Menuju konten utama

Perang Iran-Amerika: Sistem Rudal Korsel Diminati Negara Arab

Negara-negara Timur Tengah memiliki pilihan alternatif penerapan sistem rudal untuk mengatasi serangan udara musuh menggunakan produk Korsel.

Perang Iran-Amerika: Sistem Rudal Korsel Diminati Negara Arab
Sebuah unit rudal Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) terlihat di Kementerian Pertahanan di Tokyo, Jepang, Senin (6/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/cfo/17
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sistem rudal Korea Selatan (Korsel) banyak diminati negara Arab di tengah Perang Iran-Amerika Serikat (AS) yang tengah berlangsung. Negara-negara tersebut bahkan dilaporkan telah mengantre untuk mendapatkan alutsista bergaya mirip sistem rudal Patriot milik AS tersebut.

Seturut The Independent, Menteri Keuangan Korsel Koo Yun Cheol membuat pernyataan bahwa pihaknya mendapatkan banyak pesanan alutsista rudal dari Asia Barat. Ia menyebut bahwa negara-negara kawasan tersebut telah mengantre, meskipun ia tak mendetail nama-nama negara tersebut.

"Negara-negara Timur Tengah saat ini berbaris untuk membeli rudal Korea Selatan," tutur Yun Cheol kepada Bloomberg News belakangan ini.

Sebelumnya, banyak negara di kawasan Teluk Persia bergantung pada sistem pertahanan udara dari AS, yakni sistem rudal Patriot alias MIM-104 dan PAC-3 yang dikembangkan perusahaan Raytheon dan Lockheed Martin.

Akan tetapi, dalam Perang Iran-Amerika yang pecah pada 28 Februari lalu, sistem rudal asal AS itu dinilai kurang efektif menghalau serangan rudal Iran. Meskipun sejauh ini Patriot dianggap berhasil menghalau rudal balistik Iran, namun besarnya biaya produksi rudal bikinan AS itu tak sebanding dengan kemampuan produksi rudal Iran.

Hal tersebut membuat banyak negara di kawasan Teluk mulai melirik sistem pertahanan udara alternatif yang bisa lebih efektif, baik secara spesifikasi maupun biaya yang perlu dikeluarkan.

"Keperluan memiliki sistem pertahanan anti-rudal semakin meningkat seiring Iran terus menembakkan gelombang rudal dan drone," turut Kim Ho-sung, profesor teknik pertahanan di Universitas Nasional Changwon, kepada Financial Times.

Di tengah situasi tersebut, Korsel jadi produsen sistem rudal yang dilirik. Perusahaan produsen rudal Korea Selatan, LIG Nex1, dilaporkan tengah meningkatkan kapasitas produksinya. Perusahaan itu disebut tengah menerapkan sistem kerja ganda selama sembilan hingga 12 bulan ke depan.

Bank Ekspor-Impor Korsel juga mengklaim bahwa ekspor senjata ke Timur Tengah telah meningkat dari USD240 juta pada 2019 jadi USD740 juta pada 2024.

Alasan Negara Timur Tengah Minat dengan Sistem Pertahanan Udara Korsel

Sistem rudal yang jadi incaran negara-negara Arab itu dilaporkan adalah Cheongung. Rudal ini dikenal juga dengan nama M-SAM Block II (KM-SAM).

Sistem rudal Cheongung-II merupakan sistem yang dirancang dengan spesifikasi utama berupa kecepatan dan kesederhanaan produksi. Rudal jenis darat-ke-udara ini dibangun di sekitar empat kendaraan peluncur dengan radar multifungsi dan stasiun kontrol penargetan.

Cheongung-II juga dilaporkan memiliki jangkauan maksimum sekitar 40 km dan dapat mencegat serangan pada ketinggian di bawah 15-20 km, atau pada jangkauan rudal balistik dan drone Iran beroperasi.

Ada sejumlah alasan yang melatari peningkatan permintaan rudal Cheongung oleh negara-negara Arab. Spesifikasi rudal ini dianggap efektif untuk menghalau serangan Iran dan diproduksi dengan biaya yang jauh lebih murah daripada bikinan AS.

Berikut beberapa alasan mengapa negara Timur Tengah kini menaruh minat yang besar pada sistem pertahanan udara bikinan Korsel:

1. Sistem Pertahanan Korsel Lebih Murah

Keunggulan utama sistem pertahanan Korsel ada pada biaya produksi yang jauh lebih murah ketimbang rudal Patriot bikinan AS. Setiap rudal Cheongsam dilaporkan hanya membutuhkan seperempat biaya produksi setiap rudal Patriot.

Menurut laporan, rudal pencegat bikinan Korsel ini dihargai 1,5 miliar won atau sekitar USD1 juta. Biaya ini jauh lebih murah ketimbang Patriot yang dihargai USD4 miliar.

Rendahnya biaya ini kemudian jadi nilai tawar yang lebih ketimbang rudal Patriot di tengah kemampuan Iran untuk memproduksi rudal balistik dan drone secara masif dan efisien.

2. Spesifikasi Unggul

Meskipun diproduksi dengan biaya yang relatif lebih murah, namun insinyur Korea Selatan dinilai mampu menghasilkan rudal dengan spesifikasi yang sama efektifnya dengan Patriot.

Peneliti Asian Institute for Policy Studies, Yang Uk, menuturkan bahwa seri rudal KN-SAM buatan Korsel punya spesifikasi unggul di bidang manuver.

"Rudal seperti KN-23 dan KN-24 dapat melakukan manuver menghindar, dan tidak satu pun rudal yang diluncurkan Iran kali ini memiliki kemampuan itu," jelas Yang Uk.

3. Klaim Efektif Melawan Rudal Iran

Selain keunggulan dalam bermanuver, Menteri Keuangan Yun Cheol menyebut bahwa negara-negara Arab kini melirik sistem pertahanan Korsel karena akurasi rudal mereka.

Yun Cheol mengklaim rudal bikinan Korsel mampu "menghancurkan rudal balistik dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen".

Dalam Perang Iran-Amerika yang pecah pada 28 Februari lalu, rudal Korsel telah digunakan oleh Uni Emirat Arab sebagai pencegat serangan Iran ke wilayahnya. Tingkat keberhasilan rudal produksi Korsel disebut mencapai 96 persen.

4. Pengalaman dengan Korea Utara

Selain kemampuan rudal Korsel dalam menghalau serangan Iran, negara-negara Arab juga melirik Negeri Gingseng itu karena pengalaman mereka dengan Korea Utara.

Selama ini, Korea Utara dikenal sebagai mitra strategis Iran dalam produksi rudal. Kedua negara itu dilaporkan telah saling berbagi teknologi rudal sejak 1980-an. Rudal balistik Shahab-3 milik Iran, misalnya, merupakan pengembangan dari rudal Nodong produksi Pyongyang.

Kemiripan sistem rudal Iran dan Korea Utara itu kemudian membuat rudal Korsel relevan. Korsel merupakan negara musuh Korea Utara dan telah bertahun-tahun mengembangkan sistem pertahanan untuk menangkal ancaman dari negara tetangganya itu.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar