tirto.id - Di tengah eskalasi konflik yang terus memanas hingga akhir Maret 2026, istilah Mosaic Defence atau Pertahanan Mosaik kembali mencuat sebagai doktrin militer utama Iran dalam menghadapi kekuatan konvensional Amerika Serikat dan Israel.
Strategi ini mengacu pada taktik perang dengan konsep pertahanan asimetris untuk membuat serangan militer menjadi berbiaya sangat mahal dan sulit dimenangkan secara total oleh lawan, kendati mereka lebih unggul dari sisi teknologi.
Secara ringkas, Mosaic Defence adalah strategi pertahanan terdesentralisasi di mana kekuatan militer Iran dibagi menjadi unit-unit kecil independen di seluruh wilayah negara.
Layaknya sebuah mosaik, terdiri dari kepingan-kepingan kecil, setiap unit mampu menyerang dan bertahan secara mandiri tanpa harus menunggu instruksi dari komando pusat yang bisa jadi sudah dilumpuhkan oleh serangan lawan.
Strategi ini menjadi jawaban Iran atas doktrin perang modern AS yang biasanya mengandalkan penghancuran pusat komando dan kontrol.
Merujuk laporan Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru-baru ini menegaskan bahwa Teheran sudah menghabiskan sekitar dua dekade untuk mempelajari militer AS, guna membangun sistem yang tetap bisa bertempur meski ibu kota dibom.
Filosofi dasarnya yakni, kehilangan komandan senior, fasilitas kunci, hingga kontrol pusat, sudah diantisipasi dan tidak akan menyetop jalannya perang.
Karakteristik Mosaic Defence Iran
Doktrin Mosaic Defence mulai dikembangkan secara masif oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selepas Perang Irak-Iran, dan kian diperkuat setelah melihat jatuhnya rezim Saddam Hussein di Irak pada 2003 akibat sistem komando terlalu sentralistik.
Tujuannya Mosaic Defence yakni untuk menciptakan "kedalaman strategis" dan membuat lawan terjebak dalam perang atrisi alias perang jangka panjang yang menguras sumber daya.
Berikut beberapa pilar utama untuk memahami strategi Mosaic Defence Iran.
1. Komando Terdesentralisasi dan "The Fourth Successor"
Wilayah Iran dibagi menjadi 31 unit teritorial yang otonom. Di setiap unit, Iran menerapkan sistem suksesi berlapis yang dikenal sebagai "Penerus Keempat" atau The Fourth Successor.Artinya, setiap posisi kunci memiliki hingga empat lapis pengganti yang sudah disiapkan. Jika pemimpin utama gugur, rantai komando tidak otomatis runtuh.
"Masing-masing dari 31 provinsi Iran memiliki markas besar IRGC sendiri, struktur komando dan kontrol, dan rantai komando," demikian menurut laporan Radio Liberty.
2. Taktik Mengulur Waktu
Iran mengandalkan ribuan kapal cepat dan drone kamikaze seperti Shahed yang murah secara biaya produksi tetapi memaksa lawan mengeluarkan rudal pencegat dengan biaya mahal.Strategi ini menjadikan waktu sebagai senjata. Alih-alih menang cepat, tujuan utamanya justru menguras sumber daya ekonomi dan logistik musuh hingga titik nadir.
3. Perang Asimetris dan Teori Mao Zedong
Jika dihubungkan dengan teori "Prolonged War", Iran tampaknya sudah menyadari kalah dalam hal teknologi udara.Teori "Prolonged War" dikaitkan dengan Mao Zedong dalam risalahnya tahun 1938 berjudul Problems of Strategy in Guerrilla War Against Japan. Risalah tersebut mengupas strategi "si lemah" untuk mengalahkan "si kuat", menginspirasi strategi Perang Vietnam saat melawan AS.
Inti dari teori ini bukan menang cepat, melainkan bertahan lebih lama dari kemauan musuh untuk berperang.
Mao merancangnya saat Cina menghadapi invasi Jepang yang secara teknologi jauh lebih unggul, mirip posisi Iran menghadapi AS dan Israel saat ini.
Senada dengan itu, ideolog seperti Hassan Abbasi, masih dalam laporan Al Jazeera, dia menyebut kalau kemenangan tidak ditentukan oleh firepower, melainkan daya tahan atau endurance.
Iran dirancang untuk menyerap guncangan awal dan terus memukul lawan secara perlahan dalam jangka panjang.
4. Pemanfaatan Geografi
Merujuk laporan El Pais, Iran memanfaatkan kondisi geografisnya yang bergunung-gunung sebagai elemen kunci dalam strategi pertahanan Mosaic Defence, terutama melalui pembangunan fasilitas militer bawah tanah yang dikenal sebagai "kota rudal".Basis ini digali jauh ke dalam pegunungan dengan kedalaman mencapai sekitar 500 meter di bawah permukaan tanah.
Fasilitas tersebut dirancang untuk melindungi salah satu aset paling vital Iran, yakni rudal balistik yang diperkirakan berjumlah lebih dari 3.000 unit menurut estimasi Komando Pusat Amerika Serikat pada 2022.
Sejumlah rudal jarak menengah hingga jauh milik Iran, seperti Shahab-3, Sejil, dan Khorramshahr ditempatkan di dalam jaringan terowongan ini, dengan jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer.
Berbekal menyebar "kota rudal" di berbagai wilayah, Iran memastikan kemampuan serangan tetap bertahan kendati menghadapi serangan udara intensif dari Amerika Serikat atau Israel.
Infrastruktur bawah tanah ini bisa dipakai untuk menyimpan, memindah, dan meluncurkan rudal dari lokasi tersembunyi, sehingga menyulitkan deteksi oleh lawan.
Adapun sistem ini juga menjadi bentuk antisipasi terhadap strategi militer modern yang menarget fasilitas terbuka seperti landasan peluncur dan kendaraan peluncur bergerak.
Dalam beberapa serangan sebelumnya, Israel diketahui menghancurkan sejumlah peluncur rudal di wilayah permukaan. Adapun keberadaan fasilitas bawah tanah membuat Iran tidak sepenuhnya lumpuh.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































