tirto.id - Viral di China skandal emas digital yang menghebohkan Shenzhen, China bagian Tenggara. Perusahaan investasi emas digital tersebut gagal bayar ketika investor berniat untuk mencairkan dananya. Total dana tertahan diprediksi mencapai Rp32 triliun dana tersebut.
Kekacauan di Shenzhen terjadi ketika ratusan investor mendatangi langsung kantor Jie Wo Rui, perusahaan investasi emas digital di China, untuk menuntut pencairan dana dan emas yang mereka investasikan, seperti dilaporkan Bloomberg.
Kronologi Emas Digital China, 32 Triliun Dibekukan
Dalam lonjakan minat terhadap emas karena tren harganya yang naik, ratusan platform investasi kecil dan menengah di China, termasuk Jie Wo Rui, berperan besar dengan memanfaatkan euforia pasar.
Perusahaan-perusahaan ini memasarkan produk investasi emas digital melalui platform online dan media sosial. Mereka sering kali menyertakan janji keuntungan cepat yang menarik minat investor ritel biasa yang minim pengalaman investasi.
Arus masuk dana yang besar membuat bisnis mereka berkembang pesat dalam waktu singkat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, banyak platform tidak memiliki kesiapan likuiditas yang memadai.
Ketika para investor secara bersamaan mencoba menarik dana dan emas mereka, perusahaan-perusahaan ini kesulitan memenuhi kewajiban, sehingga memicu masalah serius dan kepanikan di kalangan investor.
Perusahaan Jie Wo Rui dikabarkan tidak mampu memenuhi permintaan pencairan dana secara penuh, sehingga memicu kepanikan dan kemarahan para investor mulai 20 Januari 2026.
Para investor yang merasa jika ada yang tidak beres dalam investasi emas digital milik mereka, langsung mendatangi kantor Jie Wo Rui untuk melakukan penarikan dana langsung atau meminta penjelasan dari pihak terkait.
Banyak di antara mereka datang dari berbagai kota di China, bahkan membawa anak dan anggota keluarga, yang menunjukkan betapa serius dan mendesaknya situasi tersebut bagi para investor.
Ketegangan pun meningkat hingga berujung pada kericuhan dan bentrokan kecil dengan aparat kepolisian.
Muncul dugaan hal ini dipicu karena adanya masalah serius di internal perusahaan. Selain dana investor yang dilaporkan tidak dapat ditarik, akun media sosial perusahaan secara tiba-tiba juga dihapus dan pihak manajemen tidak memberikan respons terhadap panggilan media.
Selain itu, pemilik perusahaan juga sulit dihubungi, sehingga menambah kekhawatiran publik. Kondisi ini juga memicu dugaan bahwa dana investor kemungkinan telah diputar ulang untuk menutup kewajiban lain, atau bahwa sebenarnya aset emas yang seharusnya ada bentuk fisiknya, tidak sepenuhnya tersedia sebagaimana dijanjikan.
Respons Pemerintah China terhadap Skandal Emas Digital
Skandal emas digital tersebut segera menarik perhatian pemerintah setempat. Pemerintah distrik Luohu di Shenzhen membentuk satuan tugas khusus untuk menangani kasus ini dengan mengawasi langsung operasional perusahaan, memeriksa klaim para investor, serta menelusuri keberadaan dan kecukupan aset yang dimiliki.
Pemerintah juga berupaya memfasilitasi proses pengembalian dana kepada investor. Meskipun manajemen perusahaan dilaporkan masih berada di tempat dan berkomunikasi dengan para investor.
Dikutip dari The Standard Hong Kong, total dana yang tertahan mencapai 13,4 miliar yuan atau sekitar Rp32 triliun.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































