Mengapa Elon Musk Membeli Twitter?

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 11 Apr 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Musk membeli 9,2 persen total saham Twitter, sebuah platform yang sangat penting untuk memengaruhi persepsi publik.
tirto.id - Melalui uang yang diperoleh dari PayPal, Tesla, SpaceX, dan The Boring Company, sesuai hitung-hitungan Forbes dan Reuters, Elon Musk menjelma orang paling kaya sejagat saat ini. Ia menjadi superstar; berpredikat selebritas skala dunia.

Namun, yang menarik, Musk sesungguhnya tidak menjadi superstar gara-gara kekayaannya, tetapi hubungannya dengan Twitter. Hingga artikel ini dibuat, akun Musk, @elonmusk, telah diikuti lebih dari 81 juta akun lain, membuatnya menjadi orang dengan jumlah pengikut terbanyak ke delapan.

Musk cukup cerewet di Twitter. Di sana ia juga acapkali melahirkan kontroversi hingga mengundang SEC (semacam Otoritas Jasa Keuangan Indonesia) untuk menghukumnya. Ia juga pernah mengecam jurnalis, menerbitkan meme/lelucon seksis, hingga--tentu saja--melejitkan nilai uang kripto.

Hubungan Musk dengan Twitter semakin erat ketika baru-baru ini ia membeli 9,2 persen total saham perusahaan yang didirikan pada 2006 ini (sebelumnya ia sempat berpikir untuk membuat pesaing Twitter). Pembelian ini membuatnya menjadi salah satu komisaris Twitter.

Pembelian saham Twitter tentu saja menarik. Tatkala Jeff Bezos memilih membeli media massa The Washington Post, mengapa Musk membeli Twitter, bukan, misalnya, The New York Times?


Musk dan Perusahaan-Perusahaannya

Elon Musk memang telah lekat dengan dunia teknologi sejak kecil. Hal itu hanya dimungkinkan karena dia berasal dari keluarga kaya raya--karena keberuntungan sang kakek buyut.


Musk lahir pada 1971 di Pretoria, Afrika Selatan. Ia menjadi "orang asing" dan hampir tak memiliki teman di tengah masyarakat yang miskin dan terbelenggu apartheid. Dalam konteks itulah Musk muda jatuh hati pada komputer.

"Elon Musk sangat mencintai komputer, bahkan sebelum ada yang tahu apa itu komputer di tengah-tengah masyarakat Afrika Selatan," tulis Ashlee Vance dalam Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future (2015).

"Holy shit!" seru Musk tatkala untuk kali pertama melihat komputer, Commodore VIC-20, di sebuah toko di dalam Sandton City Mall, Johannesburg.

Kepada Vance, Musk mengatakan sejak itulah ia terus mendesak sang ayah, Errol Musk, agar membeli komputer tersebut. Tentu mudah saja bagi sang ayah--yang berprofesi sebagai pilot dan teknisi--untuk mengabulkan permohonan tersebut.

Musk menghabiskan waktu bersama komputer pertamanya dengan mempelajari BASIC--bahasa pemrograman yang lahir ke dunia tujuh tahun sebelum ia lahir. Hal ini juga dilakukan Bill Gates kecil dan Mark Zuckerberg kecil.

Berbekal pengetahuan BASIC tersebut Musk kecil berhasil menciptakan program komputer pertamanya, gim video tentang invasi alien ke Bumi berjudul "Blastar". Musk mengatakan gagasan soal invasi alien muncul terjadi karena ia "kebanyakan membaca komik." "Dan di dalam komik, tampaknya setiap orang berusaha menyelamatkan dunia," katanya.

Musk muda memang takjub tentang segala hal soal luar angkasa, yang memicunya mendirikan SpaceX, perusahaan penjelajah antariksa, di kemudian hari. Selain menciptakan "Blastar", Ia pun pernah membuat roket--dalam skala kecil, tentu saja--dengan bantuan komputer. Ia meracik senyawa kimia ledak sendiri. Senyawa yang, klaim Musk, "luar biasa."

Ketika menginjak kepala dua, berbekal pengetahuan tentang komputer, Musk hijrah ke Amerika Serikat. Di tanah leluhurnya inilah Musk menemukan peruntungan.

Di AS Musk mendirikan startup bernama Zip2, lalu menjadi pemilik saham terbesar PayPal, induk semua e-wallet di dunia digital saat ini. Ia kaya mendadak setelah PayPal dibeli eBay senilai 1,5 miliar dolar AS. Dari uang tersebut Musk kemudian mendirikan SpaceX, menyuntikkan uang ke produsen mobil listrik Tesla, dan bersama sepupunya mendirikan SolarCity. Ia juga mencurahkan ide tentang sistem transportasi berkecepatan tinggi bernama Hyperloop dan kemudian mendirikan perusahaan The Boring Company.

Musk mengatakan lewat perusahaan-perusahaan ini ia ingin "menghadirkan masa depan yang cerah bagi umat manusia." Dan, jika masa depan tidak ada di Bumi, Musk siap menerbangkan umat manusia ke Mars.


Mengapa Twitter?

Peter Vermeij menjelaskan dua perspektif tentang media sosial dalam artikel berjudul “Twitter Links Between Politicians and Journalists” di Journalism Practice (Vol. 6, 2012). Pertama adalah penyebar informasi; dan kedua sebagai pembentuk hubungan. Dalam hal ini Twitter merupakan media sosial dengan perspektif pertama, sementara media sosial dengan perspektif kedua contohnya adalah Facebook.

Salah satu alasan mengapa Twitter dianggap sebagai penyebar informasi ialah kenyataan bahwa setengah dari trending topics Twitter menjadi headline CNN.

Karena Twitter punya kekuatan menjadi corong berita media konvensional, banyak pihak lalu memanfaatkannya, termasuk para politikus untuk menjaring suara massa.

Hal ini misalnya terjadi di Prancis. Menurut Alex Fame dalam artikel berjudul “Le Tweet Stratégique: Use of Twitter as a PR tool by French Politicians” (Public Relations Review Vol. 41, Juni 2015), 60 persen anggota parlemen punya akun Twitter dan persentase tersebut muncul dalam tiga bulan terakhir 2013 alias menjelang pemilihan umum yang diadakan pada 2014. Fame bahkan dengan tegas menandaskan bahwa karena dalam konteks politik kini “kita adalah apa yang kita kicaukan,” maka jika ingin memenangkan pertarungan elektoral, Twitter ialah cara yang efektif menunjukkan jati diri pada konstituen.

Twitter juga memiliki manfaat sebaliknya. Fame mengatakan Twitter dapat berubah bentuk menjadi “layanan konstituen.” Politikus dapat dengan mudah terhubung dengan konstituen dan langsung membaca apa yang mereka suarakan.

Sementara John Parmelee, penulis Politics and the Twitter Revolution (2011), mengatakan pada The Guardian bahwa Twitter dapat mengatur agenda tentang apa yang hendak dunia jurnalistik kerjakan.

“Pikirkan saja cara Trump nge-twit selama enam bulan terakhir, tentukan agendanya,” katanya. Ia menambahkan, “Twitter, secara fundamental, digunakan politikus untuk memengaruhi orang berpengaruh lain. Twitter merupakan medium kecil bagi orang, tapi orang-orang itulah yang mampu menentukan agenda berita. Ini seperti mempraktikkan lobi.”

Adam Sharp, Kepala Bagian Berita, Pemerintahan, dan Pemilu Twitter Inc. 2010-2016, mengungkapkan pada The Atlantic bahwa banyak kalangan dari dunia politik menggunakan Twitter karena selain dianggap sebagai platform komunikasi dan pengorganisasian yang efektif, media sosial ini juga tak membutuhkan biaya tinggi. Dengan kata lain, jauh lebih murah dibanding kampanye biasa yang pasti menguras dompet para politikus--atau bohir mereka.


Infografik Twitter
Infografik Twitter. tirto.id/Fuad


Twitter juga merupakan tempat ideal untuk memonitor sentimen publik. Hal ini misalnya dilakukan oleh Antoine Boutet yang kemudian dijabarkan dalam artikel berjudul "What’s in Your Tweet? I Know Who You Supported in the UK 2010 General Election".

Secara sederhana, Boutet mengidentifikasi tweet dan retweet yang mengacu pada partai politik peserta pemilu 2010 di Inggris, dalam hal ini Partai Buruh, Partai Konservatif, dan Partai Liberal Demokrat. Tweet dan retweet yang berhubungan dengan akun resmi partai akan dimasukkan ke dalam basis data analisis.

Ia juga mengidentifikasi tokoh-tokoh yang telah diketahui memiliki preferensi politik tertentu (di Indonesia, jika kasusnya adalah Pilkada DKI Jakarta, maka akun yang dapat dianalisis adalah @pandji dengan hampir sejuta pengikut karena jelas-jelas mendukung Anies-Sandi, lalu @jokoanwar yang merupakan salah satu akun paling berpengaruh di pihak Ahok).

Penelitian Boutet mengidentifikasi lebih dari 10 ribu tweet yang diklasifikasikan dalam 419 topik. Hasilnya, grafik tweet yang berafiliasi dengan Partai Konservatif dan Partai Liberal cukup tinggi meninggalkan Partai Liberal Demokrat.

Partai Konservatif sendiri akhirnya benar-benar memenangkan pemilihan umum tersebut.

Twitter memang media sosial sederhana, tapi justru itulah kekuatannya. Batasan karakter yang hanya 140--kemudian 280--mampu menggerakkan opini publik dan preferensi politik. Twitter, dalam spektrum pembicaraan publik, jauh lebih berharga dibandingkan Washington Post--koran milik Jeff Bezos.

Elon Musk tampaknya mengerti betul soal ini dan karena itu tak mengherankan ia mengeluarkan banyak uang untuk membeli sahamnya.

Baca juga artikel terkait ELON MUSK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Rio Apinino

DarkLight