraja, saat Tirto berkunjung ke Kedatuan Luwu, Jumat (22/5/2026).

Kedatuan Luwu Sulsel

Suasana dan sejumlah barang peninggalan Kedatuan Luwu, Palopo Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

Meski begitu, kata Andi, bagi para pengikut kerajaan yang masih setia hingga saat ini, masih diterapkan hukum adat jika melakukan sebuah kesalahan seperti berselingkuh dengan diwajibkan menyumbang sebuah kerbau lalu mengundang para warga untuk bersama memakan daging kerbau tersebut.

Luwu yang memiliki masyarakat mayoritas Islam ini juga memiliki kedekatan khusus dengan Suku Toraja yang beragama Kristen. Keduanya, saling berhubungan baik dengan ciri khasnya masing-masing. Kata Andi, kedua wilayah tersebut tak dapat berpisah dan tetap bersaudara.

Kedatuan Luwu Sulsel

Suasana dan sejumlah barang peninggalan Kedatuan Luwu, Palopo Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

"Perang antara Toraja dengan orang Luwu itu hanya persoalan keluarga saja. Toraja tidak pernah mau terlepas dari Luwu. Kami juga tidak mau terlepas dari Toraja, sekalipun perbedaan itu ada," ujar Andi.

Dia juga menegaskan bahwa anak cucu keturunan Kerajaan Luwu tidak diperkenankan untuk merasa istimewa di lingkungan masyarakat. Menurutnya, Kedatuan ini, telah menyerahkan seluruh jiwa raga kepada NKRI.

Andi menyampaikan hal tersebut di sebuah bangunan bernama Salassa'e yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada 1920. Saat ini, selain untuk tempat pertemuan, bangunan ini juga menjadi Museum Batara Guru untuk menyimpan berbagai peninggalan sejarah dan benda pusaka kerajaan.

Kedatuan Luwu Sulsel

Suasana dan sejumlah barang peninggalan Kedatuan Luwu, Palopo Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

Berdasarkan pemantauan, di dalam Salassa'e terdapat foto Datu ke-40 berserta jajarannya. Sejumlah barang peninggalan disusun rapih di lemari kaca. Terdapat pula susunan silsilah Kerajaan Luwu di sana.

Selain kerajaan yang masih aktif, Kedatuan Luwu ini juga menjadi pusat sejarah dan dikunjungi oleh masyarakat luas termasuk anak sekolah yang ingin mempelajari sejarah Kerajaan Luwu.

Untuk masuk ke Kedatuan Luwu, pengunjung harus mengenakan sarung dan melepas alas kaki saat masuk Salassa'e. Terlihat puluhan anak sekolah mengenakan sarung dan menunjukkan wajah gembira saat berkunjung ke Kedatuan Luwu.

Kedatuan Luwu Sulsel

Suasana dan sejumlah barang peninggalan Kedatuan Luwu, Palopo Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026). tirto.id/Auliya Umayna

Baca juga artikel terkait LUWU atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Bayu Septianto