Luhut Ungkap Alasan Pemerintah Segera Batasi Ekspor Bijih Nikel

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 13 Agustus 2019
Luhut menyatakan pemerintah berencana membatasi ekspor bijih nikel agar industri yang membuat komoditas ini memiliki nilai tambah bisa berkembang.
tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah perlu segera membatasi ekspor bijih nikel (ore) untuk merespons perang dagang Amerika Serikat-Cina.

Luhut menjelaskan, pada kondisi saat ini, pemerintah ingin menggenjot investasi sebanyak mungkin sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor komoditas saja.

“Kita lihat saja keputusan presiden beberapa waktu ke depan. Tapi seperti saya jelaskan, dalam keadaan trade war [perang dagang] kita perlu menarik investasi sebanyak mungkin,” kata Luhut di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta pada Selasa (13/8/2019).

Maksud Luhut mengenai investasi ini berkaitan dengan pengembangan industri-industri yang dapat memberi nilai tambah terhadap komoditas sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia. Peningkatan nilai tambah tersebut dilakukan melalui hilirisasi industri pengolah komoditas mineral dan tambang.

“Kita bertahun-tahun suka datang investor, gali-gali lalu ekspor. Kemudian tidak ada. Sekarang saya bilang tidak. Harus ada added value [nilai tambah],” ujar Luhut.

Dia mencontohkan bijih nikel yang tidak diolah hanya dihargai minimal 36 dolar AS. Sedangkan jika sudah diolah menjadi fero nikel, harga komoditas ini minimal meningkat menjadi 6 kali lipatnya.

Luhut optimistis, jika hilirisasi seperti itu bisa dilakukan, defisit transaksi berjalan atau current accout deficit (CAD) Indonesia dapat diperbaiki. Sebab, salah satu sebab CAD membengkak ialah neraca dagang yang defisit akibat nilai ekspor kerap tak mampu mengimbangi impor.

“Kita akan menjadi produsen nikel terbesar di dunia. Dampaknya ke [perbaikan] CAD akan luar biasa. Kelipatannya bisa besar,” ucap Luhut.


Baca juga artikel terkait EKSPOR atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Addi M Idhom
DarkLight