Menuju konten utama

Matematika Jadi Momok, Mencari Akar Masalah Pendidikan Numerasi

Di balik buruknya kemampuan numerasi pelajar Indonesia ada masalah metode belajar, bahan pengajaran, dan matematika yang kerap menjadi momok.

Matematika Jadi Momok, Mencari Akar Masalah Pendidikan Numerasi
Ilustrasi Matematika. foto/Istockphoto

tirto.id - Matematika rupanya masih menjadi momok bagi banyak pelajar di Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan, nilai matematika siswa SMA sederajat dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 tergolong rendah.

Menurut Mu’ti, kondisi tersebut bukan disebabkan kemampuan numerasi murid yang rendah, ada faktor pengajar dan bahan pengajaran yang kurang menarik dari permasalahan ini.

“Bukan karena muridnya goblok, bukan, tapi mungkin cara kita mengajarkannya dan bukunya tidak mendorong mereka untuk belajar matematika,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (19/11/2025).

Mu’ti juga menyoroti rendahnya kemampuan numerasi siswa Indonesia, yang menurutnya turut dipengaruhi oleh anggapan umum bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit. Sebagai langkah antisipatif, pemerintah menyiapkan metode pembelajaran yang lebih menarik agar siswa lebih menyukai bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).

Ke depan, ia menjelaskan, buku-buku bidang STEM akan dikembangkan agar lebih mudah dipahami, terjangkau, dan menyenangkan. Harapannya, siswa dapat belajar sains dan teknologi dengan cara yang lebih menarik dan efektif.

Skor Kemampuan Matematika Indonesia Rendah

Rendahnya capaian matematika pelajar Indonesia sejatinya bukan fenomena baru. Berdasarkan asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan 2022, performa literasi matematika Indonesia tercatat sangat rendah. Skor yang diperoleh tidak hanya berada di bawah rata-rata OECD (472 pada 2022), tetapi juga stagnan selama 10–15 tahun terakhir.

Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa skor kemampuan matematika siswa Indonesia berada pada angka 366 poin, menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara peserta. Angka itu lebih rendah dibanding skor PISA 2018 sebesar 379 dan tetap berada di bawah rata-rata OECD.

PISA mendefinisikan kemampuan matematika sebagai, “kemampuan untuk merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks untuk menggambarkan, memprediksi, dan menjelaskan suatu fenomena”. Tes ini dilakukan pada sampel pelajar berusia 15 tahun dari puluhan negara, dengan kemampuan matematika diklasifikasikan ke dalam delapan level, mulai dari level tertinggi 6 hingga level 1c.

Dengan skor 366, pelajar Indonesia berada pada level 1a, artinya mereka umumnya mampu menjawab pertanyaan matematika yang melibatkan konteks sederhana, dengan kondisi pertanyaan yang jelas dan informasi lengkap. Mereka juga dapat menggunakan algoritma, rumus, atau prosedur dasar untuk memecahkan masalah yang umumnya melibatkan bilangan bulat. Namun, pada level ini, pelajar belum mampu berpikir kreatif untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks.

Selain itu, OECD mencatat bahwa sekitar 71 persen siswa Indonesia tidak mencapai tingkat kompetensi minimum matematika, menunjukkan masih banyaknya kesulitan siswa menghadapi situasi yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah menggunakan matematika.

Rendahnya kemampuan numerasi juga tercermin dalam data nasional. Data Rapor Pendidikan 2022 menunjukkan bahwa dua dari tiga murid SD memiliki kecakapan numerasi jauh di bawah kompetensi minimum. Tentunya ini berdampak ke pendidikan lanjut tingkat sekolah menengah.

Sementara hasil Rapor Pendidikan Indonesia 2025 menunjukkan ada tiga kelompok SMA. Dari tiga kelompok itu, SMA Umum mencatatkan 70,31 persen murid mencapai kompetensi minimum numerasi dan masuk kategori baik. Tapi di kelompok SMA Kesetaraan (40,2 persen) dan SMA Pendidikan Keagamaan (44,04 persen) skornya cenderung mepet 40 persen, batas bawah kategori sedang.

Penelitian Indah dan Aini (2024) dari UIN Jember mengukur literasi numerasi siswa SMA melalui soal statistika dalam bentuk soal cerita. Hasilnya 63 persen siswa tergolong “kurang". Penelitian mereka menyebut siswa mengalami kesulitan dalam memahami persoalan serta kesulitan pada mengungkapkan apa yang diketahui serta apa yang ditanyakan pada soal.

Terdapat pula temuan yang menunjukkan rendahnya minat terhadap matematika. Matematika dianggap abstrak, membosankan, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga menurunkan motivasi belajar.

Fons, gini aja mungkin, penelitian Abidin dkk. (2013) yang dikutip dari penelitian Resti dkk (2023), menemukan bahwa siswa merasa bosan, kesulitan, bahkan takut menghadapi pelajaran matematika, karena menganggapnya hanya ilmu abstrak tanpa kaitan praktis, terutama pada konten pengukuran dan geometri.

Mengapa Minat Siswa Belajar Matematika Rendah?

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal. Minat belajar matematika dipengaruhi kombinasi faktor internal (sikap, motivasi, minat), faktor eksternal (metode mengajar guru, lingkungan belajar, dukungan orang tua), serta aspek kurikulum dan materi pelajaran.

Penelitian Sukri (2023) dari Universitas Pendidikan Indonesia menemukan bahwa kompetensi guru hanya menjelaskan 29,38 persen variasi hasil belajar matematika. Artinya, masih banyak faktor lain di luar kemampuan guru yang berkontribusi terhadap rendahnya hasil belajar. Analisis terhadap jenis kompetensi guru, jenjang pendidikan, dan demografi siswa juga menunjukkan bahwa karakteristik-karakteristik tersebut tidak menjadi pembeda yang signifikan terhadap kontribusi kompetensi guru.

Sosiolog dan pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menekankan bahwa rendahnya nilai matematika dalam TKA tidak bisa disederhanakan hanya menjadi persoalan kemampuan guru, kualitas buku pelajaran, atau ketidaksukaan siswa pada materi sulit. Menurutnya, penyebab rendahnya capaian bersifat jauh lebih luas dan kompleks.

“Ini penjelasannya multidimensi. Ada faktor kekurangan kemampuan guru, iya. Ada faktor buku, iya. Tapi tidak ada faktor yang determinan atau tunggal,” ujarnya kepada Tirto, Senin (24/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa TKA merupakan kebijakan yang baru diterapkan untuk pertama kalinya. Karena itu, tren nilai pada tahun-tahun berikutnya lebih penting untuk diperhatikan. Jika pada 2026 nilai tetap rendah, barulah dapat ditarik kesimpulan yang lebih kuat adanya persoalan mendasar pada pembelajaran matematika maupun sains, seperti fisika, biologi, dan kimia.

“Nilai numerasi dan nilai matematika itu memang kita udah lama rendah. Sejak dilakukan test PISA standar internasional itu kita rendah. Nah, sekarang ketika TKA dilakukan dalam waktu yang sangat cepat instan ketika nilai rendah, jangan kaget sebenarnya,” ujarnya.

Rakhmat juga menyoroti faktor kurikulum, kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam, hingga variabel input siswa. Nilai matematika dan numerasi siswa di kota-kota besar di Jawa, misalnya, hampir pasti berbeda dengan siswa di luar Jawa. Perbedaan ini mencerminkan ketimpangan dalam kemampuan awal siswa, kualitas guru, lingkungan belajar, dan kondisi ekonomi.

“Ketika ditanya apa akar masalahnya, menurut saya agak susah. Ini berkelindan, satu lingkaran, satu kompleksitas yang saling terkait satu dengan lainnya. Karena itu, pendekatannya harus komprehensif,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa negara-negara dengan skor tinggi umumnya memiliki populasi yang lebih kecil, kualitas guru yang lebih baik, dan latar belakang keluarga siswa yang lebih stabil atau banyak berasal dari kelas menengah.

Sementara itu, sebagian besar keluarga di Indonesia berada pada kategori menengah ke bawah, bahkan banyak yang berada dalam kondisi sosial ekonomi sangat rendah. Karena itu, menurut Rakhmat, upaya memperbaiki capaian matematika harus dilakukan secara komprehensif dan tidak bertumpu pada satu aspek saja.

Perlu Perbaikan Menyeluruh

Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, memiliki pandangan senada. Menurut dia, rendahnya capaian skor matematika siswa lebih mencerminkan kegagalan sistem pendidikan secara struktural daripada kelemahan individu siswa.

“Kritik Mendikdasmen terhadap cara mengajar dan buku pelajaran itu tepat, tapi perlu ditindaklanjuti dengan langkah nyata,” ujarnya kepada Tirto, Senin (24/11/2025).

Menurut Ubaid, selama ini banyak guru masih mengandalkan metode mengajar yang bersifat hafalan dan kaku, sementara buku serta kurikulum lebih menekankan kompetensi algoritmik dibanding kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

“Tanpa perubahan mendasar di kedua aspek ini, program membuat anak suka STEM akan tetap menjadi retorika, bukan solusi nyata,” ujarnya

Ia menegaskan bahwa rendahnya literasi numerasi di SMA mencerminkan kegagalan sistem untuk menumbuhkan kemampuan berpikir logis dan numerik. Program membuat anak suka STEM tanpa perbaikan fondasi seperti peningkatan mutu guru dan evaluasi yang berkualitas, menurutnya, tidak akan efektif.

Ubaid juga mengingatkan bahwa masalah ini telah lama terpantau. Bahkan sebelum hasil TKA dipublikasikan, berbagai penelitian dan laporan internal telah memperingatkan rendahnya literasi numerasi siswa.

“Namun, pemerintah justru mengabaikan akar masalah: sistem penjaminan mutu pendidikan yang lemah, sistem peningkatan mutu guru yang masih amburadul, dan buruknya kompetensi pemerintah daerah dalam mengurus urusan pendidikan ini memperkeruh masalah ini,” ujarnya.

Menghilangkan Ketakutan Siswa Terhadap Matematika

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong peningkatan kemampuan numerasi anak Indonesia, dengan harapan dapat meningkatkan skor PISA pada periode berikutnya.

Salah satu program utama yang telah dijalankan untuk memperbaiki kemampuan numerasi adalah Gerakan Numerasi Nasional atau GNN. Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa GNN merupakan inisiatif strategis yang bertujuan meningkatkan kecakapan numerasi sekaligus menumbuhkan budaya berpikir kritis, logis, dan analitis di seluruh lapisan masyarakat.

"Karena kita belajar dari yang sudah kita punya, 15 tahun kemampuan numerasi kita rendah dan itu tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangga. Oleh karena itu dengan revolusi, transformasi pembelajaran matematika menjadi Matematika Gembira. Itu nanti diimplementasikan seluruh Indonesia," ujarnya dikutip dari Antara, Jumat (21/11/2025).

Nunuk menambahkan bahwa melalui GNN, yang merupakan kolaborasi berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuan numerasi, matematika diharapkan tidak lagi menjadi momok bagi siswa maupun masyarakat. Salah satu fokus utamanya adalah menghilangkan ketakutan terhadap matematika dengan menghadirkan metode belajar yang mendorong penggunaan konsep-konsep matematis dalam konteks nyata.

Pemerintah juga menyelenggarakan pelatihan bimbingan teknis bagi guru melalui pendekatan Matematika Gembira. Pendekatan ini mencakup tahapan menggali dan mengeksplorasi, memuat konten pembelajaran, membuat aktivitas, mengikuti alur berpikir siswa, serta mengakhiri dengan apresiasi. Saat ini implementasinya terus diperluas ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

"Dengan numerasi meningkat, maka kesenjangan yang sekarang ada itu bisa kita atasi. Itu butuh usaha dan butuh waktu. Ini yang sedang kita kerjakan. Harapannya nanti ketika kita mengikuti skor PISA berikutnya, sehingga setiap 2 tahun kita sudah bisa melompat dengan adanya banyak hal yang kita lakukan seperti saat ini," katanya.

Menurut data Kemendikdasmen, pelatihan Matematika Gembira sudah dilakukan oleh 3.034 peserta guru dan tenaga pendidik. Di saat yang bersamaan, berdasarkan hasil rapor pendidikan 2022-2024, terdapat kenaikan cukup signifikan di sekolah dasar. Namun, skor numerasi masih dalam kategori sedang dengan rata-rata 40 persen di semua jenjang.

Baca juga artikel terkait PENDIDIKAN atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - News Plus
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Alfons Yoshio Hartanto