Aris Santoso
Peneliti militer, terutama TNI AD. Bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

Mencari Perwira Pelapis Andika

29 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mabes TNI baru saja mengadakan mutasi sejumlah perwira, Jumat (25/1). Satu hal yang menarik dari mutasi kali ini adalah munculnya sejumlah nama dari generasi yang lebih baru, yang sudah dipercaya untuk menduduki beberapa posisi strategis seperti Pangdam Jaya dan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.

Mirip dengan mutasi sebelumnya, yakni mutasi yang berdasarkan Skep (surat keputusan) Panglima TNI yang terbit Desember 2018, juga terdapat nama-nama generasi baru TNI.

Kita bisa membaca maknanya. Setidaknya untuk matra darat, perwira pelapis Jenderal Andika Perkasa (KSAD, Akmil 1987) telah disiapkan bila suatu saat ia diangkat sebagai Panglima TNI.

Bisa jadi pergantian Panglima TNI baru terjadi tahun depan. Namun dalam konteks politik, waktu seolah berjalan demikian cepat. Sekadar perbandingan, periode pertama Presiden Jokowi sudah hampir selesai. Rasanya baru kemarin sore saja kita menyaksikan euforia dukungan terhadap figur Jokowi. Wajar jika Andika sudah bersiap sejak sekarang, untuk mengantisipasi hari pelantikannya (sebagai Panglima TNI) kelak.

Pendamping Benny Moerdani

Dalam mutasi Desember 2018 dan Januari ini, muncul dua nama the rising star dari Akmil 1989, masing-masing adalah Brigjen Tri Yuniarto (lulusan terbaik Akmil 1989, kini Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad) dan Mayjen Eko Margiyono (Danjen Kopassus).

Tri Yuniarto telah dilantik sebagai Pangdivif 2 Kostrad pada awal Januari 2019. Kelak pada jabatan yang baru, Tri Yuniarto akan menyandang pangkat mayor jenderal (mayjen). Sementara Eko, berdasarkan Skep terbaru, telah ditetapkan sebagai Pangdam Jaya.


Perjalanan karier keduanya sangat mirip dengan perjalanan Andika Perkasa dan Letjen Herindra (lulusan terbaik Akmil 1987, Irjen TNI) dulu, yang memang sudah bersaing sejak masa taruna. Saat lulus Akmil, Andika termasuk ranking atas dan kabarnya masuk nominasi untuk meraih Adi Makayasa. Gagal memperoleh Adi Makayasa, Andika “melunasinya” dengan menjadi lulusan terbaik saat mengikuti Seskoad (TA 1999-2000).

Demikian juga dengan Tri Yuniarto dan Eko Margiyono yang sudah sama-saman menonjol sejak masih taruna. Saat wisuda purnawira Desember 1988 di kampus Akmil (Magelang), mereka berdualah yang mendampingi Jenderal Benny Moerdani. Wisuda purnawira adalah acara yang penuh dengan kehormatan militer, setara dengan pelantikan lulusan Akmil sebagai perwira remaja. Dalam peristiwa sepenting itu, tentu hanya taruna berprestasi yang dipilih untuk mendampingi figur sekelas Benny Moerdani, seorang tokoh militer legendaris yang tiada duanya.

Tampaknya Andika memiliki skenario sendiri soal siapa yang akan menggantikan dirinya kelak. Salah satunya dengan cara mempersiapkan Tri Yuniarto dan Eko Margiyono. Di antara keduanya sengaja dibuat semacam kompetisi, bagaimana menguji performa mereka di lapangan. Siapa yang bakal terpilih sebagai Wakil KSAD atau Pangkostrad, kita lihat saja nanti. Mengingat calon KSAD umumnya diambil dari Wakil KSAD atau Pangkostrad.

Dua nama lain yang perlu disebut adalah Kol Inf Kunto Arif Wibowo (Akmil 1992) dan Mayjen I Nyoman Cantiasa (lulusan terbaik Akmil 1990). Kolonel Kunto baru saja dilantik sebagai Danrem Padang. Dalam posisi barunya Kolonel Kunto akan berpangkat brigjen. Sejak masih perwira muda, Kunto sudah menarik perhatian publik karena latar belakangnya keluarganya. Kunto adalah anak Jenderal Try Sutrisno.

Berdasarkan Skep minggu lalu, Mayjen Nyoman telah ditetapkan sebagai Danjen Kopassus sehingga bakal menggantikan Mayjen Eko Margiyono. Pengangkatannya sebagai Danjen Kopassus memang sudah sewajarnya. Sebagian besar masa dinas Nyoman dihabiskan di Kopassus sampai mencapai posisi tinggi, yakni Komandan Satgultor 81 dan Komandan Pusdiklatpassus (Batujajar). Selepas itu, barulah ia “pulang kampung” sebentar dengan menjadi Danrem Denpasar.

Antara Baret Merah dan Baret Hijau

Dalam setiap mutasi TNI (khususnya AD) selalu ada upaya menjaga keseimbangan distribusi jabatan strategis antara perwira yang berasal dari baret merah dan baret hijau. Singkatnya baret merah adalah identitas bagi perwira yang berasal dari Kopassus, sementara baret hijau berasal dari Kostrad atau satuan teritorial (Kodam).

Bisa saja perwira baret merah suatu waktu ditugaskan di lingkungan baret hijau karena kualifikasinya memungkinkan. Dengan kata lain, seorang perwira Kopassus bisa mengenakan dua warna baret dalam perjalanan kariernya. Namun, perwira asal baret hijau tidak bisa ditugaskan di jajaran Kopassus—juga karena alasan kualifikasi.

Dalam mutasi akhir-akhir ini, upaya menjaga keseimbangan sebisa mungkin dijalankan. Nama empat perwira di atas kiranya sudah bisa menggambarkan ikhtiar menjaga keseimbangan tersebut. Perwira seperti Eko Margiyono dan Nyoman Cantiasa bisa disebut sebagai tipikal naret merah karena sebagian besar masa dinasnya dihabiskan di Kopassus.

Eko memang sempat ditugaskan di kesatuan lain, seperti Paspampres, Kostrad dan Kodam Jaya. Dengan begitu, dia melepas sejenak baret merah-nya, mengingat baret Paspampres berwarna biru. Namun, dari semangat korps, Eko tidak pernah benar-benar jauh dari baret merah. Walhasil, selalu ada ada kesempatan bagi dirinya untuk kembali ke Kopassus hingga meraih jabatan puncak di pasukan elite tersebut.

Perjalanan karier Tri Yuniarto sedikit berbeda. Dari segi baret, Tri bisa disebut “separuh-separuh”: separuh baret merah, separuh baret hijau. Saat keluar dari Kopassus, Tri seolah telah bermetamorfosis sebagai baret hijau (Kostrad) sepenuhnya, mengingat kariernya sangat terang di Kostrad. Hal itu dimulai ketika satuan yang dipimpinnya, yakni Yonif 323/Buaya Putih Kostrad (Ciamis), ditunjuk oleh KSAD (saat itu) Jenderal Ryamizard sebagai pilot project pembentukan satuan raider.


Salah satu perwira generasi baru tipikal baret hijau adalah Brigjen Teguh Pujo Rumekso (lulusan terbaik Akmil 1991) yang baru saja diangkat sebagai Komandan Pussenif (Pusat Kesenjataan Infanteri), sebuah pos untuk bintang dua. Sepanjang kariernya, Teguh tidak pernah bertugas di Kopassus maupun Kostrad.

Sesuai tradisi, perwira lulusan terbaik Akmil diberi kebebasan untuk memilih lokasi penempatan. Umumnya mereka memilih Kopassus atau satuan di bawah Brigif Para Raider 17/Kujang I Kostrad. Namun, Teguh memilih ditugaskan pada satuan teritorial di Malang dan Banjarmasin.

Meski tidak secara bersamaan, baik Eko Margiyono, Tri Yuniarto, maupun Teguh Pujo Rumekso kebetulan pernah ditugaskan di Paspampres. Paspampres memiliki warna baret tersendiri, yaitu baret biru. Namun, baret biru tidak pernah dijadikan identitas seorang perwira. Hal ini disebabkan oleh karakter penugasan Paspampres yang lebih condong pada kegiatan protokoler, bukan sebuah satuan tempur konvensional yang biasa kita kenal.

Hendro Priyono lengser keprabon?

Dalam debat Capres-Cawapres pertengahan Januari lalu, ada fenomena menarik, yaitu soal tidak terlihatnya sosok Jenderal (Purn) Hendro Priyono di deretan kursi pendukung Jokowi-Maruf Amin. Dalam debat capres tahun 2014, Hendro selalu hadir dan bergabung dengan pendukung Capres (saat itu) Jokowi. Meski berusaha tidak menonjolkan diri, kehadiran Hendro (bersama Luhut Panjaitan) tetap terasa. Hendro bersedia “turun gunung” mendukung Jokowi bersama politisi-politisi baru dan masih hijau pengalaman—setidaknya dibanding Hendro.

Nampaknya Hendro sedang dalam proses lengser keprabon (mundur pelan-pelan)—sebuah konsep kejawen yang dulu ingin diterapkan mantan Presiden Soeharto bila tak lagi berkuasa. Bila asumsi ini benar adanya, mundurnya Hendro mungkin disebabkan oleh agenda utamanya dalam rezim Jokowi sudah menuju titik akhir. Agenda dimaksud adalah menyokong Andika sebagai KSAD dan kini tinggal selangkah lagi menuju Panglima TNI. Kini giliran Hendro yang memberikan ruang pada Andika untuk menjalankan agendanya sendiri.

Setidaknya ruang itu sudah dimanfaatkan Andika ketika mempromosikan Tri Yuniarto. Perjalanan kariernya keduanya sangat mirip. Seperti Andika dulu, hanya sekitar enam bulan ia berpangkat brigjen (sebagai Kadispenad), langsung promosi pos bintang dua, sebagai Komandan Paspampres. Kini kisah hampir sama berulang pada Tri Yuniarto. Baru sekitar enam bulan ia menyandang pangkat brigjen dalam posisi Direktur Doktrin Kodiklatad dan kemudian lanjut promosi pos bintang dua.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.