tirto.id - The Blue Marble, foto Bumi yang diambil oleh salah satu astronot Apollo 17 pada 7 Desember 1972, memperlihatkan citra planet kita yang seakan bulat sempurna seperti kelereng. Foto yang diambil dari jarak 29.400 kilometer dari permukaan bumi ini jadi salah satu foto yang paling banyak dibagikan sepanjang sejarah.
Citra visual inilah yang membuat kesan puluhan tahun bahwa planet rumah kita tinggal ini berbentuk bola tanpa cela. Padahal, foto ikonik tersebut hanyalah sebuah keterbatasan visual akibat jarak pandang dari luar angkasa. Ketika didekati dan diukur lewat medan gravitasinya, bentuk asli Bumi ternyata tidaklah bulat sempurna. Planet ini penuh tonjolan dan lekukan yang menyerupai sebongkah kentang.
Pada Juli 2026, badan penelitian luar angkasa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA), merilis penampakan bentuk Bumi yang penuh tonjolan dan lekukan tersebut, disusun dari data satelit dalam satu dekade terakhir.. Secara ilmiah, bentuk tersebut dikenal sebagai "Geoid".

Miskonsepsi Kita tentang Bentuk Asli Bumi
Tidak sedikit orang yang menganggap bentuk asli Bumi bulat sempurna menyerupai globe dunia. Namun, menurut Reiner Rummel, selaku Ketua Dewan Penasihat Misi GOCE (GOCE Mission Advisory Group) dari European Space Agency (ESA) kepada Space, faktanya tidak demikian.
"Jika Bumi berupa bulat sempurna dan kepadatannya konstan, maka gravitasi akan sama di setiap tempat," papar Rummel.
Kenyataannya, gaya gravitasi di berbagai titik permukaan bumi tidak teratur. Tarikan di sebuah tempat bisa saja lebih kuat atau lebih lemah dibandingkan tempat lain karena variasi struktur internal dan material planet kita. Kerak berbatu yang menyusun benua memiliki ketebalan sampai 32 kilometer, sedang kerak di bawah samudra jauh lebih tipis dengan rentangan 10 kilometer saja. Selain itu, sebagian wilayah planet kita mengandung material yang lebih ringan, sedangkan lokasi lain tersusun dari material yang lebih berat.
Jauh sebelum kesimpulan bahwa bentuk bumi adalah geoid, pemahaman umat manusia bahwa planet kita berbentuk lengkung sudah merentang dalam sejarah. Filsuf Yunani abad ke-5 SM seperti Pythagoras dan Plato, sudah membahas konsep awal soal bentuk melengkung bumi ini. Hal tersebut dilanjutkan oleh Eratosthenes yang menghitung keliling bumi pada abad ke-3 SM.
Bukti empiris soal bulatnya Bumi baru terungkap melalui ekspedisi penjelajahan dunia oleh Ferdinand Magellan dan Juan Sebastián Elcano pada 1519 hingga 1522.
Belakangan, riset yang dipelopori Isaac Newton dan Christian Huygens menyimpulkan bahwa rotasi planet menyebabkan Bumi mengalami pempatan di kutub dan penggembungan di ekuator. Alhasil, bentuknya lebih tepat disebut sebagai sferoid oblate atau elipsoid. Seiring dengan pemetaan bentuk bumi pada era satelit luar angkasa, lahirlah konsep model planet kita yang geoid berlekuk-lekuk.

Geoid, Ketika Gravitasi Menentukan "Wajah" Planet
Merujuk paparan National Geographic, geoid merupakan model permukaan imajiner yang bentuknya tidak beraturan. Model ini merepresentasikan gambaran permukaan laut global yang bergelombang. Jika seluruh lautan di dunia ditarik secara imajiner menembus daratan tanpa terpengaruh angin atau pasang surut, permukaannya ternyata naik-turun dan berlekuk-lekuk akibat perbedaan tarikan gravitasi.
Jika Bumi ini berbentuk bola geometris yang sempurna, tidak ada lekukan atau tonjolan, perhitungan jarak maupun kedalaman objek tentu akan menjadi sangat mudah. Namun, karena variasi massa di dalam perut Bumi membuat kekuatan gravitasi di setiap wilayah berbeda-beda, bentuk geoid akhirnya tercipta dalam wujud yang tidak rata tersebut.
Peta geoid ini memegang fungsi yang sangat vital bagi sains. Dengan memadukan data geoid bersama ilmu seismologi dan magnetisme, para periset bisa mengintip rahasia isi perut Bumi.
Lantas, bagaimana NASA dan rangkaian satelit modern memetakan kerutan di permukaan Bumi ini?
Visualisasi "wajah" asli planet kita dibangun berdasarkan data geoid yang direkam oleh satelit-satelit khusus. Pada 2009, ESA meluncurkan satelit GOCE ke orbit polar yang sangat rendah.
GOCE menggunakan orbitnya sendiri sebagai alat ukur. Ketika satelit melintasi bentukan masif seperti pegunungan, tarikan gravitasi lokal dari daratan tersebut akan sedikit menarik posisi satelit ke arahnya. Penyimpangan kecil pada orbitnya dapat dianalisis secara presisi untuk memetakan anomali gravitasi beresolusi tinggi.
Kendati demikian, GOCE hanya menghasilkan potret sesaat. Untuk melengkapinya, NASA menjalankan misi Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) yang mampu merekam perubahan gravitasi jangka panjang. Gabungan pemantauan berkala inilah yang digunakan NASA untuk merilis model 3D terbaru bentuk Bumi yang berkerut-kerut menyerupai kentang.
Meski tampilannya tampak ekstrem, NASA menegaskan bahwa model tiga dimensi tersebut bukanlah potret fisik permukaan daratan yang bisa disaksikan dengan mata telanjang. Bentuk "kentang" atau "tanah liat yang diremas-remas" dari bumi tersebut adalah representasi ilmiah dari medan gravitasi planet kita.
Di balik keindahan "kelereng biru" yang tampak tenang dari angkasa luar, Bumi memiliki bentuk yang "tidak sempurna". Namun, justru dari ketidaksempurnaan gravitasinya itulah, kita bisa memahami bagaimana planet ini bergejolak, bergeser, dan menjaga kehidupannya tetap berjalan.
Jika Anda tertarik mengetahui informasi seputar Antariksa dari Tirto.id, klik tautan ini. Terdapat pula berbagai artikel hiburan menarik lainnya, seperti film, drama, serial televisi, hinga Kpop.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


































