tirto.id - Tim Ekonom Bank Mandiri memperkirakan, konsumsi rumah tangga di kuartal III 2025 hanya akan berada di kisaran 4,90 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih lambat dari laju pertumbuhan di kuartal I dan II yang masing-masing sebesar 4,95 persen dan 4,97 persen.
Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, mengatakan pelambatan ini disebabkan oleh laju konsumsi masyarakat yang kembali normal, setelah mengalami peningkatan saat momen libur Lebaran dan libur sekolah.
“Karena katalis periode libur hari raya itu itu sudah berlangsung di Q1 (kuartal I) dan Q2, kemudian tidak terlalu banyak faktor seperti long weekends yang akan ada. Juga, di Q3 mungkin pertumbuhan konsumsi akan melambat sedikit ke arah 4,9 persen,” ujarnya dalam Mandiri Economic Outlook Q3 2025, secara daring, Kamis (28/8/2025).
Dengan pertumbuhan tersebut, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di kuartal depan juga diperkirakan tidak akan banyak bergeser, yakni masih di kisaran 54 persen. Sementara, pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih akan ditopang oleh stimulus yang diguyur pemerintah kepada masyarakat sejak kuartal II 2025.
“jadi, perlambatannya juga tipis. Mungkin ada di kisaran 4,90 persen,” tambah Dian.
Seiring dengan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi kontributor terbesar dari PDB, ekonomi Indonesia diperkirakan akan Tumbuh di kisaran 4,9-5,0 persen di akhir September nanti.
Meski begitu, Tim Ekonom Bank Mandiri memproyeksikan realisasi penyaluran kredit di sepanjang 2025 hanya akan tumbuh sebesar 8,75 persen (yoy), jauh lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan mampu tumbuh di level 10,47 persen.
Menurut Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, pemangkasan proyeksi dilakukan pasca Mandiri melihat realisasi penyaluran kredit hingga Juli 2025 yang baru mencapai 2,7 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd).
“Jauh di bawah tren historis. Jadi, ini polanya memang kalau teman-teman lihat, antara pertumbuhan kredit year to date dan DPK (Dana Pihak Ketiga) di tahun ini dan tahun yang lalu, itu agak berbalik nih. Kalau tahun lalu, performance year to date itu kredit mencatatkan performance one of the best in the last six years, sementara DPK-nya jauh di bawah,” jelas Andry.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id



































