Menuju konten utama
Byte

Lewat Meme dan AI Slop, Iran Bombardir AS di Dunia Maya

Konflik AS-Israel dan Iran tak hanya berlangsung berdarah-darah di palagan, tetapi juga di dunia maya. Kedua pihak saling berebut kontrol narasi publik.

Lewat Meme dan AI Slop, Iran Bombardir AS di Dunia Maya
Sebuah animasi yang dihasilkan oleh AI pria Iran memanggang pesawat AS di atas api unggun. FOTO/Gemini AI

tirto.id - Tahunnya adalah 2027, ketika Uni Emirat Arab telah jadi puing-puing. Burj Khalifa memang masih berdiri menjulang, tetapi bangunan-bangunan di sekelilingnya telah ambruk tak berbentuk. Wilayah yang sebelumnya ramai dipadati turis dan orang-orang pencari suaka pajak itu sunyi senyap.

Di tengah itu semua, tampak seorang pria berambut pirang duduk bersila dikelilingi empat pria Asia Barat. Mereka terlihat berada di sebuah tenda. Tak ada listrik. Tak ada komputer. Dengan wajah muram, kelima orang itu duduk menghadap selembar peta, diterangi petromaks.

Kemudian, memori pria berambut pirang itu kembali ke setahun sebelumnya, ketika ia tengah memimpin sebuah rapat militer di Pentagon. Kala itu, senyumnya masih lebar, meski wajah keempat penasihat militernya sudah terlihat tidak bersemangat.

Seakan-akan, keempat penasihat tersebut sudah tahu konsekuensi seperti apa yang akan terjadi jika rencana yang ada di depan mereka, "Attack on Iranian Infrastructure", benar-benar dieksekusi. Para penasihat itu pun terus menentang rencana si pria berambut pirang, hingga akhirnya memilih keluar ruangan. Mereka tidak mau ambil bagian dalam rencana berisiko tersebut.

Namun, sepeninggal keempat penasihat militer itu, datanglah empat sosok asal Asia Barat. Pada akhirnya, misi menyerang infrastruktur Iran pun menjadi kenyataan.

Awalnya, Iran memang terkejut dan sempat kalang kabut. Berbagai fasilitas milik mereka, mulai dari pusat industri baja, jembatan, sampai pembangkit listrik, hancur dihantam rudal pesawat tempur. Serangan itu membuat kota-kota di Iran gelap gulita hingga lumpuh total. Menyikapi itu, para pemimpin Iran pun sepakat menekan tombol yang bakal membuat musuh-musuhnya "Kembali ke Zaman Batu".

Tombol itu mengaktifkan seluruh sistem ofensif Iran. Rudal, drone, dan roket, semua dikerahkan untuk menghantam fasilitas-fasilitas penting milik musuh, mulai dari Pembangkit Listrik Orot Rabin di Israel, Pelabuhan Jebel Ali di Uni Emirat Arab, Bandara Ben Gurion di Israel, Kantor Oracle di Uni Emirat Arab, sampai Penyulingan Minyak Al Ruwais di Uni Emirat Arab.

Konsekuensinya panjang. Krisis energi melanda dunia. Orang AS kembali menunggang kuda. Orang Inggris menggigil kedinginan. Balap F1 di Bahrain diikuti oleh unta. Stadion Losail di Qatar jadi tempat mencari pakan ternak. Tak sampai di situ, rakyat di berbagai negara pun mulai mengamuk dan menuntut agar aliansi AS-Arab dihentikan. Para pemimpin yang ikut serta menyerang Iran ramai-ramai dieksekusi.

Rangkaian peristiwa itu, syukurnya, tidak benar-benar terjadi. Semua itu hanyalah mimpi buruk dari si pria berambut pirang yang, tak lain, adalah Donald Trump, Presiden AS. Setelah melihat akhir mengerikan dari kenekatannya menyerang Iran, Trump yang mandi keringat pun bangun dari tidurnya dan segera menerima tuntutan gencatan senjata yang diajukan oleh Iran.

Lego Trump

Prompt Gemini AI Foto Lego Trump. FOTO/Gemini AI

Skenario di atas merupakan jalan cerita dari video berdurasi tiga menit yang diunggah oleh akun X bernama Explosive Media. Dalam bionya, tertulis deskripsi bahwa mereka adalah, "tim animasi bergaya Lego dari Iran yang cepat, instan, dan eksplosif."

Dalam unggahan video sebagaimana diceritakan di atas, mereka turut mencantumkan takarir: "Cara untuk menghancurkan imperialisme telah ditunjukkan kepada dunia. Trump menyerah. IRAN MENANG. TACO akan selamanya menjadi TACO."

TACO tidak merujuk pada makanan Meksiko yang populer, melainkan ejekan yang belakangan disematkan kubu Iran untuk Trump. TACO, dalam konteks ini, merupakan singkatan dari Trump Always Chickened Out 'Trump Selalu Jadi Pengecut'. Ejekan tersebut juga bermakna ganda karena sekaligus merupakan hinaan pada fisik Trump, yang kelebihan berat badan karena doyan makan makanan cepat saji.

Semua informasi di atas penting untuk diketahui karena demikianlah, kurang lebih, gambaran konflik Iran dan AS-Israel. Peperangan tidak cuma terjadi di dunia nyata lewat pelor, misil, dan mortir, tetapi juga di dunia maya, melalui meme dan video AI slop.

Serangan via meme dilakukan oleh kedua pihak. Bahkan, akun resmi Gedung Putih saja mengunggah sebuah video meme sebagai bentuk propaganda. Begitu pula sejumlah pejabat teras Iran.

Perang meme di era konflik AS-Israel dan Iran sebenarnya merupakan evolusi dari propaganda perang yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Hanya saja, kini ia bergerak dengan kecepatan algoritmik dalam kemasan budaya pop yang familiar bagi generasi muda.

Kelompok di balik Explosive Media menyebut dirinya bekerja independen. Namun, Mahsa Alimardani, direktur sebuah kelompok hak asasi manusia yang bekerja di bidang bukti video AI, WITNESS, menyatakan bahwa tingkat kecanggihan animasi serta kemampuan mengakses internet untuk mengunggahnya mengindikasikan adanya hubungan pemerintah Iran.

"Jika Anda memiliki bandwidth yang dibutuhkan untuk menghasilkan konten seperti itu dan mengunggahnya, Anda secara resmi atau tidak resmi bekerja sama dengan rezim," katanya.

Kecurigaan itu diperkuat oleh satu fakta sederhana. Sebagian besar rakyat Iran tidak bisa menggunakan internet karena adanya pemblokiran internet secara nasional. Di tengah blackout itu, Explosive Media terus memproduksi dan mengunggah konten berkualitas tinggi tanpa gangguan.

Mr. Explosive, saat diwawancarai oleh BBC, mengakui bahwa pemerintah Iran memang merupakan "pelanggan" dari perusahaannya. Pihaknya sudah sering mendapatkan pesanan dari sejumlah pejabat untuk proyek-proyek tertentu. Bahkan, dia bisa berkomunikasi dengan BBC pun menggunakan "internet jurnalis" yang diberikan oleh pemerintah Iran

Lantas, mengapa gaya Lego yang dipilih? Menurut Dan Butler, profesor ilmu politik di Washington University di St. Louis, daya tarik universal Lego adalah alasannya. Jika ada konten yang mengandung kekerasan, penggunaan Lego bisa membuat orang menurunkan kewaspadaan dan lebih bersedia untuk membagikan konten tersebut. Explosive Media mengaku menggunakan gaya Lego, "karena itu adalah bahasa dunia."

Hasilnya luar biasa. Video-video propaganda buatan AI itu diperkirakan telah ditonton ratusan juta kali sepanjang berlangsungnya perang. Konten-kontennya beredar di X dan Instagram, dan disebarkan ulang oleh akun-akun media negara Iran dan Rusia kepada jutaan pengikut mereka

Bagaimana Meme Propaganda Menginvasi Otak Kita?

Yang membuat propaganda macam itu efektif bukan sekadar teknologinya, melainkan caranya membajak memori dan emosi penonton.

Meme bekerja melalui pemrosesan informasi yang cepat, asosiatif, dan didorong secara emosional. Ia langsung menyentuh emosi, loyalitas kelompok, dan respons visceral, yang memotong jalan pintas pemikiran kritis dan menggeser sikap, sebelum kita menyadari bahwa kita sedang dibujuk.

Seseorang bisa tertawa terbahak-bahak melihat Trump berbentuk Lego bermandikan keringat karena mimpi buruk, tanpa pernah menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menelan narasi propaganda geopolitik. Sebab, itulah ide dasar meme: menyelundupkan maksud tertentu melalui humor yang disebarkan secara masif.

Iran juga tahu persis hal yang harus dijadikan amunisi. Konten pro-Iran secara konsisten merujuk pada skandal Jeffrey Epstein, dengan klaim bahwa Trump melancarkan perang sebagai pengalih perhatian dari hubungannya di masa lalu dengan Epstein.

Unggahan lain menyebut Trump dimanipulasi oleh Israel atau berupaya meraup keuntungan dari kekacauan yang ditimbulkan perang. Narasi-narasi tersebut, meskipun tidak berdasar, menancap kuat karena ia menyasar luka-luka politik yang sudah ada di kalangan pemilih AS.

Nancy Snow, seorang akademisi yang telah menulis lebih dari selusin buku tentang propaganda, menyebut strategi Iran yang seperti itu tepat sasaran. "Mereka menggunakan budaya populer untuk melawan negara nomor satu dalam hal budaya populer, yaitu Amerika Serikat,” ujarnya.

Iran, dengan kata lain, menggunakan "senjata AS" untuk melawan AS.

Sementara itu, kubu AS juga tidak tinggal diam. Akun media sosial resmi Gedung Putih kerap menampilkan konten animasi, referensi budaya pop, klip olahraga, dan ikonografi AS, termasuk elang botak dan bendera.

Namun, ada perbedaan mendasar tentang cara kedua kubu berperang di arena digital. Para analis mengatakan, AS dan Israel tampaknya tidak menjalankan kampanye setara dengan yang dilakukan Iran. Mengingat pembatasan internet diterapkan Iran di dalam negeri, menyampaikan pesan semacam itu kepada rakyat biasa sangat sulit dilakukan.

Oleh karena itu, propaganda AS lebih banyak ditujukan ke dalam, menyasar rakyat mereka sendiri. Sementara itu, Iran bermain di lapangan yang jauh lebih luas, bahkan sampai menyasar warga AS yang anti-Trump.

Darren Linvill, co-director Media Forensics Hub di Clemson University, mengatakan bahwa Iran tengah unggul dalam perang propaganda. Sebaliknya, pemerintahan Trump berada dalam posisi bertahan. Peneliti lain menambahkan, IRGC telah menghabiskan bertahun-tahun membangun jaringan pengaruh digital yang mengandalkan pembuat konten berbahasa Inggris, format meme yang bergerak cepat, dan visual buatan AI yang dirancang untuk viralitas maksimal.

Nina Jankowicz, kepala eksekutif American Sunlight Project, menyimpulkannya dengan tajam. Menurutnya, Explosive Media sedang "mengalahkan pemerintahan Trump dalam permainannya sendiri," lewat humor yang kekanak-kanakan, retorika yang memecah belah, gagasan tentang mempermalukan lawan, dan strategi klik-demi-apa-pun yang dipraktikkan Trump kini berbalik menyerangnya..

Ilustrasi manipulasi media berita palsu

Ilustrasi Meme Medsos. FOTO/iStockphoto

Di balik itu semua, ada sisi gelap yang mudah terlupakan ketika seseorang asyik menggulir layar sambil tertawa.

Video-video Explosive Media bertabur ketidakakuratan faktual. Dalam satu klip, militer Iran digambarkan menangkap seorang pilot pesawat tempur AS yang ditembak jatuh, padahal pejabat AS mengonfirmasi bahwa penerbang tersebut telah diselamatkan oleh pasukan khusus pada 4 April. Akan tetapi, kenyataan itu tidak menghalangi narasi alternatif untuk menyebar jauh lebih cepat dari klarifikasi mana pun.

Psikolog media, Pamela Rutledge, memperingatkan bahwa meme-meme perang cenderung menormalisasi respons yang hipermaskulin dan militeristik. Hal itu bisa mendorong orang menerima begitu saja kebijakan yang bakal terlihat mengerikan jika disajikan dalam siaran berita serius. Perang, dalam kemasan meme, terasa seperti pertandingan, bukan bencana kemanusiaan.

Bahkan, momen gencatan senjata pun dimanfaatkan untuk mengunggah video meme.

Narasi yang dituliskan pada awal artikel ini merupakan jalan cerita dari video yang diunggah setelah gencatan senjata. Isinya tentu saja propagandis dan jauh dari kata akurat seratus persen.

Namun, poin propaganda memang tidak untuk mengabarkan kebenaran, melainkan untuk mengarahkan pemirsanya pada suatu jalan cerita yang pada akhirnya bakal menguntungkan satu pihak. Dan Iran sejauh ini unggul telak.

Baca juga artikel terkait IRAN-AS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin