Membela Umat dan Menjadi Beradab di Masjid

Oleh: Arman Dhani - 3 November 2016
Dibaca Normal 4 menit
Masjid menurut al-Ujhuri berasal dari kata “sujud” yang artinya “menundukkan diri”. Tempat ibadah dan suci bagi umat islam ini merupakan pusat peradaban. Dari sini banyak pemikiran dan kemajuan dilahirkan. Masjid juga tak jarang jadi pusat pengaduan masyarakat dan keadilan dijalankan.
tirto.id - Ada anekdot yang demikian terkenal dalam ajaran Islam tentang relasi masjid dan umat. Anekdot ini mengisahkan seorang Yahudi yang kena gusur oleh gubernur yang arogan. Kisah seorang Yahudi yang rumahnya kena gusur oleh kebijakan tata kelola pemerintah provinsi yang tidak partisipasif. Melalui tindakan ekstra yudisial, rumah Yahudi itu diambil oleh gubernur setempat untuk pembangunan fasilitas publik. Tidak hanya sekadar menggusur dan merebut, gubernur itu juga mengerahkan aparat negara dalam proses perobohan rumah si Yahudi.

Yahudi miskin itu tak diberikan kesempatan membela diri, misalnya meminta keadilan melalui proses hukum. Si Gubernur yang tak mau tahu itu, atas nama negara, tetap memaksa menggusur tanah milik Yahudi.Tidak terima dengan perlakuan semena-mena itu, ia memutuskan menemui Khalifah Umar di Madinah. Tujuannya tentu untuk meminta keadilan. Untuk melawan gubernur yang tak berpihak kepada rakyat, barangkali ini cara yang paling masuk akal. Mencari orang yang ditakuti gubernur itu untuk mencari keadilan

Yahudi itu menemui Khalifah Umar bin Khatab yang tengah duduk di halaman masjid Nabawi.

Usai mendengar keluhannya, Khalifah Umar langsung memerintahkan Yahudi itu untuk mengambil tulang. Sebuah huruf alif digambarkan di tulang itu. Ia lantas diminta kembali ke Mesir untuk menyerahkan tulang tersebut kepada gubernur.

Alkisah, Amr bin Ash, Sang Gubernur, langsung membatalkan penggusuran begitu menerima tulang yang digoresi huruf alif oleh Khalifah Umar. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan gubuk milik si Yahudi. Kita tahu bagaimana kisah ini berakhir. Si Yahudi yang kagum akhirnya masuk islam dan mewakafkan lahannya untuk dibangun menjadi masjid.

Kisah-kisah inspirasional yang terjadi di sekitaran masjid banyak ditemui di berbagai anekdot dalam ajaran Islam. Secara tidak langsung ia berusaha memberikan konteks bahwa pusat peradaban dan interaksi masyarakat muslim berpusat pada masjid.

Anekdot orang Yahudi dan Amr bin Ash itu memperlihatkan satu dimensi yang tak boleh diabaikan dari peran masjid: kepentingan umat. Di sanalah umat tidak hanya berhubungan dengan Allah, melainkan juga dengan sesama manusia, termasuk dengan penguasa. Masjid menjadi sangat strategis karena dari sanalah aktivitas muslim yang paling pokok.

Kepentingan umat ini yang tidak boleh diabaikan. Ulama, yang pada dasarnya memang lekat dengan masjid, mesti memaksimalkan masjid sebagai tempat untuk mendiskusikan, membicarakan dan menyerukan kepentingan umat. Pro dan kontra pada penguasa itu hal biasa, tapi kepentingan umat mesti dipertimbangkan sebagai hal yang tidak kalah penting.

Tudingan bahwa demonstrasi besar-besaran terhadap Ahok karena kepentingan politik praktis, setidaknya dirembesi kontestasi Pilkada, menjadi tidak terhindarkan sepenuhnya. Nyaris tidak ada mobilisasi serupa ketika beberapa kali terjadi penggusuran di seantero Jakarta.

Apa boleh buat, politik identitas memang sedang menguat, dan itu terjadi di mana-mana, bukan hanya di Jakarta atau Indonesia, tapi berlangsung dalam skala global. Identitas agama, atau suku, etnis dan ras, lebih mudah memicu mobilisasi massa ketimbang isu-isu struktural yang lain - setidaknya di Jakarta di hari-hari terakhir ini.

Mensterilkan masjid dari politik jelas mustahil. Selain ahistoris, hal itu juga berbahaya. Sudah cukup pengalaman puluhan tahun di bawah kekangan Orde Baru di mana berbagai hal di-depolitisasi. Kita pernah mengecap pengalaman buruk ketika politik menjadi barang tabu, namun pada saat yang sama rezim menggunakan depolitisasi itu sebagai karpet merah untuk berkuasa secara total.

Ulama, sebagai pemimpin umat, jelas harus berbicara lantang jika penguasa berbuat tidak adil kepada umat. Sudah cukup banyak kritik tentang para ulama yang getol berbicara tentang kesesatan dan kemunkaran dalam hal-hal yang sifatnya ritual, tapi tidak terlalu lantang atau bahkan diam dalam isu-isu riil ketidakadilan sosial.

Kritik atas hal itu terakhir disampaikan Abdillah Toha dalam artikel “Menista Langit (Tanggapan Atas Tulisan Amien Rais)” (Republika, 1 November 2016). Ia menulis: “Kita nyaris tidak pernah menyaksikan gerakan-gerakan pembela Islam yang membela kaum miskin, kaum buruh, para penganggur, pendidikan yang mahal, atau menentang koruptor dan berbagai ketimpangan lain, tapi gerakan-gerakan itu rajin berontak ketika hal-hal yang diharamkan dalam Islam seperti minuman keras, pornografi, prostitusi, dan sejenisnya muncul ke permukaan. Buat para ‘pembela’ itu, biarkan rakyat miskin dan menderita asalkan minuman keras dan sejenisnya dilarang di negeri ini.”

Kritik semacam itu mengartikulasikan dengan baik bagaimana ulama, dengan masjid sebagai pusat aktivismenya, perlu lebih aktif berbicara tentang hal-hal yang tidak semata ritual. Karena pada dasarnya masjid memang bukan semata-mata tempat ibadah.

Masjid pertama yang dibangun umat Islam terletak di Quba. Masjid yang dibangun pada 8 Rabiul Awal 1 Hijriah ini dibangun oleh tangan Nabi Muhammad sendiri dibantu para sahabat. Di masjid inilah, juga masjid-masjid agung lainnya, peradaban Islam dibangun. Di sanalah pemikiran, pemerintahan, dan pengadilan diselenggarakan. Tempat di mana strategi dan persiapan perang juga dilakukan.

Infografik Kontestasi Politik di Rumah Ibadah


DR. Salah Eddin Zaimeche Al-Djazairi, dosen University of Constantine di Ajlazair, menyebutkan bahwa bagi banyak pemikir Islam, masjid adalah pusat pendidikan. Menurutnya masjid dan pendidikan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Nabi melakukan pendidikan dan dakwah di masjid. Selain itu berbagai persoalan dan sengketa yang berkaitan agama atau kehidupan sehari-hari diselesaikan di sekitar masjid.

DR. Salah menyebutkan pada perkembangannya anak-anak muslim diajari cara membaca Qur'an di masjid. Mereka lantas diajari cara menulis huruf Arab. Setelah pendidikan dasar ini dikuasai mereka bisa meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Saat muslim menguasai Qordoba pada abad ke 8 Masehi, murid-murid muslim dari semenanjung Arab dan Afrika dikirim ke Spanyol untuk belajar tentang artitmatika, tata bahasa, aljabar, sejarah, biologi, hukum dan tentu saja teologi.

Metode pendidikan dalam masjid dikenal dengan nama halaqah. Para murid duduk melingkar mengitari guru mereka. Banyak guru merupakan tamu yang diundang mengajar karena menguasai masing-masing disiplin ilmu yang disebutkan tadi. Seperti matematika, logika, hadits dan sebagainya. Murid yang diberikan keleluasaan untuk berdiskusi dan bertanya.

Mehdi Nakosteen dalam buku History of Islamic origins of Western Education, menyebutkan bahwa tak jarang dalam halaqah murid mendebat guru dan saling bertikai. Perdebatan dan pembelajaran ini diselenggarakan di hari Jumat, meski demikian setiap perdebatan itu mesti selesai dalam bingkai pendidikan.

Ibnu Battuta pernah mencatat bahwa sebanyak lima ratus murid menghadari halaqah di masjid Umayad. Sementara Masid Amru bin Ash di Kairo pernah menyelenggarakan empat puluh halaqah dalam satu waktu. Al-Muqaddasi juga pernah mengaku pada sebuah petang ia duduk di Masjid Amru bin Ash dan menyadari bahwa masjid itu dipenuhi oleh peserta halaqah yang tengah belajar tentang hukum Islam, sastra, filsafat, dan etika dalam islam.

Fungsi utama masjid adalah tempat beribadah. Namun ia juga berfungsi sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan berinteraksi. Dengan kata lain masjid adalah ruang publik bagi masyarakat islam.

Dalam Islam ada tiga masjid utama yang disucikan yaitu Masjidil Haram di Mekah, Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Masjid Nabawi di Madinah. Tiap-tiap masjid ini punya nilai sejarah dan teologis yang mendalam.

Masjidil Haram merupakan rumah bagi Ka'bah, bangunan suci yang dibangun oleh nabi Ibrahim dan menjadi pusat kiblat bagi seluruh umat Islam sedunia. Sementara Masjidil Aqsa adalah tempat Nabi Muhammad singgah, sebelum akhirnya naik ke surga, dalam peristiwa Isra Mi’raj dan pernah menjadi kiblat bagi muslim sebelum beralih kiblat ke Mekkah. Masjid Nabawi menjadi istimewa karena ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh tangan nabi sendiri bersama para sahabat. Di kompleks masjid ini pula Nabi Muhammad dimakamkan.

Namun, ada pula masjid-masjid yang menjadi sumber peradaban intelektual Islam. Seperti Masjid Al Mansur di Baghdad, Madrasah Ulugh Beg, yang termasuk dalam kompleks masjid di Samarkand, Uzbekistan, Masjid Al Zaytun di Tunisia yang memiliki lebih dari 200.000 volume buku dan juga masjid Al Azhar di Mesir yang menyimpan jutaan buku dari berbagai mazhab yang ada dalam islam. Di dalam masjid ini berbagai pemikiran diberi ruang dan diberikan tempat.

Masjid-masjid di Iraq dalam sejarah pernah mengajarkan keilmuan farmasi, teknik, astronomi, dan hal di luar kajian agama islam. Murid-murid dari Syiria, Persia, dan India datang ke Irak untuk belajar tentang sains selain ilmu agama. Di Masjid pula umat dan para ilmuwan Islam paling awal belajar tentang matematika, astronomi, logika, dan filsafat. Masjid menjadi pusat peradaban sekaligus pendidikan melalui halaqah.

Nurdin Laugu, dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, dalam artikelnya berjudul The roles of Mosque Libraries Thorugh History, menghadirkan berbagai fragmen yang menunjukkan bahwa masjid juga menjadi tempat bagi peristiwa sosial sehari-hari, seperti pernikahan, syukuran, dan juga salat jenazah. Masjid menjadi tidak berjarak karena mampu digunakan dan dimanfaatkan siapa saja.

Baca juga artikel terkait MASJID atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Politik)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan
DarkLight