tirto.id - Selsun termasuk salah satu dari produk kosmetik yang baru-baru ini ditarik oleh BPOM. Dua varian produk sampo tersebut diketahui mengandung cemaran 1,4-dioxane yang berbahaya bagi kesehatan. Lalu, apa itu 1,4-dioxane?
Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi menarik sekaligus mencabut izin edar 11 item kosmetik, dua di antaranya adalah produk Selsun 7 Flowers dan Selsun 7 Herbal.
Penarikan kedua produk ini dilakukan setelah ditemukan adanya cemaran 1,4-dioxane dengan kadar yang melampaui ambang batas keamanan yang telah ditetapkan.
Sementara itu, PT Rohto Laboratories Indonesia selaku produsen Selsun langsung meminta maaf dan menarik dua produk samponya. Rohto juga menjelaskan bahwa ada perbedaan hasil uji antara laboratorium independen dan BPOM terkait kedua produk tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab, perusahaan telah menarik seluruh batch kedua varian dari pasaran, dengan proses penarikan yang diklaim sudah mencapai lebih dari 96% dan akan dilanjutkan dengan pemusnahan produk tersebut.
Apa Itu 1,4-Dioxane?

Menurut U.S. Environmental Protection Agency (EPA), 1,4-dioxane merupakan senyawa kimia industri sintetis yang juga dikenal dengan nama lain seperti p-dioxane, diethylene dioxide, hingga glycol ethylene ether.
Secara sifat kimia, zat ini tergolong tidak stabil pada suhu dan tekanan tinggi, serta memiliki risiko membentuk campuran yang mudah meledak jika terpapar cahaya atau udara dalam waktu yang lama.
Dahulu, senyawa ini digunakan sebagai bahan penstabil (stabilizer) untuk pelarut berbahan klorin seperti 1,1,1-trichloroethane (TCA). Namun, sejak penggunaan TCA dihentikan melalui Protokol Montreal tahun 1995, penggunaan 1,4-dioxane sebagai penstabil juga ikut berhenti.
Dalam dunia industri modern, 1,4-dioxane masih dimanfaatkan sebagai agen pemurni dalam pembuatan obat-obatan (farmasi). Selain itu, senyawa ini juga sering muncul sebagai produk sampingan dalam proses manufaktur plastik jenis polyethylene terephthalate (PET).
Dalam kehidupan sehari-hari, 1,4-dioxane dapat ditemukan sebagai kontaminan atau produk sampingan dalam berbagai jenis produk, termasuk produk perawatan diri seperti sampo, kosmetik, hingga deodoran.
Dari Mana 1,4-Dioxane Berasal di Produk Sehari-hari?

Situs U.S. Food and Drug Administration (FDA) menjelaskan bahwa 1,4-dioxane sebenarnya bukanlah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam produk kosmetik.
Zat ini dapat muncul sebagai kontaminan atau produk sampingan selama proses pembuatan bahan kimia tertentu yang umum digunakan dalam kosmetik, misalnya seperti deterjen, agen pembusa, emulsifier, atau pelarut.
Bahan-bahan kimia ini biasanya dipakai agar produk lebih mudah berbusa atau terasa lembut di kulit. Dalam proses produksi bahan-bahan kimia inilah senyawa 1,4-dioxane bisa terbentuk dalam jumlah kecil sebagai produk sampingan atau sisa proses pembuatan bahan tersebut.
Senyawa 1,4-dioxane muncul dari proses kimia bernama ethoxylation atau etoksilasi. Etoksilasi sendiri merupakan proses kimia ketika etilen oksida (ethylene oxide) ditambahkan ke bahan lain untuk membuatnya menjadi lebih lembut atau tidak terlalu “keras”.
Proses etoksilasi ini banyak digunakan dalam produk perawatan tubuh dan pembersih, baik sebagai pelembut, surfaktan, agen pembersih, hingga bahan pembusa.
Contohnya adalah sodium laureth sulfate (SLES), PEG (polyethylene glycol), polysorbates, serta bahan dengan akhiran “-eth” seperti ceteareth dan oleth.
Selama proses produksi bahan-bahan tersebut, 1,4-dioxane dapat terbentuk dalam jumlah kecil sebagai cemaran. Karena sifatnya hanya sebagai produk sampingan, zat ini biasanya tidak akan tercantum langsung pada label komposisi di kemasan produk.
Sederhananya, 1,4-dioxane dapat ditemukan pada berbagai produk sehari-hari yang bisa menghasilkan busa, termasuk sampo, sabun cair, hingga deterjen pakaian.
Apakah 1,4-Dioxane Berbahaya bagi Kesehatan?

1,4-dioxane termasuk senyawa kimia yang diduga memiliki efek berbahaya bagi tubuh manusia. Menurut International Agency for Research on Cancer, 1,4-dioxane diklasifikasikan dalam kategori Grup 2B atau kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia.
Klasifikasi ini ditetapkan karena meskipun bukti pada manusia masih dianggap kurang mencukupi, terdapat bukti yang cukup kuat dari hasil pengujian pada hewan laboratorium.
Hal senada juga diungkap oleh EPA yang menyebutkan bahwa 1,4-dioxane adalah zat yang berpotensi menyebabkan kanker bagi manusia.
Dalam dokumen Technical Fact Sheet – 1,4-Dioxane yang dirilis EPA, paparan jangka pendek terhadap 1,4-dioxane dan dalam kadar tinggi bisa menyebabkan mual, sakit kepala, kantuk, serta iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.
Zat ini mudah masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan saluran pencernaan, sementara sebagian kecil juga dapat terserap melalui kulit. Setelah masuk ke tubuh, 1,4-dioxane dapat tersebar dengan cepat ke berbagai organ seperti paru-paru, hati, ginjal, limpa, usus besar, dan jaringan otot.
EPA juga mengungkapkan bahwa 1,4-dioxane memiliki sifat genotoksik lemah dan dampaknya pada sistem reproduksi manusia masih belum diketahui pasti. Namun, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa senyawa ini berpotensi memberikan efek toksik ringan terhadap perkembangan janin.
Studi lain pada hewan juga menemukan peningkatan kejadian tumor pada rongga hidung, hati, dan kantung empedu setelah paparan 1,4-dioxane dalam jangka tertentu.
Bukti Sifat Karsinogenik 1,4-Dioxane

Salah satu studi yang meneliti efek karsinogenik 1,4-dioxane adalah jurnal bertajuk Two-year Inhalation Study of Carcinogenicity and Chronic Toxicity of 1,4-Dioxane in Male Rats. Penelitian ini menunjukkan bukti nyata adanya sifat karsinogenik dan toksisitas kronis.
Hasil studi mengungkapkan bahwa paparan dosis tinggi menyebabkan penurunan tingkat kelangsungan hidup akibat munculnya tumor ganas, serta gangguan fungsi hati.
Selain itu, ditemukan peningkatan signifikan pada berbagai jenis kanker, termasuk karsinoma sel skuamosa di hidung, adenoma hati, dan mesothelioma peritoneal. Semua ini menunjukkan bahwa senyawa 1,4-dioxane secara aktif memicu pembentukan tumor dan tergantung pada dosis.
Selain efek karsinogenik, ditemukan pula lesi prakanker pada rongga hidung dan hati, serta kerusakan jaringan hidung seperti atrofi dan perubahan sel saluran pernapasan bahkan pada paparan kadar rendah.
Berdasarkan hasil tersebut, studi ini menjadi bukti kuat bahwa 1,4-dioxane bersifat karsinogenik dan berpotensi memicu kanker melalui mekanisme kerusakan sel serta perubahan genetik di dalam tubuh.
Bagaimana Regulasi 1,4-Dioxane di Berbagai Negara?

1,4-dioxane memang merupakan cemaran atau produk sampingan yang biasanya ditemukan dalam kadar rendah. Meski demikian, keberadaan 1,4-dioxane tetap harus menjadi perhatian khusus karena risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan.
Itulah kenapa banyak negara yang mengatur atau membuat regulasi tentang batas aman dari kadar 1,4-dioxane, termasuk Indonesia.
Dikutip dari situs FDA, Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS) menetapkan bahwa kandungan 1,4-Dioxane dalam kosmetik masih dianggap aman bagi konsumen selama tidak melebihi 10 ppm.
Di Indonesia, kadar 1,4-dioxane juga sudah diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2024 tentang Batas Cemaran dalam Kosmetik.
Berdasarkan aturan tersebut, batas aman untuk cemaran 1,4-dioxane pada produk kosmetik adalah tidak lebih dari 10 mg/kg atau 10 mg/L, yang setara dengan 10 bpj (bagian per juta/ppm).
Batasan ketat ini berlaku bagi kosmetik yang mengandung bahan hasil proses etoksilasi, seperti Sodium Laureth Sulphate atau Polyethylene Glycol.
Cara Mengecek Potensi 1,4-Dioxane pada Label Produk

Sebagai cemaran, 1,4-dioxane memang tidak akan dicantumkan langsung pada komposisi produk karena senyawa ini bukan merupakan bahan baku yang sengaja ditambahkan, melainkan produk sampingan (by-product) dari proses manufaktur.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, 1,4-dioxane merupakan cemaran yang terbentuk sebagai produk sampingan dari proses etoksilasi. Jadi, konsumen perlu lebih jeli dan harus mengenali bahan-bahan etoksilasi ini.
Bahan hasil etoksilasi biasanya dapat dikenali dari nama kandungannya. Contohnya PEG (polyethylene glycol), PPG (polypropylene glycol), polyoxyethylene, sodium laureth sulfate (SLES), polysorbate, serta bahan kimia lain dengan akhiran “-eth” seperti laureth, steareth, ceteareth, atau oleth.
Selain itu, waspadai pula kandungan yang memiliki akhiran “oxynol”, contohnya nonoxynol-9, octoxynol-9, atau octoxynol-10. Semua bahan kimia tersebut dapat menjadi indikator adanya residu 1,4-dioxane yang tertinggal di dalam produk.
Demikian penjelasan terkait 1,4-dioxane yang patut diwaspadai oleh masyarakat karena dapat ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari, termasuk produk kosmetik dan perawatan tubuh seperti sampo.
Meski umumnya hadir sebagai cemaran atau dalam kadar rendah, konsumen tetap disarankan lebih cermat membaca label bahan, memilih produk dari produsen terpercaya, serta memastikan produk telah memiliki izin edar resmi dari BPOM agar keamanannya lebih terjamin.
Butuh informasi lain terkait kosmetik? Temukan berbagai tips hingga rekomendasi produk pilihan di tautan berikut ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































