tirto.id - Iran menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan perang di Timur Tengah dan justru meningkatkan serangan ke Israel serta negara-negara Arab di kawasan Teluk, termasuk serangan yang menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait hingga memicu kebakaran.
Penolakan itu terjadi di tengah memanasnya eskalasi konflik yang juga ditandai dengan serangan udara Israel ke Teheran, serta pengerahan pasukan tambahan AS ke kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan pemerintahnya tidak sedang menjalin pembicaraan untuk mengakhiri perang. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Araghchi mengatakan bahwa negaranya tidak terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang.
“Kami tidak berencana untuk melakukan negosiasi (dengan AS),” ucap Abbas seperti dilansir dari AP News, Kamis (26/3/2026).
Pernyataan itu menyusul laporan media pemerintah Iran berbahasa Inggris yang mengutip bahwa pejabat anonim menyebut Teheran telah menolak proposal gencatan senjata dari AS dan memiliki tuntutan sendiri untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, dua pejabat Pakistan mengatakan bahwa AS mengajukan proposal berisi 15 poin untuk Iran. Proposal yang disampaikan melalui Pakistan itu mencakup pelonggaran sanksi, pembatasan program nuklir Iran, pembatasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Seorang pejabat Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan proposal tersebut juga memuat pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Namun, sejumlah poin dalam proposal itu sejak awal dinilai sulit diterima. Iran bersikeras tidak akan membahas program rudal balistik maupun dukungannya terhadap milisi regional yang dianggap sebagai bagian penting dari strategi pertahanannya.
Selain itu, kendali Iran atas lalu lintas di Selat Hormuz menjadi salah satu keunggulan strategis utama yang enggan dilepas.
Di sisi lain, Gedung Putih menyatakan pembicaraan dengan Iran tetap berlangsung.
“Pembicaraan terus berlanjut. Mereka produktif, seperti yang disampaikan presiden pada hari Senin, dan tetap berlanjut,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Leavitt juga memperingatkan bahwa jika pembicaraan gagal, Presiden Donald Trump akan memastikan Iran akan mendapat serangan lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya.
Serangan Iran terhadap infrastruktur energi regional serta pembatasan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak global, meningkatkan tekanan terhadap AS untuk segera meredakan konflik.
AS Tambah Pasukan ke Timur Tengah
Di tengah ketegangan yang meningkat, AS mengirim tambahan pasukan ke kawasan Timur Tengah. Sekitar 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 akan dikerahkan dalam beberapa hari ke depan. Pasukan ini dikenal memiliki kemampuan untuk diterjunkan ke wilayah konflik guna mengamankan area strategis dan landasan udara.
Selain itu, Pentagon juga mengirim sekitar 5.000 Marinir yang terlatih dalam operasi amfibi serta ribuan pelaut. Sementara itu, survei terbaru AP-NORC menunjukkan mayoritas warga AS menilai aksi militer pemerintahnya terhadap Iran sudah melampaui batas. Banyak dari mereka khawatir terhadap dampaknya terhadap harga bahan bakar. Meski tingkat persetujuan terhadap Trump relatif stabil, konflik ini berpotensi menjadi beban politik bagi pemerintahannya.
Upaya Diplomasi Terhambat
Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran menghadapi tantangan besar. Para mediator mendorong kemungkinan pertemuan langsung antara pejabat Iran dan AS, yang disebut dapat berlangsung secepatnya pada Jumat di Pakistan.
Trump menyatakan AS saat ini sedang dalam negosiasi dengan melibatkan utusan khusus Steve Witkoff, menantunya Jared Kushner, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Wakil Presiden J.D. Vance. Namun, dia tidak mengungkapkan pihak Iran yang terlibat dan hanya menyebut, “Saya bisa katakan, mereka ingin membuat kesepakatan.”
Sementara itu, media pemerintah Iran mengutip pejabat anonim yang mengatakan, “Iran akan mengakhiri perang ketika mereka memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syarat mereka sendiri terpenuhi.”
Laporan itu juga menyebut proposal lima poin dari Iran, termasuk penghentian pembunuhan pejabatnya, jaminan terhadap serangan di masa depan, ganti rugi perang, penghentian permusuhan, serta “pelaksanaan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.”
Sejumlah tuntutan tersebut, terutama terkait ganti rugi dan kontrol atas Selat Hormuz, diperkirakan sulit diterima oleh Gedung Putih.
Meski Iran dan Oman sama-sama memiliki wilayah di sekitar selat tersebut, jalur pelayaran sempit di kawasan itu secara luas dianggap sebagai perairan internasional yang dapat dilalui semua kapal.
Ketidakjelasan mengenai siapa yang memiliki otoritas untuk bernegosiasi di dalam pemerintahan Iran, ditambah dengan ketidakpercayaan mendalam terhadap AS, yang disebut pernah melancarkan serangan saat proses diplomasi tingkat tinggi berlangsung, menjadi hambatan serius bagi tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id




























