Menuju konten utama

Erdogan Murka ke Netanyahu: Israel Penyebab Perang AS dan Iran

Erdogan murka ke Netanyahu, sebut ialah penyebab perang pecah di antara AS dan Iran. Erdogan menilai kebijakan Netanyahu faktor utama konflik.

Erdogan Murka ke Netanyahu: Israel Penyebab Perang AS dan Iran
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara pada pertemuan bisnis di Ankara, Turki, Kamis malam, 9 Mei 2019. Presidential Press Service via AP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu adalah sosok yang memprovokasi keadaan hingga membuat perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel pecah.

Pernyataan Erdogan ini menggambarkan kekhawatiran serius terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta dampaknya terhadap stabilitas di kawasan tersebut dan dunia.

Update Perang Iran vs Israel-AS: Erdogan Murka

Erdogan menilai kebijakan Netanyahu, sebagai faktor utama yang memicu eskalasi konflik, bahkan menyebutnya sebagai ancaman terhadap perdamaian global.

"Serangan yang berpusat di Iran yang dilancarkan pada 28 Februari sebagai akibat dari provokasi Netanyahu telah semakin memperdalam ketidakstabilan di kawasan kita," kata Erdogan dalam pidatonya dikutip laman Anadolu Ajansi,Jumat (20/3/2026).

Ia menyoroti bahwa serangan yang dipicu oleh provokasi telah memperdalam ketidakstabilan regional, sedangkan tindakan Israel di Palestina seperti pembatasan bantuan ke Gaza, serangan militer, serta perluasan permukiman di wilayah pendudukan, semakin memperburuk krisis kemanusiaan.

"(Israel) menutup Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama kita (arah salat suci), untuk beribadah, menggunakan perang Iran sebagai dalih. Mereka juga mempercepat aktivitas pemukiman ilegal dan kebijakan ekspansionis di Tepi Barat dan wilayah Palestina yang diduduki lainnya," lanjutnya.

Erdogan juga menyinggung dampak konflik yang meluas hingga Lebanon, dengan korban jiwa dan pengungsian dalam jumlah besar, serta mengaitkannya dengan situasi global yang sudah tegang akibat konflik lain seperti perang Rusia dan Ukraina.

Turki Tak Ingin Ikut Perang

Dalam perkembangan terbaru, Erdogan menegaskan bahwa Turki bertekad untuk tidak terseret ke dalam konflik yang lebih luas, khususnya dalam konfrontasi antara Israel dan Iran.

Ia menyebut situasi ini sebagai “lingkaran api” yang berpotensi berkembang menjadi perang berkepanjangan di wilayah tersebut.

Menurutnya, pemerintah Turki mengambil langkah hati-hati dan terukur dengan mengedepankan “kebijaksanaan negara” agar tetap berada di luar konflik, sekaligus tidak terjebak dalam skenario yang dapat menyeret Turki ke dalam peperangan.

Erdogan juga menyatakan bahwa negaranya termasuk pihak yang mampu membaca situasi dengan tepat dan bertindak secara bertanggung jawab di tengah kondisi geopolitik yang sangat tidak stabil.

“Kami bertekad untuk menjaga negara kami tetap berada di luar lingkaran api. Turki termasuk di antara negara-negara terkemuka yang dipuji karena telah membaca dengan tepat proses yang telah memenuhi kawasan kita dengan bau darah dan mesiu,” jelas Erdogan dalam rapat kabinet di Ankara dikutip Txt World, Selasa (24/3/2026).

Selain aspek keamanan, Erdogan turut menyoroti dampak ekonomi global dari konflik tersebut. Ia menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.

Gangguan di jalur ini, menurutnya, telah menyebabkan gejolak besar dalam ekonomi global, termasuk lonjakan harga energi. Oleh karena itu, ia mendesak agar perang segera dihentikan sebelum menimbulkan kerusakan ekonomi yang lebih luas dan berkepanjangan.

“Perang harus diakhiri sebelum kerusakan terjadi pada perekonomian global yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki,” pintanya.

Erdogan juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil sikap yang lebih tegas dalam menghentikan konflik serta mendorong solusi diplomatik. Ia mengingatkan bahwa meskipun konflik ini berakar dari kebijakan Israel, dampaknya dirasakan oleh seluruh dunia.

Ia bahkan menyebut konflik tersebut sebagai perang yang didorong kepentingan politik internal Netanyahu, namun bebannya harus ditanggung oleh miliaran manusia secara global.

“Jaringan pembantaian yang dipimpin oleh Netanyahu harus segera dihentikan demi perdamaian regional dan kemanusiaan. 25 hari terakhir telah menunjukkan bahwa meskipun ini adalah perang Israel, harga yang harus dibayar adalah oleh seluruh dunia. Ini adalah perang Netanyahu untuk kelangsungan hidup politik, tetapi bebannya ditanggung oleh delapan miliar orang," tegasnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra