Resensi Musik Indonesia

Album Hindia: Bungkus OK, Musik Payah tapi Beberapa Orang Memaafkan

Oleh: Faisal Irfani - 11 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Musik tak sekadar soal pesan, tapi juga teknis. Hindia gagal memahami konsep tersebut.
tirto.id - Bila diminta menyebut band yang paling mencuri perhatian pegiat dan penikmat skena independen dalam beberapa tahun belakangan, saya tak ragu menyodorkan satu nama: .Feast. Sama seperti, katakanlah, Barasuara, band ini tak butuh waktu lama untuk mekar dan populer. Dari yang sebatas cuma berputar di lingkungan kampus, .Feast menjelma komoditi panas di skena independen lokal.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan .Feast begitu melambung. Pertama, musik yang ditawarkan dinilai cukup segar. Mereka meleburkan aroma rock dengan elemen-elemen elektronik, yang pada akhirnya bikin antusiasme para pendengar melonjak. Kedua, lagu-lagu mereka memuat kritik sosial-politik yang relevan di kalangan anak-anak muda. Pendeknya, menyimak .Feast tak ubahnya mendengar ajakan turun ke jalan.

Kredit tersendiri patut diberikan kepada sosok Baskara Putra, vokalis sekaligus frontman .Feast. Bisa dibilang, Baskara merupakan otak di balik setiap karya-karya .Feast. Kemampuan mengolah musik, yang dipadukan dengan sensibilitas menangkap isu-isu terkini, menjadi kekuatan Baskara dalam membentuk ciri khas .Feast.


Lepas dan Bebas

Di luar kesibukan bersama .Feast, Baskara punya proyek lain bernama Hindia. Pada akhir November lalu, Hindia merilis album debutnya yang bertajuk Menari Dengan Bayangan.

Album solo bukan sesuatu yang asing bagi seorang frontman. Tanyakan pada Thom Yorke yang mengeluarkan Anima (2019) atau Julian Casablancas yang merilis Phrazes for the Young (2009). Album-album itu pada dasarnya adalah sarana aktualisasi diri, sebuah proses yang mungkin tidak didapatkan ketika mereka berada dalam band.

Saya pikir hal serupa juga berlaku pada Baskara. Dengan album barunya, ia seperti butuh ruang untuk berimprovisasi serta menggali seluruh isi kepalanya. Ia perlu wadah yang dapat menampung segala refleksinya atas kehidupan tanpa sekat-sekat tradisi yang telah dibangun .Feast sendiri.

Total terdapat 15 lagu dalam Menari Dengan Bayangan. Baskara bekerja tak sendirian. Ia menggandeng beberapa kolaborator dari lintas genre seperti Petra Sihombing, Matter Mos, Sal Priadi, hingga Rara Sekar.

Menari Dengan Bayangan dibuka oleh lagu bertajuk “Evakuasi”. Melalui lagu yang kental dengan warna techno yang cukup suram ini Baskara hendak menyentil kebiasaan orang bermedia sosial. Orang beramai-ramai mencari validasi—juga imitasi—dengan, salah satunya, “foto selfie”, demikian kira-kira kritik Baskara. Dengan suaranya yang diberat-beratkan, Baskara hanya ingin mencari ketenangan di tengah pusaran itu.

Kemudian di nomor “Besok Mungkin Kita Sampai,” Baskara berdendang mengenai teman-teman satu generasinya yang ‘berlari’ dengan cepat demi mengejar karier yang mapan, sekolah yang tinggi, atau ikrar suci bernama perkawinan. Pesan moralnya: jangan pedulikan mereka karena semua akan tiba pada waktunya.

Bersama Matter Mos, Baskara membikin “Jam Makan Siang”, dan mengajak para pendengarnya untuk sejenak berangan-angan tentang masa depan. Selanjutnya ada “Dehidrasi,” digarap dengan Petra Sihombing, yang catchy serta dipenuhi ketukan-ketukan repetitif.

Tak sekadar memuat lagu, dan ini yang bikin unik dari Menari Dengan Bayangan, Baskara juga menyertakan sepasang track berformat voice over dalam “Wejangan Mama” dan “Wejangan Caca”. Seperti judulnya, dua voice over tersebut berisikan testimoni orang-orang terdekat Baskara.

Yang paling mencolok, mungkin, ialah nomor “Membasuh”. Menggandeng Rara Sekar, Baskara menciptakan nomor "folk-senja-kopi". Di kanal streaming Spotify, lagu ini sudah diputar lebih dari empat juta kali. Kelihatannya pamor folk memang belum sepenuhnya pudar.


Infografik Hindia
Infografik Hindia. tirto.id/Fuad


Musikalitas Nomor Sekian?

Tidak bisa dipungkiri, Baskara begitu piawai dalam memasarkan album barunya. Salah satu yang kentara adalah saat ia melibatkan partisipasi para pendengarnya untuk menyumbang ide sampai footage video yang kelak dipakai memperkuat materi-materi di albumnya lewat media sosial.

Dari situ, terciptalah interaksi yang cukup kuat antara mereka. Album Baskara tak hanya berbicara soal dirinya, tapi juga tentang pengalaman orang banyak.

Demikian pula aspek materi albumnya. Kekuatan album Menari Dengan Bayangan terletak pada cara Baskara mengolah tema-tema yang relevan dengan kehidupan anak-anak muda kiwari. Ia menyanyikan kegelisahan para pendengarnya seraya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Melalui Menari Dengan Bayangan, Baskara bicara tentang banyak hal. Mulai dari perkara polarisasi politik yang termanifestasi lewat rivalitas Cebong-Kampret, bahaya media sosial, toxic society, hingga patah hati permanen. Semua lagu dikemas sesederhana mungkin dan berusaha keras untuk tak terjebak klise.

Tentu, di saat bersamaan, Baskara juga merayakan optimisme, mimpi yang harus senantiasa dirawat, serta ingatan yang tak boleh tergilas oleh waktu. Nomor-nomor seperti “Secukupnya”, “Apapun yang Terjadi”, sampai “Evaluasi” menggambarkan pesan tersebut dengan baik.


Baskara seolah berperan sebagai juru kampanye bagi anak-anak muda masa kini, dengan segala problematika yang tengah atau akan dihadapi.

Peran semacam ini juga diembannya ketika sedang bersama .Feast. Dengan .Feast, Baskara mengobarkan ajakan untuk concern terhadap isu-isu politis, dari Aksi Kamisan, Reformasi Dikorupsi, hingga kasus-kasus pelecehan seksual. Lagu “Peradaban,” yang ada di album Beberapa Orang Memaafkan (2018), dan lagu-lagu dalam Multiverses (2017), merupakan contoh terbaiknya.

Apa yang dilakukan Baskara patut diapresiasi. Berkat lagu-lagunya, anak-anak muda tak lagi berjarak dengan politik. Ia juga berhasil membuktikan bahwa pendidikan politik bisa dilakukan dengan medium apa saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Perbincangan tentang politik pun seketika menjadi aktivitas sehari-hari.

Sayangnya, keunggulan tersebut tak dibarengi dengan materi musik yang bernas. Hindia, dalam Menari Dengan Bayangan, tidak punya pijakan bermusik yang tegas dan tak jelas mau ke mana arahnya. Pop? Rock? Folk? Atau sekadar membeo bunyi-bunyian elektronik dari laptop?

Keseluruhan lagu dalam Menari Dengan Bayangan banyak menabrakkan elemen-elemen rock, pop, dan elektronik secara serampangan. Jika hasilnya pas, tentu saya tak akan protes. Masalahnya, alih-alih pas, komposisi yang ada justru malah berantakan. Perpindahan antar kord terasa tak mulus ("Secukupnya"), kombinasi nada yang muncul pun juga seringkali tak sinkron ("Mata Air" dan "Evaluasi").

Kecenderungan ini nampaknya sudah muncul sejak .Feast. Band itu terlihat kebingungan menentukan arah kreatifnya. Mereka berupaya tampil rumit dengan memasukkan banyak elemen ke dalam pondasi yang diusung: rock. Walhasil, elemen-elemen yang disertakan tak mendapatkan titik temu untuk bersatu. Rock berjalan sendiri, begitu pula dengan warna yang lainnya. Gambaran jelasnya ada di nomor "Peradaban."

Di luar urusan kegagapan dalam musikalitas, satu hal yang cukup mengganggu dari semesta kreasi seorang Baskara adalah caranya bernyanyi. Di setiap lagunya, Baskara seolah tengah bergumam tak jelas. Tak ada yang salah dengan itu. Musisi yang bernyanyi seperti tanpa niat untuk bernyanyi juga banyak ditemui. Lihat Astrud Gilberto atau Elizabeth Fraser dari dedengkot dream pop Cocteau Twins.

Persoalannya, karakter vokal Astrud atau Fraser cocok dengan musik yang dibawa. Astrud dalam bingkai bossanova yang sendu-melankolis, sementara Fraser berada pada spektrum shoegaze yang mengajak orang bermalas-malas ria.

Itu yang tidak ditemui dari Baskara. Sejak awal, Baskara menyusun lagu dan musik untuk pesan-pesan kebaikan. Mendorong orang untuk terus menatap ke depan, meyakini bahwa "banyak yang sayang sama elo" atau "elo pasti akan bahagia." Lagu-lagu yang sengaja diciptakan untuk membantu para pendengarnya terus memupuk keyakinan. Masalahnya, dapatkah harapan baik tersebut tersebar jika cara menyanyinya saja justru terdengar seperti tak yakin dengan harapan baik?

Penyanyi yang baik tahu kapan mesti berimprovisasi dan kapan mesti menyesuaikan vokalnya dengan musik. Tak semuanya bisa diperlakukan sama rata dengan nada-nada yang datar sebagaimana yang dilakukan Baskara di lagu-lagu Menari Dengan Bayangan—dan juga lagu-lagu milik .Feast.

Saya mengakui bahwa Baskara, entah dalam entitas Hindia atau .Feast, cakap menjual musiknya. Di tengah gempuran budaya digital, ia bisa beradaptasi dengan baik. Ia paham pasar. Di tangannya, media sosial jadi alat promosi yang kreatif sekaligus efektif dan efisien.

Di samping itu, Baskara juga konsisten mengangkat dan menyebarkan topik-topik yang relevan di kalangan generasi masa kini. Politik, kegelisahan sehari-hari, hingga hal-hal tabu namun harus dibicarakan seperti pelecehan seksual ia garap sedemikian rupa dengan tujuan memastikan bahwa "kalian tak sendirian."

Namun, bagaimana jadinya bila produk yang dihasilkan ternyata tak sedahsyat promosinya?

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight