Maskapai Penerbangan

Meneropong Kinerja Garuda pada 2023 Usai Cetak "Laba Tiban"

Penulis: Arif Gunawan Sulistiyono, tirto.id - 20 Okt 2022 09:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Meski hanya di atas kertas, pencatatan demikian harus tetap dilakukan untuk mengikuti aturan akuntansi yang berlaku.
tirto.id - Setelah melewati proses panjang restrukturisasi utang, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengagetkan publik dengan mencetak laba di atas kertas senilai Rp56 triliun per Juni 2022. Bagaimana proyeksi kinerja tahun depan?

BUMN penerbangan tersebut menjadi sorotan pada awal bulan ini setelah membukukan laba bersih senilai US$3,76 miliar, atau sekitar Rp56,4 triliun (asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS) pada semester I-2022.

Kehebohan terjadi karena laba bersih tersebut sangatlah mengejutkan dan tidak masuk akal, mengingat telaknya pukulan pandemi terhadap sektor penerbangan. Pada semester I-2021 saja, Garuda memikul rugi bersih US$ 898,65 juta (sekitar Rp14 triliun) akibat sepinya penerbangan.


Lalu, bagaimana bisa per semester I-2022 Garuda mencetak laba bersih, padahal industri penerbangan belum sepenuhnya pulih? Jawabannya ada pada restrukturisasi utang.

Dalam laporan keuangan per Juni 2022, Garuda melaporkan pendapatan usaha lain-lain senilai US$4,34 miliar atau melesat dari posisi tahun lalu sebesar US$301,71 juta. Restrukturisasi utang menyumbang pendapatan senilai US$2,85 miliar, diikuti keuntungan US$1,33 miliar.

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo dalam perbincangan di sela SOE International Conference 2022 menyebutkan, restrukturisasi berujung pada pencatatan laba bersih secara buku. Meski hanya di atas kertas, pencatatan demikian harus tetap dilakukan untuk mengikuti aturan akuntansi yang berlaku.

Leasing ini yang terutama direstrukturisasi. Ada konsep past due yakni nilai penggunaan armada yang dibeli secara leasing dan future due yang bisa di-consume ke depan. Karena direstrukturisasi, rate (bunga) pembayaran leasing jadi lebih efisien, biaya sewa per jam ke depan pun turun,” jelasnya pada Selasa (18/10/2022).

Dengan demikian, lanjut pria yang akrab dipanggil Tiko ini, turunnya biaya sewa secara mendadak tersebut berdasarkan perlakuan akuntansi harus direkam dan dicatat sebagai laba per tanggal pelaporan keuangan, meski sepenuhnya hanya di atas kertas.

Jalan panjang Garuda dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)—proses hukum untuk menghindari ‘pemailitan’—dimulai pada 9 Desember 2021 dan secara resmi dinyatakan berakhir melalui keputusan homologasi pada 27 Juni 2022.

“Ada banyak kontrak leasing yang harus dinegosiasikan ulang, satu demi satu. Bayangkan direksi Garuda harus melakukan negosiasi selama 8 bulan, beda zona waktu (timezone), bekerja secara paralel, spesifik per kontrak,” tutur Tiko.



Kinerja Operasional Mulai Menjanjikan

Berakhirnya PKPU ini membuka lembaran baru bagi kinerja perusahaan pelat merah ini. Tidak ada lagi persoalan hukum yang membelit mereka terkait utang-piutang. Secara akuntansi, semuanya dinilai clean and clear bila mengacu pada Catatan 54 laporan keuangan Garuda.

Irhoan Tanudiredja, akuntan publik dari Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan yang mengaudit laporan keuangan Garuda per 30 Juni 2022 menilai, tidak ada masalah dari pencatatan dampak restrukturisasi utang dari keputusan homologasi (PKPU) tersebut.

“Laporan keuangan konsolidasian interim terlampir menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian interim grup tanggal 30 Juni 2022, serta kinerja keuangan konsolidasian interim dan arus kas konsolidasian interimnya untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal tersebut," tulis senior partner PricewaterhouseCoopers (PwC) tersebut dalam laporan keuangan Garuda.

Dalam Catatan 54 atas laporan keuangan konsolidasian interim Garuda, restrukturisasi ini secara akuntansi dinilai wajar. Proses homologasi (PKPU) tersebut memangkas liabilitas (kewajiban) emiten berkode saham GIAA ini, dari US$13,3 miliar menjadi US$8,21 miliar. Ekuitas perseroan pun membaik, dari minus US$6,11 miliar menjadi minus US$2,35 miliar.

“Seusai restrukturisasi kami yakin kinerja Garuda akan jauh lebih baik. Per Agustus dan September saja sudah terlihat ada perbaikan. Kami yakin tahun depan Laba Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization/EBITDA) Garuda akan mencapai US$500 juta atau Rp 7,75 triliun,” tutur Tiko.

Secara operasional, perbaikan kinerja terlihat dari pendapatan Garuda per Juni 2022 yang lompat 26,15% menjadi US$878,69 juta, dibandingkan dengan periode yang sama 2021 (US$696,8 juta). Efisiensi juga berhasil dicetak, terlihat dari turunnya beban usaha ke US$1,21 miliar.

Untuk terus mendorong kinerja BUMN penerbangan tersebut ke jalur positif, Kementerian BUMN mengatur pemetaan pasar yang akan digarap Garuda dan perusahaan maskapai penerbangan lain yang terafiliasi.

“Pasca-Covid banyak orang yang mau bayar premium untuk alasan kesehatan di perjalanan. Ini membuka peluang pasar bagi Garuda. Dia garap segmen super premium ini, Pelita Air garap pasar premium, dan Citilink garap LCC (low cost carrier/penerbangan murah),” tutur Tiko.

Sampai sekarang, saham Garuda Indonesia masih dibekukan. Pandemi dalam 3 tahun terakhir telah memukul kinerja sahamnya dengan koreksi sebesar 56,5% ke level Rp222/unit saham.

Apakah proyeksi kinerja positif Garuda tersebut bakal segendang sepenarian dengan kinerja sahamnya di pasar? Pemodal baru akan mendapatkan sinyal yang lebih jelas dari kinerja perseroan per September 2022 yang saat ini belum dirilis.

Namun yang pasti, industri pariwisata telah pulih sebagaimana terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Per Juli 2022, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebagai pasar utama Garuda telah melesat 6.396% secara tahunan menjadi 477.000, tertinggi sejak pandemi.


Baca juga artikel terkait GARUDA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Arif Gunawan Sulistiyono
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Arif Gunawan Sulistiyono
Editor: Abdul Aziz

DarkLight