tirto.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, meminta maaf kepada seluruh pimpinan dan anggota Komisi II DPR RI lantaran tercatat beberapa kali tidak menghadiri undangan rapat secara langsung.
Pernyataan itu disampaikan Tito saat memulai rapat kerja di Ruang Komisi II DPR RI, Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (30/3/2026).
“Minal aidin wal faizin, mohon maaf melahirkan batin kalau ada hal-hal yang kurang berkenan. Khusus yang tidak berkenan yang mungkin ada, berhubungan saya lima kali memang pernah tidak hadir, sama sekali tidak bermaksud untuk tidak menghormati, tidak menghargai Komisi II DPR ini,” kata Tito.
Dalam penjelasannya, Tito menegaskan bahwa pada prinsipnya ia berupaya disiplin menghadiri rapat-rapat DPR. Namun, ia mengakui terdapat sejumlah kondisi yang membuat kehadirannya tidak memungkinkan, salah satunya adanya acara penting lainnya di waktu yang bersamaan, seperti agenda undangan Presiden Prabowo Subianto.
“Dan kemudian acara Komisi juga bersamaan dengan acara Presiden yang saya harus hadir, misalnya sekolah rakyat waktu di Bekasi, di mana peran Kemendagri sangat penting, dan yang diundang hanya beberapa menteri sana, selain Menteri Dikdasmen, karena Kemendagri juga berperan dalam Sekolah Rakyat,” tuturnya.
Selain agenda yang berbenturan dengan kegiatan Presiden Prabowo Subianto, Tito juga menyebut kesibukannya sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di wilayah Sumatra turut menyita waktu. Ia mengaku harus sering turun langsung ke daerah terdampak bencana untuk memastikan pelaksanaan arahan presiden berjalan optimal.
“Saat itu saya sudah hampir mungkin dalam satu minggu bisa tiga-empat hari keliling Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, sampai ditunjuk menjadi Kasatgas,” ucapnya.
Lebih lanjut, Tito mengungkapkan bahwa undangan rapat kerap diterimanya melalui staf dalam waktu yang sangat terbatas, bahkan hanya dua hari sebelum pelaksanaan. Kondisi tersebut, menurutnya, menyulitkan penyesuaian agenda, terlebih saat ia tengah berada di lapangan.
“Saya menerima undangan pendengaran melalui WA dari staf saya menyampaikan dua hari sebelum acara dimulai. Saya terima hari Sabtu untuk hari Senin, padahal saat itu saya lagi di tengah hutan. Bapak-lbu saya kira paham betul mengenai Aceh, medan di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat,” tuturnya.
Dalam situasi demikian, Tito mengaku kerap meminta penjadwalan ulang rapat atau menyampaikan izin ketidakhadiran kepada pimpinan komisi. Meski tidak hadir secara langsung, ia menegaskan tetap mengutus jajaran wakil menteri untuk mewakili pemerintah dalam forum tersebut.
“Jadi, bukan berarti tidak menghargai, tidak menghormati, apalagi untuk menghindar, tidak. Saya selalu hadir di acara-acara Komisi II selama ini,” ucap dia.
Sebagai penutup, Tito kembali menegaskan bahwa ketidakhadirannya bukan bentuk pengabaian terhadap DPR, melainkan dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dan kewajiban lain yang harus dijalankan.
“Jadi sekali lagi kami mohon maaf kalau ada hal-hal yang tidak berkenan. Sama sekali tidak bermaksud untuk tidak menghargai,” imbuh dia.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































