tirto.id - Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar dikenal rendah hati. Kesan itu akan selalu dikenang Kapten Inf Sudargo Guntoro ketika mengingatnya. Mereka saling bertemu semasa pendidikan di Akmil Magelang angkatan 2015.
"Selama almarhum hidup sama kami, ya, orangnya humble. Terus ibadah juga kuat," ucap Guntoro kepada wartawan usai prosesi pemakaman Mayor Zulmi di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung, Minggu (5/4).
Pagi itu cuaca tidak begitu dingin. Langit biru kelewat cerah. Kedua hal tersebut mengiringi penghormatan militer terakhir Mayor Zulmi. Prajurit yang gugur kala menjaga perdamaian dunia ini, berada dalam peti jenazah dengan bendera Merah Putih yang menyelimuti.
Saat Tirto di lokasi, sekira pukul 08.30 WIB, iring-iringan jenazah sudah memasuki area pemakaman. Peti jenazah berbalut Sang Saka Merah Putih itu dipikul oleh beberapa bahu prajurit dan berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir.
Menurut Guntoro, sebelum menjalani misi perdamaian di Lebanon, Mayor Zulmi beberapa kali bertugas menjaga keamanan di Papua. Mendiang tergabung dalam pasukan gerak cepat untuk evakuasi.
"Kalau masalah tugas, setiap dikasih perintah, dikasih penugasan pasti selalu berhasil, selama penugasan di Papua dulu," kenang Guntoro menceritakan etos kerja mendiang.
"Harapannya untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kekuatan. Ketabahan dalam menghadapi cobaan," ucap Guntoro.
Mayor Zulmi Gugur Bersama Praka Farizal dan Sertu Muhammad
Menurut laporan daerah penugasan yang diterima kontributor tirto.id, terdapat dua insiden yang menyebabkan sejumlah prajurit gugur saat bertugas, kurun waktu 29-30 Maret 2026. Zulmi gugur di waktu penugasan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) dalam misi perdamaian di Lebanon, pada 30 Maret.
Insiden pertama menimpa prajurit TNI dari Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Peristiwa tersebut terjadi akibat ledakan di pos UNIFIL di Adchit Al Qusayr. Praka Farizal Rhomadhon dinyatakan gugur. Sementara Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, sedangkan Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan.
Insiden kedua terjadi pada Senin, 30 Maret 2026, yang melibatkan Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR). Prajurit sedang mengawal konvoi CSSU dari Markas Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2, menuju Markas Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1.
Dalam situasi eskalasi konflik yang meningkat, terjadi ledakan pada kendaraan konvoi logistik di wilayah Bani Hayyan. Insiden itu menyebabkan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan wafat. Sementara, Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.
Keluarga Bangga dengan Mayor Zulmi
Zulmi masih terbilang muda. Prajurit kelahiran Sukajadi, Bandung, 10 Maret 1993 itu berdinas di Grup 2 Kopassus. Ia lulusan Akademi Militer 2015. Perwira Kopassus ini menjalani misi perdamaian PBB di Lebanon, pada 2025.
Selama masa penugasan tersebut, Zulmi menjabat sebagai Dankie B Satuan Tugas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-S UNIFIL.
Ayah mendiang Zulmi, Iskandarudin berulang kali mengucapkan kata 'bangga' saat ditemui wartawan seusai prosesi pemakaman. Meski saat ini masih berpangkat mayor, menurutnya, mending sudah setara dengan jenderal.
"Anak saya masih berpangkat mayor, tapi langsung dipimpin Panglima TNI. Dapat tempat di Makam Pahlawan," ucapnya penuh haru. "Tempat terbaik. Sejajar dengan kediaman orang tua Panglima TNI. Saya bangga melepasnya."
Ia percaya anaknya merupakan sosok cemerlang dan mampu menggapai cita-cita lebih tinggi. Namun, Iskandarudin sudah ikhlas melepas kepergian Zulmi.
"Tapi saya yakin sudah ditunggu di surga-Nya. Terima kasih semuanya sudah hadir. Karena ini satu kehormatan yang sangat tinggi," ucapnya dengan jeda cukup lama sesekali.
"Saya belum pernah menemukan yang semegah ini, pangkat masih rendah dan umur masih muda. Mohon doanya semoga khusnul khatimah tanpa hisab," harap Iskandarudin.
Panglima TNI Pastikan Hak Zulmi Terpenuhi
Selain mendapatkan penghargaan berupa kenaikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB), Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memastikan hak-hak lain bagi Mayor Zulmi segera dipenuhi negara.
"Almarhum salah satu prajurit terbaik yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia yang berdinas di grup 2 Kopassus. Sekali lagi, kami Tentara Nasional Indonesia berduka sangat dalam atas insiden yang terjadi," ucap Agus usai memimpin prosesi pemakaman.
Ia mengatakan, negara sudah menyiapkan dana untuk memenuhi hak atas gugurnya Mayor Zulmi. Di antaranya dana watzah, TWP dari Angkatan Darat, personil residen, dan santunan kubur dari perbankan.
"Beberapa juga [penghargaan] akan diberikan oleh Bapak Presiden," tambah Agus.
Termasuk santunan risiko kematian khusus Rp450 juta, lanjut Agus, kemudian dari asuransi. Lalu, ada santunan dana beasiswa untuk anak Zulmi senilai Rp30 juta per anak. Terakhir, santunan kematian dari PBB sekira Rp1,1 Miliar.
Ia pun memuji pengabdian Zulmi bagi negara. Mendiang sosok gemilang. Selalu menjalankan penugasan sebaik mungkin. Prajurit yang berprestasi. Atas dedikasinya, Zulmi ditunjuk sebagai kontingen perdamaian PBB.
"Almarhum mendapat reward dari satuan. Untuk reward tersebut, beliau diberangkatkan ke luar negeri dalam operasi misi perdamaian di Lebanon," ucapnya.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































