Menuju konten utama

Let's Talk Cloud 2025: Asia Tenggara Jadi Tempat Strategis AI

Acara dua hari ini akhirnya meninggalkan kesan jelas: Asia Tenggara sedang jadi panggung uji coba masa depan AI.

Let's Talk Cloud 2025: Asia Tenggara Jadi Tempat Strategis AI
Francis deSouza, Chief Operating Officer, Google Cloud. Foto/ Nanda Saputri
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Google Cloud menggelar acara Let’s Talk Cloud 2025 di Singapura pada 27-28 Agustus. Acara ini menyoroti Asia Tenggara sebagai tempat strategis untuk masa depan AI.

Acara tersebut memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) membawa pengaruh di beberapa sektor industri, mulai dari hospitality, retail, hingga layanan publik. Lewat acara ini, Google Cloud mengajak peserta untuk melihat AI dalam bentuk implementasi yang lebih konkret.

Pesan itu makin tegas dengan hadirnya Thomas Kurian, CEO Google Cloud, dan Josephine Teo, Menteri Digital Development dan Informasi Singapura. Mereka menekankan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan fondasi transformasi digital yang harus dijalankan dengan aman dan memperhatikan kedaulatan data.

Asia Tenggara Sebagai Laboratorium AI

Singapura menjadi panggung uji coba AI karena infrastruktur digitalnya yang matang. Sementara itu, negara tetangga bisa memanfaatkan momentum ini dengan modal digital native-nya yang besar.

Pertanyaannya, bisakah Indonesia dan negara lain melompati tahap pembangunan digital dan langsung mengadopsi teknologi AI yang matang?

Google Cloud mencoba menjawab keraguan itu lewat berbagai demonstrasi. Mulai dari sistem pencarian di e0commerce yang paham bahasa sehari-hari, SOP hotel yang dibuat otomatis dari video training, hingga supermarket masa depan dengan troli pintar.

Setiap demonstrasi menunjukkan bahwa AI sudah masuk ke kehidupan sehari-hari dan keluar dari laboratorium.

Bukan hanya demonstrasi inovasi, di acara ini Google Cloud juga memperkenalkan Veo 3 pada Vertex AI dan Google Agentspace. Kedua platform ini menandai strategi baru Google Cloud untuk membuat AI lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan, tapi juga menjamin keamanan dan etika dalam penggunaannya.

Untuk memastikan inovasinya membawa dampak positif, Google Cloud melakukan kolaborasi strategis sebagai pilar utama. Google Cloud bekerja sama dengan berbagai pemain besar, seperti GovTech Singapura, DBS, dan FairPrice Group.

Kerja sama mereka bukan lagi sekadar berinvestasi pada algoritma canggih, tetapi juga memberi kesan bahwa AI juga tentang tata kelola yang baik, membangun kepercayaan publik, dan yang terpenting keberanian untuk merombak cara kerja lama demi efisiensi dan inovasi.

Selain itu, ada sesi khusus tentang keamanan siber di era AI. Di sini, peserta diingatkan bahwa peluang besar AI datang bersama tantangan serius, terutama soal privasi dan perlindungan data.

“Keamanan, kepatuan, dan kedaulatan data adalah prioritas utama Google. Dan Google telah berinvestasi dalam teknologi untuk menyimpan data secara lokal dan melindunginya dengan fitur keamanan yang kuat,” kata Francis deSouza, Chief Operating Officer, Google Cloud.

Acara dua hari ini akhirnya meninggalkan kesan jelas: Asia Tenggara sedang jadi panggung uji coba masa depan AI. Pertanyaannya tinggal satu: apakah negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, siap untuk jadi pemain utama, alih-alih penonton dalam era transformasi digital ini?

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan lainnya dari Nanda Saputri

tirto.id - Byte
Penulis: Nanda Saputri
Editor: Nuran Wibisono