Menuju konten utama

Malaysia-Brunei Gandeng ASEAN Atasi Kabut Asap Lintas Batas

Hadapi kabut asap lintas batas yang memburuk, Malaysia-Brunei sepakat gunakan mekanisme ASEAN. PM Anwar Ibrahim utus Menlu tangani krisis udara regional.

Malaysia-Brunei Gandeng ASEAN Atasi Kabut Asap Lintas Batas
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan pidato di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Selasa (29/7/2025). Dalam kunjungannya ke Indonesia, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memberikan pidato kebijakan tentang ASEAN dalam konteks Keketuaan Malaysia di ASEAN pada tahun 2025. ANTARA FOTO/Pandu BN/hma/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Guna menekan dampak buruk polusi udara di kawasan, Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat mengaktifkan jalur diplomatik dan mekanisme ASEAN untuk mengatasi kabut asap lintas batas. Keputusan strategis ini diambil dalam Konsultasi Pemimpin Tahunan ke-27 antara PM Datuk Seri Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah, akhir pekan ini.

Melansir The Star, hal itu disepakati dalam Konsultasi Pemimpin Tahunan ke-27 (Annual Leaders' Consultations/ALC-27) dalam pertemuan antara Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah.

"Kami berdua sepakat untuk menggunakan mekanisme ASEAN sebagai pilihan terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani masalah ini," kata Anwar, Sabtu (22/8/2026).

Langkah tersebut sebelumnya juga telah disampaikan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada Jumat (21/8/2026). Ia mengatakan Malaysia akan menggunakan jalur diplomatik ASEAN untuk mencari solusi atas persoalan kabut asap lintas batas yang berdampak pada sejumlah wilayah di kawasan.

Adapun menurut data dari portal Sistem Manajemen Indeks Polusi Udara Malaysia (APIMS), pembacaan Indeks Polusi Udara (API) di Serian, Sarawak tercatat sebesar 190 pada pukul 9 pagi hari Sabtu.

Sepuluh wilayah lainnya juga mencatatkan tingkat tidak sehat, yaitu Kuching (182), Samarahan (177), Sarikei dan Sri Aman (173), Sibu (161), Bintulu (157), Samalaju dan Mukah (156) serta Miri dan Bukit Rambai, Melaka masing-masing sebesar 151.

Angka API antara nol dan 50 menunjukkan kualitas udara yang baik, 51 hingga 100 sedang, 101 hingga 200 tidak sehat, 201 hingga 300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan sebagai berbahaya.

Soal Asap Lintas Batas, BNPB Minta Tetangga Tak Menyalahkan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak saling menyalahkan terkait dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan bersama tanpa memperdebatkan sumber asap secara spekulatif.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," kata Berton kepada wartawan, Minggu (23/8/2026).

Berton mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan dampak asap lintas batas. Pemerintah, menurut dia, telah mengerahkan sumber daya besar untuk mengendalikan karhutla.

"Yang perlu kami sampaikan, Indonesia saat ini sudah melakukan upaya secara optimal dan mengerahkan sumber daya yang sangat besar untuk mengendalikan karhutla," ujarnya.

Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat, patroli dan pemadaman udara, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca, hingga penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Berton menyebut pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra.

Pemerintah juga menambah kekuatan TNI AU untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.

"Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," ucap Berton.

Menurut dia, pergerakan asap juga perlu dilihat berdasarkan data meteorologi. Faktor yang diperhatikan antara lain arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta hasil pemantauan satelit dan lapangan.

Baca juga artikel terkait KASUS KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah