Langgar Tinggi Pekojan: Berawal dari Pendatang Moor dan Arab

Oleh: Irfan Teguh - 13 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Di Jakarta terdapat sejumlah tempat ibadah peninggalan abad-abad lampau, salah satunya Langgar Tinggi di Pekojan. Mulanya kampung ini dihuni oleh orang-orang Muslim India, kemudian digantikan oleh orang-orang Arab yang mendirikan langgar tersebut.
tirto.id - Langgar Tinggi terletak di daerah Pekojan, Jakarta Barat. Arti kata “langgar” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, adalah “masjid kecil tempat mengaji atau bersalat, tetapi tidak digunakan untuk salat Jumat”.

Belakangan, orang-orang menyebutnya Masjid Langgar Tinggi. Artinya ada penumpukan makna sekaligus kontradiktif, sebab kata “masjid” menurut KBBI berarti “rumah atau bangunan tempat ibadah orang Islam: setiap Jumat dilakukan salat bersama”.

Di luar hal tersebut, Langgar Tinggi merupakan salah satu bangunan ibadah yang usianya tua di wilayah Jakarta, dan sampai saat ini masih berfungsi dengan baik.

Pekojan, kampung tempat langgar ini berada, berasal dari kata “Koja” atau menurut catatan Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir dalam “Langgar Tinggi di Kampung Pekojan, Jakarta” yang terbuhul dalam Sastra dan Sejarah Indonesia: Tiga Belas Karangan (2018) berasal dari kata “Khoja”, yaitu Muslimin asal India, terutama orang Bangli atau Bengali.

Sementara menurut Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2012), Koja adalah orang-orang Moor, yakni orang Muslim India Barat yang kebanyakan berasal dari pelabuhan Surat yang ramai di Gujarat, tempat Belanda memiliki sebuah pos di sana.

Pada awalnya, orang-orang inilah yang menetap di Pekojan untuk berdagang. Namun, saat India ditaklukkan oleh Inggris, perdagangan mereka berkurang dan komunitasnya semakin mengecil. Mereka yang masih tersisa memutuskan berjualan sutra di Pasar baru, salah satu pusat komersial di dekat Weltevreden atau sekarang dikenal sebagai daerah Gambir dan sekitarnya.

Pekojan kemudian dihuni oleh orang Arab dari Hadramaut atau Yaman yang datang sekitar awal abad ke-19. Blackburn menambahkan, meskipun pada mulanya orang Arab yang tinggal di Batavia hanya sekitar beberapa ratus orang, tapi kehadiran mereka sangat terasa.

“[…] terdapat sejumlah syekh dan sayid di kalangan mereka, karena itulah orang Indonesia sangat menghargai mereka sebagai pemuka agama di Batavia,” tulisnya.


Wakaf Saudagar Arab asal Palembang

Langgar Tinggi terletak di terletak di sebelah selatan Jalan Pekojan, yaitu antara Jalan Pekojan dan Kali Angke, membujur barat-timur, sejajar dengan jalan dan kali. Menurut Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004), pendirinya adalah seorang kapiten Arab bernama Syaikh Said Naum.

Said Naum, imbuh Shahab, juga mempunyai armada kapal dan mewakafkan sebidang tanah yang luas untuk dijadikan pekuburan umum di Tanah Abang. Lahan pekuburan tersebut kemudian dijadikan rumah susun oleh Gubernur Jakarta, Ali Sadikin.

Keterangan berbeda disampaikan oleh Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir. Berdasarkan wawancaranya dengan Abdurrahman al-Jufri—pengurus masjid An-Nawir, yakni masjid besar Jalan Pekojan--Said Naum hanya mengelola harta seorang ahli waris dari sebuah keluarga Arab kaya dari Pelembang, yaitu Syarifah Mas’ad Babrik Ba’alwi.

Syarifah ini yang mewakafkan dua bidang tanahnya di Batavia. Pertama di Tanah Abang yang dijadikan pekuburan Muslim, dan yang kedua di Pekojan yang kemudian di atasnya dibangun Langgar Tinggi.

“Makam nyonya yang murah hati tersebut kini kiranya terletak di luar masjid An-Nawir, berupa makam bercungkup yang baru-baru ini dipugar dan yang nisannya berupa batu asli yang tidak tertulis,” terang mereka.

Keberadaan orang-orang Arab asal Hadramaut yang menggantikan orang-orang Moor di Pekojan, sering menggunakan Langgar Tinggi untuk sekadar berkumpul dan melaksanakan salat. Langgar ini sebagaimana namanya, lantai atasnya dijadikan tempat salat, sementara lantai bawah ditempati sejumlah keluarga untuk tinggal dan berdagang.

“Terdapat di situ sebuah masjid Arab yang cukup luas, yang diurus oleh seorang ulama bangsa mereka yang juga berlaku sebagai guru agama. Sebuah ruang di tingkat bawah khusus digunakan untuk itu. Bangunan itu dinamakan langgar dan berupa wakaf dengan modal yang cukup besar,” tulis L.W.C. van den Berg berjudul Le Hadramout et les colonies arabes de l’Archipel Indien seperti dikutip Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir.

Ia juga menambahkan, langgar tersebut tidak dipakai untuk salat Jumat, sehingga orang-orang Arab melaksanakan salat Jumat di masjid besar pribumi yang letaknya tidak jauh dari Langgar Tinggi yang dinamakan Zawiah.

Pada papan yang terpasang di atas sebuah pintu langgar, tertulis titimangsa pendiriannya, yakni pada tahun 1249 H/1829 M. Namun, padanan tahun masehi itu keliru, mestinya tahun 1833.

Titimangsa lain terdapat pada prasasti yang terukir di bagian atas mimbar yang terbuat dari kayu yang indah yang terukir dengan halus dan tertutup cat lak Palembang.

Prasasti berbahasa Arab pada minbar tersebut berisi permohonan rahmat kepada Allah atas Syeikh Sa’id bin Salim Na’um, yang pernah menghadiahkan mimbarnya pada bulan Rajab 1275 H/Februari 1859 M.




Infografik Masjid Langgar tinggi Pekojan
Infografik Masjid Langgar tinggi Pekojan. tirto.id/Quita


Gaya Arsitektur dan Keriaan di Langgar Tinggi

Langgar Tinggi di Pekojan dibangun dengan gaya arsitektur campuran, di antaranya unsur gaya Eropa, Tiongkok, Jawa, dan India. Menurut catatan Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir, gaya Eropa meliputi pilar batu, anjung masuk, dan kasau tengah pada kuda-kuda kerangka atap.

Sementara penyangga luar untuk menyandarkan rangka balok-balok luar menyerap unsur Tiongkok. Dan balok-nalok rangka payung di sudut-sudut, juga usuk penerus di sisi barat menggunakan unsur Jawa.

“Pendampingan beberapa unsur Eropa dan Tionghoa di atas dasar Jawa asli yang telah menyerapkan sebuah unsur India merupakan tanda khas arsitektur Jawa pada abad ke-19. Campuran gaya serupa, meskipun lain peran masing-masing unsurnya, ditemukan baik di Jakarta maupun di Cirebon dan Pasuruan,” tulis mereka.

Kali Angke tempo dulu seperti ditulis Windoro Adi dalam Kompas edisi 31 Mei 2007, merupakan jalur pengangkutan barang niaga dan hasil bumi dari Tangerang dengan menyusuri Sungai Cisadane menuju pusat kota lama. Barang-barang tersebut di antaranya bahan bangunan, kain, rempah-rempah, duren, nangka, dan kelapa.

“Sebelum masuk kota, perahu dan rakit-rakit itu biasanya sandar di belakang langgar,” tulis Adi.

Berdasarkan wawancaranya dengan Ahmad Assegaff, warga Pekojan keturunan Arab, dulu Langgar Tinggi semarak dengan pelbagai keriaan. Setidaknya ada empat pesta tahunan yang diselenggarakan di sana, yakni khitanan bagi anak yatim piatu, mauludan (kelahiran nabi Muhaammad), mikrajan (isra mi’raj), dan khatam Alquran.

Saat pesta khitanan tiba, warga sekitar Pekojan, yakni dari etnik Jawa, Bali, dan Tionghoa, baik Muslim maupun non-Muslim, urunan mengumpulkan bantuan untuk ikut membiayai acara tersebut.

Sementara ketika mauludan dan mikrajan digelar, pelbagai hiasan dan makanan disajikan untuk memeriahkannya. Panggung yang didirikan di depan langgar dihias dengan janur, bunga kertas, dan lampion.

“Lampu lampionnya minyak kelapa bercampur minyak tanah. Kaum lelakinya memakai sarung madraz—sarung kotak-kotak warna coklat cerah—berkopiah, dan baju koko putih. Alas kakinya terompah,” kenang Assegaff sebagaimana dikutip Windoro Adi.

Sejumlah makanan yang dihidangkan antara lain nasi ulam, tempe goreng, emping, sayur semur dengan ikan bandeng pesmol, dan bandeng acar kuning.

Dan pada keriaan khatam Alquran, hidangan yang disajikan berupa bubur gandum surba bumbu gulai dengan tebaran daging kambing, kurma, rambutan, nangka, duren, dan mangga.

Pesta khatam Alquran di Langgar Tinggi merupakan pembacaan Alquran oleh anak-anak yang biasanya berlangsung selama dua jam. Setelah itu dilaksanakan salat Isya, lalu salawatan, kasidahan, dan pelbagai rangkaian acara lainnya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH ISLAM atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nuran Wibisono