Menuju konten utama

Mantan Marinir AS Protes di Senat, Tak Mau Perang untuk Israel

Seorang mantan marinir AS melakukan aksi protes di Senat. Ia menyatakan tidak ingin AS berperang untuk Israel.

Mantan Marinir AS Protes di Senat, Tak Mau Perang untuk Israel
Jejak roket dari sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel terlihat di atas Tel Aviv pada 28 Februari 2026. Militer Israel mengatakan serangan mereka terhadap Iran, yang dikoordinasikan dengan Amerika Serikat, menargetkan puluhan situs militer dan merupakan hasil perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara kedua sekutu tersebut. AFP/Jack GUEZ

tirto.id - Sebuah insiden mewarnai sidang Subkomite Angkatan Bersenjata di Senat Amerika Serikat. Seorang mantan marinir bernama Brian McGinnis membuat kegaduhan. Ia kemudian dipaksa keluar ruangan sambil meneriakkan jika AS tidak ingin bertempur untuk Israel.

Sidang Subkomite Angkatan Bersenjata di Senat AS berlangsung pada Rabu, 4 Maret 2026. Brian McGinnis berada di ruangan tersebut mengenakan seragam US Army.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat McGinnis diusir oleh polisi Capitol namun ia berusaha untuk tetap berada di ruangan dengan memegang erat daun pintu.

Kronologi Mantan Marinir AS Protes di Senat

Pada Rabu, 4 Maret 2026, mantan Marinir Brian McGinnis, yang diketahui juga merupakan calon Senat dari Partai Hijau di North Carolina, menghadiri sidang Subkomite Angkatan Bersenjata di Senat AS.

Sidang ini menghadirkan pejabat militer senior yang memberikan kesaksian mengenai kesiapan militer. Sekitar 30 menit setelah sidang dimulai, McGinnis mulai berteriak, menyampaikan protesnya terhadap perang AS dan Israel melawan Iran.

America does not want to send its sons and daughters to war for Israel! (Amerika tidak ingin mengirim anak laki-laki dan anak perempuan mereka ke peperangan untuk Israel!),” teriak McGinnis dikutip CBS News.

Israel is the reason for this war (Israel adalah alasan dari perang ini),” ucapnya lantang.

Akibat aksinya ini, para petugas Capitol Police berusaha mengeluarkan McGinnis dari ruangan. Hal ini dilakukan karena McGinnis dianggap mengganggu jalannya sidang.

Saat proses pengusiran, McGinnis terlihat berusaha melawan dan tangannya tersangkut di antara pintu dan kusen. Senator Tim Sheehy ikut turun dari tempat duduknya untuk membantu petugas menarik McGinnis keluar.

Selama upaya itu, muncul tuduhan bahwa Sheehy melukai tangan kiri McGinnis, yang kemudian dilaporkan mengalami patah lengan.

Setelah berhasil dikeluarkan dari ruangan, McGinnis dibawa oleh petugas ke luar dan akhirnya ditahan. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Universitas George Washington.

Capitol Police menyatakan McGinnis menghadapi beberapa tuduhan hukum, termasuk menyerang petugas, melawan penangkapan, dan menghalangi jalannya sidang.

Mark Elbourno, tim kampanye McGinnis membantah ia menyerang petugas dan menyatakan bahwa McGinnis hanya ingin menyampaikan aspirasinya terkait penghentian pendanaan perang di Iran.

"Dia tidak menyerang siapa pun. … Dia hanya ingin didengar [dan] berbicara dengan lantang dan jelas. Sebenarnya dia diserang. Mereka mematahkan lengannya," sebut Mark Elbourno.

Pihak polisi menekankan bahwa protes tidak diperbolehkan di dalam gedung Senat dan ada area terbuka di Capitol Grounds untuk demonstrasi.

Sheehy sendiri menyatakan ia turun tangan untuk membantu menenangkan situasi karena McGinnis dianggap melawan petugas, dan berharap McGinnis mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

“Polisi Capitol berusaha mengeluarkan seorang demonstran yang tidak terkendali dari sidang Komite Angkatan Bersenjata. Ia melawan. Saya memutuskan untuk membantu dan meredakan situasi,” cerita Sheehy yang diunggahnya di akun X @TimSheehyMT.

“Pria ini datang ke Capitol untuk mencari konfrontasi, dan ia mendapatkannya. Saya harap ia mendapatkan bantuan yang dibutuhkannya tanpa menimbulkan kekerasan lebih lanjut,” harapnya lagi.

Seperti diketahui, saat ini militer AS dan militer Israel sedang bekerja sama untuk menjatuhkan kekuasaan di Iran. Mereka memulai Operation Epic Fury pada 28 Februari 2026 dan masih berlangsung hingga sekarang. Supreme Leader Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra