tirto.id - Saya pertama kali mengenal LOR saat mereka tampil sebagai band pembuka di gelaran musik di salah satu sudut Kota Gudeg pada penghujung 2023. Kala itu, band pop rock asal Yogyakarta ini hanya ditonton oleh segelintir orang. Meski demikian, mereka berhasil membuat penonton terhanyut.
Kini, saat mereka sedang mengetuk pintu-pintu kesempatan baru, rasanya seperti ikut menyusuri perjalanan sedari awal. Gifari Asfahani (vokal), Patriadika Hanung atau Hans (gitar), dan Arya Maulana (bass) paham bahwa menekuni dunia musik tak bisa hanya dengan menunggu. Ada cemas yang terus beriringan dengan harapan, dari satu festival ke festival lain, hingga akhirnya musik mereka berhasil memikat telinga penonton di panggung berskala internasional.
Jumat, 22 Agustus 2025 jadi titik penting. Untuk pertama kalinya, LOR dipercaya tampil di LaLaLa Fest di Jakarta, salah satu festival musik terbesar di Indonesia.
“Pengalaman pertama di festival bisa dibilang internasional, jadi mix feeling aja. Kayak ada takutnya, ada senangnya gitu lah,” kata Hans dengan senyum lebar.
Kesempatan itu bukan hadiah instan. LOR harus melewati submission dan voting online, bersaing dengan sembilan musisi lain. Dari ribuan suara, mereka berhasil menjadi satu-satunya band Indonesia yang tampil di Karma Stage, panggung kedua terbesar di LaLaLa Fest.
Saya menyaksikan bagaimana loyalitas penggemar mereka akhirnya terbayarkan dengan mengantarkan LOR ke titik yang barangkali dulu hanya bisa mereka bayangkan.
Di sore yang cukup terik itu, LOR membawakan sebelas lagu. Isinya campuran dari album Movie Star, EP Check 123, hingga single terbaru mereka, “Give Me a Reason to Stay”. Single ini sebenarnya sudah ditulis sejak awal band terbentuk, tetapi baru dirilis sekarang karena kala itu dianggap kurang cocok dengan warna musik pada album-album sebelumnya.
Gifari bercerita, lagu “Give Me a Reason to Stay” yang terasa lebih eksploratif dan bernuansa jazz ini lahir dari kisah temannya. Sejak kecil, temannya itu sudah akrab dengan les musik dan punya keinginan kuat untuk bermusik, tetapi saat dewasa harus terbentur realita, orang tua tidak mengizinkannya aktif di dunia musik.
Di luar cerita personal itu, Gifari menganggap lagu ini sebagai pintu pembuka menuju sesuatu yang lebih besar bagi LOR.
“Cuman mungkin kapannya masih belum tahu. Masih nyicil-nyicil materi yang lain juga,” katanya sambil tersenyum kecil.
Dari Utara Yogyakarta
LOR sebenarnya bukan band yang terlalu baru di kancah musik Yogyakarta. Mereka terbentuk pada Juni 2019 yang berawal dari pertemuan tidak sengaja di sebuah kampus swasta di utara Yogayakarta.
Dari latihan-latihan sederhana, formasi band perlahan mengerucut. Beberapa kali bongkar pasang personel, hingga akhirnya mantap bertiga. “Bertiga tuh lebih enak. Koordinasi gampang, kepala lebih sedikit, brainstorming juga lebih efektif,” ungkap mereka.
Selain itu, ekosistem musik Yogyakarta yang guyub juga berhasil membuat mereka bertahan. “Dari awal memang banyak support dari teman-teman kolektif, promotor, dan band lain,” kata mereka.
Nama LOR, tambah mereka, datang begitu saja. Bukan dari makna filosofis, melainkan karena semua anggotanya kebetulan tinggal di kawasan utara Yogyakarta. Lor dalam bahasa Jawa artinya utara.
Meski sempat menyesal karena nama LOR terlalu umum dan jadi sulit ditemukan di mesin pencari, mereka tetap mempertahankannya. “Yaudah lah, biar apa adanya,” ujar mereka sambil tertawa.
Musik LOR banyak dipengaruhi oleh band-band luar negeri macam Weezer, The Vaccines, The Strokes, hingga Blur. Namun, tiap personel membawa referensi berbeda. “Kami benturkan aja referensinya. Hasilnya jadi unik,” kata mereka.
Sementara itu, untuk urusan genre, LOR memilih istilah pop rock sebagai label paling netral. “Pop rock itu kan luas banget. Kami juga bingung mau nyebut diri kami apa, jadi pakai istilah paling umum aja.”
Ciri khas LOR lainnya adalah gaya DIY (Do It Yourself) dalam membuat video musik. Banyak klip mereka diambil dalam satu kali pengambilan (one take), dengan nuansa anak kosan yang sederhana tapi jujur.
“Kami pengen keliatan effortless, tapi sebenernya effort juga. Kayak nggak dikonsep, tapi sebenarnya dikonsep,” ungkap mereka.
Soal album debut, Movie Star, yang lahir di tengah pandemi, mereka mengaku terinspirasi dari kebiasaan nonton film. LOR mengambil elemen-elemen film sebagai benang merah. Beberapa lagu memang personal, namun sebagian lagi terinspirasi dari film dan soundtrack.
“Awalnya nggak terkonsep, tapi di tengah jalan malah jadi konsep. Album ini kayak film, bahkan di lagu terakhir kami kasih nuansa credit cast,” jelas mereka.
Kini LOR sedang menyiapkan album baru. Mereka menjanjikan karya yang lebih eksploratif—bisa jadi ada terompet, bisa juga ada sentuhan bahasa Jawa. Bahkan, ada wacana merilis Movie Star dalam format kaset pita.
Meski serius bermusik, mereka mengakui dunia ini belum sepenuhnya menghidupi. Masing-masing personel masih punya pekerjaan sampingan. “Produksi album, bikin tur, semua butuh biaya. Jadi realistis aja,” ujar mereka.
Mereka memang mengakui belum bisa hidup sepenuhnya dari musik, namun hal itu tak melunturkan semangat dalam berkarya.
“Kalau aku, karena udah telanjur bilang ke orang tua. Masa sudah sejauh ini tiba-tiba berhenti?” kata Hans.
Gifari menimpali, “Karena musisi adalah pekerjaan paling keren di dunia. Nggak semua orang pengen jadi musisi, tapi semua orang punya selera musik,” tutupnya sambil tertawa kecil.
Penulis: Sherani S Putri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































